Ubume

yokai.com

Tangis melengking itu menyakiti telinga. Mendengarnya membuatku berpikir tanpa memahami arti dari pikiran itu sendiri. Gambar dalam kepalaku adalah rekaman fast motion.

Gangguan terjadi sejak seminggu yang lalu, terutama setiap jarum jam beranjak ke pukul dua pagi. Terlepas dari hujan dan angin, rengekan wanita malah menetap di halaman depan rumah yang ditumbuhi semak dan pepohonan jarang-jarang.

Kenapa hujan harus turun setiap malam? Iya, ini memang sedang musim penghujan. Yang sebenarnya membuatku heran adalah, tangisan wanita tersebut tidak teredam sedikit pun. Derai air yang jatuh tidak berpengaruh sama sekali.

Sekarang pun begitu. Guest house sudah sepi dari pengunjung karena musim berlibur sebentar lagi bakal habis. Dua-tiga orang tamu memang masih ada, tapi saat ini hanya aku yang terjaga di dalam bilik resepsionis. Udara lebih dingin dari biasanya.

Telepon berdering.

“Halo, dengan Twin Guest House. Apa ada yang bisa kami bantu?”

Bunyi keresek dan terpaan hujan berbaur dan membuat telinga kesulitan mendengar.

“A-anakku..”

“Eh? Maaf, apa Anda bisa berbicara lebih lantang?”

“Anakku kedinginan. Dia masih bayi..”

Daripada berbicara, dia lebih mirip mendesah.

“Aku tidak bisa mendengar Anda dengan jelas.”

Hening sesaat. Telepon seolah-olah berasal dari ruangan kedap suara.

“Halo? Apa Anda masih di sana?”

“SUDAH KUBILANG BAYIKU KEDINGINAN!”

Gemeletuk dalam sambungan menyakiti telinga. Aku refleks menjatuhkan gagang telepon, lalu berdiri sambil memegang dada. Jantung memompa cepat hingga membuatku kesulitan bernapas.

Ini bukan film horor. Aku tidak akan menuruti apa yang para manusia fiktif itu lakukan. Berdiam di dalam bilik hingga jam kerja habis adalah langkah paling tepat. Baik tangisan wanita maupun telepon iseng, masa bodoh semuanya. Ignore it, ignore it.

Itulah ide awalnya. Namun, malam menyebalkan ternyata baru saja dimulai.

Lonceng angin berdenting. Benda berbahan besi itu saling berbenturan. Ditiup angin? Tidak. Pemilik guest house menaruhnya di sisi dalam pintu. Kalau berbunyi, itu artinya seseorang baru saja masuk atau keluar.

Lampu lobi tidak berkedip-kedip. Layar televisi juga masih menyiarkan program tengah malam dengan baik. Tetapi, wanita dengan gaun tidur putih tetap masuk. Sekitar lima meter lagi, dia akan mencapai bilik resepsionis.

Dari perut hingga bagian paling bawah, gaun putih sebetis itu dihiasi warna merah pekat. Tidak cukup, cairan menakutkan itu juga membasahi kaki. Setiap langkahnya sontak meninggalkan jejak berdarah.

Aku terhipnotis. Menggerakkan kelopak mata saja susah. Aku harap kesadaranku juga menghilang.

“Bayiku..” katanya sambil meletakkan balutan kusut ke atas meja konter. “Izinkan dia menginap di sini. Di luar dingin.”

Tidak salah lagi. Dia adalah si penelepon iseng. Telingaku mengenali suaranya.

“Dia sudah banyak menderita. Jangan tolak dia.” Setiap ujung kalimat wanita berambut sepunggung dan hitam kusut ini adalah desahan rasa lelah. Dia seakan-akan baru saja melakukan perjalanan jauh. Dalam keadaan sakit. Dengan perasaan tertekan.

Balutan kecil di depanku bergerak samar. Terlepas dari kain kuning bermotif bunga yang berlumuran darah busuk, ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Sementara itu, aku belum bisa melepaskan diri dari sihir rasa takut.

“Kamu mau menerimanya, ‘kan?”

Aku bisa menelan ludah, akhirnya.

“Bisa, ‘kan?” desaknya.

“I-ya..”

Wanita berparas mati di depanku tersenyum. Maaf, itu terlihat lebih mengintimidasi dari seringai. Pemandangan di depan mataku adalah mimpi buruk. Tidak lama kemudian, jari-jemarinya mulai membuka lapisan balutan. Aku menahan napas.

“Aku tidak mau dia terus menderita.” Bulir air mata mengalir di pipinya. “Kamu adalah penyelamat.”

Ketika lapisan terakhir disingkap, benda lunak, merah, dan basah teronggok pasrah. Tidak sempurna, tapi aku tahu kalau benda itu adalah tubuh bayi. Ada kepala, tubuh, tangan kiri, dan sepasang kaki yang kehilangan separuh ruasnya.

“Emmh…” Aku menangis hampir tanpa suara.

Dia mengangkat tubuh mungil tersebut. “Gendong dia, aku mohon. Tubuhku tidak cukup hangat untuknya.”

Sihir lain menguasai. Walaupun dengan susah payah, kedua tanganku terjulur ke depan, lalu melewati celah untuk serah-terima barang. Dingin, benda yang kusambut terasa lebih dingin dari es. Namun begitu, aku bisa mendengar erangan sayup dari mulut mungil bayi ini.

“Dekap dia.” Mata tanpa kehidupan itu menuntut. “Jangan jadi sepertiku, dan buat dia bahagia.”

Tanpa memedulikan kondisi mentalku yang berangsur ambruk, wanita bersimbah darah itu memutar badan, lalu beranjak meninggalkan lobi. Denting lonceng angin adalah tanda kepergiannya.

Bagaimana dengan nasibku?

Hanya beberapa detik setelah kepergian sang ibu, mendung bergelayut di dalam guest house. Pandanganku menggelap. Sebelum kesadaran hilang, aku memutuskan untuk mendekap bayi di tanganku.

Tubuh roboh hingga bokong menyentuh lantai. Kemudian pelan, namun pasti, bersamaan dengan bobot bayi yang bertambah, dadaku berangsur hangat dan … basah.

__

Ubume. Legenda urban asal Jepang yang punya sisi mengerikan dan mengharukan. Rasa cinta ibu dan ketidakberdayaan. Usaha terakhir di tengah keputusasaan.

“Misi cerpenku kali ini adalah tidak mengizinkan kalian bernapas dengan baik, mulai dari awal hinggal akhir. Apa aku sudah sukses?? Please, tell me the truth.”

(Imel)