Desa Kutukan

Foto: Ilustrasi

"Kamu tinggal saja di sini. Itung-itung biar ada yang bersih-bersih di rumah.Lagipula kamu kan tidak ada rencana ke mana-mana to?"

Pakde Suwito mengetapkan rokoknya di asbak yang terbuat dari pangkal ruas bambu petung, Dulu diambil dari rumpun yang tumbuh di halaman belakang rumah kami. Dia datang dari kota untuk menghadiri pemakaman bapak kemarin.

"Kalau saranku, pergi saja dari desa ini!" Ambar menimpali. Dia tengah berselonjor pada kursi anyam panjang sembari mengendalikan saluran televisi tabung 21 inchi. "Di rumah ini sudah begitu banyak kejadian.Percek-cokan, kesialan, kebangkrutan ... tak ada yang tahu, besok-besok ada pertumpahan darah!" imbuhnya. Di antara kami, generasi anak-anak, dia memang paling  arogan bicara dan bersikap.

"Omong opo kowe?" Pakde Suwito gusar. Asap yang  baru saja bergulung di mulutnya ikut tersembur keluar. "Bocah ora lumrah!"

"Ha opo? Ancen tenan kok!" Ambar tak mau kalah.

"Saya belum kepikiran mau ke mana. Sementara ini, saya tinggal di desa saja." 

"Mbak, minggato wae, percoyo ambi aku!"

***

Pakde Suwito, Ambar dan keluarga yang lain sudah kembali ke kota. Tinggal aku yang belum ada rencana.  Setelah bapak tak ada, rumah ini benar-benar mati. Aku sendirian mondar-mandir menjalani aktifitas sehari-hari. Jika malam, aku menangis pun tak akan terdengar tetangga. Rumah  paling dekat, berjarak lima puluh meter. Mau bicara dengan siapa? Hanya mendengar derit batang bambu petung seperti suara hewan meringkik, juga desau daunnya yang menyilu dada. Memangnya boleh jika aku bilang belum siap menjadi yatim piatu? Tetapi Kang Gayuh,saat datang mengungkapkan bela sungkawa kemarin, dia juga mengatakan bahwa jika terdesak aku bisa meminta bantuannya.

"Jika kamu kekurangan sesuatu, bilang saja." katanya waktu itu. Dia berucap demikian dalam kapasitasnya sebagai pegawai dinas sosial yang datang ke desa ini untuk urusan pekerjaan.

Aku masih bisa melalui serangkai malam-malam sendirian, sebelum teror itu merebak, mengacaukan ketenangan penduduk. Setiap malam orang-orang mengunci pintu rumah mereka dan tak ada yang berani ke mana-mana. Kabar bahwa ada segerombolan penyamun berkeliaran di desa-desa pada malam hari, menjalar dari mulut ke mulut, menjadi perbincangan mencekam yang menakuti warga.

Dan malam ini aku mendengar suara aneh di luar seperti gemerisik daun bambu kering terinjak serta alas kaki menghentak tanah, pertanda mereka tidak jauh dari rumah ini. Aku mengambil senter yang ada di kolong meja dan sebuah bantal. Meski gemetar, aku berusaha membuka jendela belakang dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara.

Sekuat tenaga kulemparkan bantal itu ke arah rumpun bambu, terjatuh pada tumpukan daun kering. Kaki-kaki itu bergerak ke belakang rumah untuk mencari sedangkan aku berjingkat menuju pintu keluar lalu berlari sekencang mungkin ke arah jalan desa, terus menuju rumah mbah Warsinah. Dibelakang sana terdengar deru sepeda motor yang berjalan pelan, seolah sengaja menyorot tubuhku dengan lampu depannya. Begitu sampai, aku menggedor pintu rumah Mbah Warsinah, tetua desa sekaligus kerabat tertua di keluarga kami itu.

"Ada apa?" Dia membuka pintu sembari mengeluarkan segumpal tembakau dari mulutnya. Dia juga meludah berwarna merah karena baru saja mengunyah sirih. Lalu tembakau itu kembali menyumpal di antara bibir dan gigi-gigi hitamnya.

"Mbah, mereka ke rumahku ...."

