Sahabat Banjir

ilustrasi banjir

Hujan deras mendera Jakarta dan kawasan sekitarnya  sejak tengah malam. Pagi hari, sejak pukul 2, sungai Ciliwung makin meluap. Belum lagi hujan lebat di kawasan Bogor sejak siang menambah debit air dengan hadiah kiriman dari Bogor. 

Kawasan Cipinang Melayu tempat aku mengontrak secara perlahan tapi pasti mulai tenggelam.  Penduduk mulai memindahkan barang-barang ke lantai atas atau tempat yang lebih aman. Bahkan kawasan rendah di daerah Bekasi dan Tangerang juga sudah mulai tenggelam 

Sebagian bahkan sudah mulai mengungsi.

Namun Wimbo, pemuda yang baru saja pindah dan menjadi tetangga kamar kontrakan ku tetap tertidur lelap.  Mungkin dia terlalu lelah sepulang kerja di Bandara Halim.  Aku tidak tahu apa kerja nya, katanya sih menjadi porter.  

Air makin lama makin tinggi. Aku mencoba membangunkan Wimbo, tetapi Wimbo tetap diam saja.

Baru setelah berkali-kali aku mengguncang tubuh Wimbo, dia terbangun. 

“Hi, aku Eddy, aku tetangga yang kontrak di kamar sebelah. Selamat datang di tempat kontrakan  ini”

“Tapi sudah sebulan aku tinggal di sini, belum pernah melihat Mas Eddy,” jawab Wimbo setengah heran.

“Ya, mungkin karena aku jarang pulang atau karena kita kerja dan masing-masing sibuk sendiri.


Wimbo menjabat tanganku dengan erat dan kemudian memeluk ku.. Wajahnya tampak bahagia.  Sementara air kian meninggi. 

Aku kemudian mengajak Wimbo untuk berkenalan dengan beberapa penghuni kontrakan yang lain, ada Mas Yanto yang sudah 4 tahun di sini. Dan ada juga Mas Dirham yang sudah 3 tahun.

Wimbo makin kaget karena selama ini belum pernah melihat mereka. 

Hujan makin deras dan air kian meninggi.  Bahkan seluruh kamar kos kami sudah terendam kali ini. Tetapi kami semua senang bermain air dan melihat cukup banyak pengungsi di tempat yang lebih tinggi.

Kami berempat merasa sangat bahagia bermain air.  

Aku ingat ketika tahun lalu baru pindah ke tempat kos ini. 

Saat itu musim hujan baru melanda Jakarta. Maklum sekitar Desember dan juga Januari . Aku baru saja mendapat pekerjaan di Jakarta, tepatnya di kawasan Jakarta Timur.  Karena itu memilih tinggal di kawasan dekat sungai Ciliwung ini. Walau sering banjir tetapi sewanya setiap bulan lumayan murah. 

Malam itu, aku baru pulang kerja. Tubuhku lelah sekali sehingga sehabis makan Indomie di warung tidak jauh dari kontrakan aku langsung tertidur lelap.

Ternyata hujan turun terus menerus di Jakarta sehingga mulai tengah malam air mulai meluap.  Namun aku tetap belum terbangun hingga aku merasa air mulai naik ke tempat tidur.

Ketika itu aku mencoba bangun. Tetapi tetap tidak bisa sampai akhirnya muncul Seorang lelaki berusia 25 tahunan. Dia mengguncangkan tubuhku dan kemudian aku merasa sangat ringan dan terbangun.

Lelaki itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Mas Dirham yang sudah mengaku sudah beberapa tahun tinggal di kontrakan sebelah.

Anehnya aku belum pernah melihat Mas Dirham sebelumnya.  Tetapi dia menyambut aku dengan ramah. Menjabat tanganku dan kemudian memeluk diriku erat-erat.

Aku merasa bahagia sekali. Walau air kian tinggi aku tidak merasa kedinginan. Aku kemudian diajak menemui penghuni kontrakan di sekitar seperti Mas Yanto dan Pak Ryan. 

“Selamat Datang di dunia kami,” kata Pak Ryan yang juga kemudian menjabat tangan dan memeluk diriku dengan erat.

Kami berjalan-jalan dengan riang melihat-lihat suasana banjir. Secara tidak sengaja, di sungai yang mengalir deras, aku melihat tubuhnya hanyut terbawa arus.

“Itu tubuhku, itu tubuhku,” teriakku beberapa kali.

Namun Mas Dirham, Mas Yanto dan juga Pak Ryan hanya tersenyum.  

“Biarlah tubuh-tubuh kita hanyut terbawa air, tetapi jiwa-jiwa kita abadi di tempat ini sebagai sahabat banjir.” Tambah  Pak Ryan.

“Setiap musim banjir, anggota ‘Sahabat Banjir’ akan terus bertambah. Siapa saja yang kontrak di sini akan kita jemput untuk meramaikan komunitas kita,” tambah Mas Yanto.

Dan tahun ini aku yang ditugaskan menjemput Wimbo, sebagai anggota baru di ‘Sahabat Banjir’.

Seraya kamu berjalan bersama, Wimbo juga masih sempat melihat tubuhnya hanyut terbawa arus sungai.

“Tidak usah sedih mas Wimbo, banjir berikut kamu ditugaskan untuk menjemput siapa saja yang kontrak di sini sebagai anggota baru”.

Air terus meninggi. Namun Wimbo tampak senang dan  merupakan kesedihan karena kehilangan jasad kasar nya.

23 Februari 2021

#ceritamisteri