Maaf

https://cdn.pixabay.com

Daman menatap kerumunan orang di sekitarnya dengan wajah bertanya-tanya.  Ayahnya terpekur menutupi muka.  Ibunya menciptakan danau tangisan di matanya yang teduh.  Dina, kakak perempuannya memegangi tangannya dengan wajah membadaikan mendung dan hujan.  Beberapa orang lainnya di ruangan itu kurang lebih sama.  Murung dan bersedih.

Daman berusaha menggerakkan bibir untuk menghibur mereka.  Tak satupun suara terdengar.  Daman terperanjat.  Bibirnya membantah perintah!  Dia lalu berusaha menggerakkan tangannya untuk balik menggenggam tangan ibunya.  Tak satu ruaspun jari bergerak.  Daman tertegun.  Urat syarafnya juga tak mematuhi perintah!

Daman mengedarkan pandangan ke sekeliling.  Semua warna putih belaka.  Bahkan baju yang dia pakai sekarang putih.  Bukankah seingatnya dia memakai baju biru rumah sakit? Rumah sakit! Daman seperti terbangunkan oleh sebuah ingatan.  Terakhir yang dia ingat adalah dia tergeletak di sebuah ranjang beroda yang didorong terburu-buru oleh beberapa suster cantik.  Setelah beberapa saat sebelumnya dia menancapkan ujung jarum berisi heroin di kamar kosnya yang megah.

--------

Paling tidak ya Tuhan!  Ijinkan aku untuk berpamit kepada mereka.  Menitikkan dua tetes air mata penyesalan kepada mereka.  Menunjukkan bahwa dia sebenarnya sayang kepada mereka.  Mengatakan dengan isyarat bahwa apa yang dia lakukan adalah tindakan tak semestinya.  Menyia-nyiakan kepercayaan mereka.

Daman berusaha sekuatnya memaksa matanya mengalirkan airmata.  Tidak bisa.  Sedikitpun tidak ada reaksi dari tubuhnya.  Otaknya sudah mati.  Dia entah berada di mana.  Bisa melihat mereka tapi mereka hanya melihatnya terbujur kaku di ranjang perawatan rumah sakit.  Daman seperti terhempas pada kenyataan yang memerihkan.

Dia sudah mati! Semua orang sedang menangisinya.  Semua sedang bersedih kehilangan dia.  Padahal selama ini dia tidak mempedulikan mereka.  Selama ini dia tidak merasa kehilangan mereka yang selalu berusaha membantu mengingatkan, menasehati, memberi pesan.  Sama sekali tak dia hiraukan.

Daman melayangkan sekelumit kisah buruknya ke depan matanya yang sudah tak sanggup berkedip lagi.  Pemuda kaya yang berlagak frustasi karena tidak diterima di perguruan tinggi favoritnya.  Pemuda kaya yang berlagak frustasi karena pujaan hatinya lebih menerima Anto yang miskin. 

Pemuda kaya yang berlagak frustasi karena merajuk merasa kekurangan kasih sayang ayah bundanya.  Daman menghela nafas yang sama sekali tidak menyerupai nafas.  Dia memang bodoh.  Melarikan semua pada benda yang jauh lebih bodoh.  Narkoba.

Dia menjadikan narkoba sebagai tempat kuliah favoritnya.  Membuat narkoba sebagai kekasihnya.  Menyangka narkoba sebagai tempat limpahan kasih sayangnya.  Saat itu dia merasa benar.  Narkoba membuatnya melupakan pahit yang merajam.  Dia merasakan manisnya hidup tak terkira.  Apalagi uang bukan masalah baginya.  Ayahnya kaya raya dan dia bisa mendapatkan jumlah uang yang diminta semaunya.  Ya Tuhan, ijinkan aku berairmata untuk mereka!  Batin Daman memohon sungguh-sungguh.

Ijinkan aku meminta maaf kepada ibuku.  Untuk semua nyawa yang dia pertaruhkan saat melahirkan aku.  Untuk semua darah yang dia tumpahkan demi lelaki kecilnya.  Untuk semua air susu yang dia persembahkan bagi buah hatinya.  Untuk semua hal yang menggerogoti hatinya semenjak dia mulai dewasa.

Ijinkan aku meminta maaf kepada ayahku.  Untuk semua keringat yang dia banjirkan pada siangnya.  Untuk semua lengan kokoh yang selalu merengkuhnya dalam pelukan saat dia menangis karena terjatuh dari sepeda, atau kehilangan mainan, atau meminta mainan.  Untuk tatapan mata penuh kasih ketika dia berangkat pamit untuk kuliah di Yogya, tempat dia berencana menghabiskan semua petualangan masa mudanya.

Ijinkan aku meminta maaf kepada kakak perempuanku.  Yang selalu menggandengku saat menaiki eskalator mall.  Yang selalu membelaku di hadapan kawan-kawanku yang selalu memandang sinis kepadaku.  Anak kaya yang manja, begitu kata mereka.  Dan kakak perempuanku membentak mereka sambil meraihku dalam pelukan.  Kakak perempuanku yang berani berkelahi dengan kawan laki-lakiku karena dia mendorongku jatuh gara-gara dia merebut mainan kesukaanku.

---------

Ijinkan aku ya Tuhan.  Ijinkan aku.  Ratapan Daman semakin lirih.  Sekarang pendengarannya juga jauh berkurang dibanding tadi.  Dia hanya sanggup mendengar lamat-lamat.

“Aku maafkan kamu anakku....” ayah dan ibunya terisak bebarengan.

“Pergilah dengan tenang adikku.  Kakak akan selalu menyayangimu....” disambung sedu sedan kakak perempuannya.

Daman seperti merasa sebagai layang-layang yang putus benangnya.  Menerbangkan diri ke langit dengan kelegaan luar biasa setelah mendengar semuanya. 

Ayah, ibu dan kakaknya memeluknya jenazahnya dengan erat saat melihat dua titik kecil airmata mengalir keluar dari mata Daman yang sudah tertutup rapat-rapat dengan nyawa dibawa malaikat.

#ceritamisteri