"Siapa?"

"Para penyamun itu."

 Air mataku meleleh mengharap perlindungan darinya. Dia mendengus, menghela napas, memandangku dangan tatapan tak acuh.

"Percuma! Keluargamu telah dikutuk. Kalian akan mati satu per satu dalam pertikaian!"

"Dikutuk?"

"Ya. Dulu, kakek buyutmu dan saudaranya berseteru. Mereka masing-masing menginginkan rumah beserta tanah yang saat ini kamu tempati itu, tanpa berkurang sejengkal pun. Setelah melalui perundingan  adat, kakek buyutmu yang memenangkan hak milik. Saudara perempuannya tidak terima, lalu minta bantuan dukun untuk mengutuk keluarga kalian. Kutukan itu ditanam di dalam rumahmu. Kalau kamu ingin selamat, pergilah dari desa ini!"

"Lalu malam ini aku harus tinggal di mana?"

"Aku tidak bisa menolongmu."

Aku pulang dari rumah Mbah Warsinah dengan kecewa dan pasrah. Begitu keluar dari pekarangan  rumahnya, aku bisa merasakan bahwa mereka juga ada di sekitar sini. Entah berapa orang, tapi di segala arah, suara detap kaki terdengar jelas. Diam-diam aku menyesal kenapa keluar malam.

Bayangan itu berkelebat ke balik pohon setelah tertimpa cahaya senter di tanganku. Terdengar juga derap kaki berlari dari arah lain. Aku berputar di tempat sambil terus mengarahkan cahaya ke semua penjuru. Jika  punya niat jahat, aku ingin tahu siapa mereka.Kemudian cahaya dari kejauhan menyilaukanku  bersamaan dengan bunyi berderu yang ternyata sebuah sepeda motor.

"Siapa?"

"Aku."

"Kang Gayuh?"

"Ayo naik."

Dia membawaku ke pondoknya. Tanpa banyak tanya, aku mengikutinya masuk. Dia mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi rotan dan  menyilakanku duduk.

"Istari, aku sudah tahu semua masalahmu. Aku juga tahu para bandit itu beberapa malam ini mengitari rumahmu. Mbah Warsinah menceritakan semuanya."

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Ikutlah denganku ke kota. Aku sudah meminta ijin pada tetua-tetua desa."

"Lalu, apa yang bisa kulakukan di kota?"

"Terserah padamu, aku akan membantu semaksimalnya. Kau bisa kerja tapi jika kau mau, menikah saja denganku. Jadi aku bisa melindungimu setiap saat."

"Menikah?"

"Ya, menikah."

***

Ketika ayam berkokok dan cahaya di timur telah merekah, dia membawaku pergi meninggalkan desa diiringi tatapan para penduduk. Mereka menyimpang ke tepi, memberikan jalan  sepeda motor Kang Gayuh. Melintas dalam kecepatan paling rendah, kang Gayuh membunyikan klaksonnya sebagai penghormatan. Atau mungkin, salam perpisahan? Sebab, sampai di kota kami segera mengurus pernikahan dan aku tak ingin kembali lagi ke desa kutukan itu lagi.

 

***

Suatu hari, Kang Gayuh kembali dikirim ke desa oleh kantor dinasnya. Sewaktu kembali, dia bercerita bahwa rumah kami di desa telah dirobohkan. Sebagai gantinya, sebuah bangunan besar akan didirikan. Proses pembuatan dinding sudah sekitar dua meter berdiri, namun sepertinya masih belum dilanjutkan. Kang Gayuh bilang, dia bertanya pada mbah Warsinah mengenai masalah itu. Dan keterangan yang didapat, bangunan itu Pakde Suwito lah yang membangunnya tetapi Ambar menggugat. Kini mereka sedang menjalani sidang untuk memperebutkan  hak kepemilikan.

 

Keserakahan adalah ambisi manusia yang paling terkutuk
Kutukan yang hanya akan berakhir jika manusia itu mati
Memang ...
Semua orang pasti mati, tetapi aku tidak ingin mati di tengah lingkaran pertikaian kotor kepentingan orang lain...

 

#ceritamisteri