Erotomania

deviantart.com

Tidak ada yang lebih menakutkan dari cinta yang berbalas. Kehilangan, bukan yang nomor satu, ketidakmampuan, atau ditinggal begitu saja, semua ketakutan ini bisa saja rutin menghantuimu melebihi lancarnya bernapas.

Aku juga demikian.

Dua tahun yang lalu, kami bertemu di sebuah acara pentas musik, di taman hiburan pusat kota. Waktu itu, ratusan manusia hanyalah pulau buih tidak berarti, atau deretan bunga matahari bagi dua manusia yang berada dalam perjalanan menemui kekasih mereka.

Kami juga begitu.

Saat kedua pasang mata bersirobok, dunia dingin menggigit untuk sesaat, lalu berangsur menghangat. Aku ingin kabur, namun magnet janggal mendorong kaki tanpa bisa dikendalikan. Dia laki-laki pertama yang mampu menggerakkan hatiku.

Dia tersenyum dengan matanya. Musik mengalir mengisi kekosongan selama ini. Pertemuan sore itu mengingatkanku bahwa selama ini aku kesepian. Ternyata, terus berpikir kalau semuanya baik-baik saja bukanlah opsi yang bagus.

Aku akan terus mencintainya.

Sekarang dia sudah ada di sini, di sampingku. Kebahagian berlipat ganda. Sebesar itu cinta kami, hingga sekalipun akhirnya pergi, dia bakal tetap ada di mana-mana. Di lemari, langit-langit, layar televisi, di balik pintu, dan di hatiku.

Apa aku sudah berlebihan? Ada yang bilang, menuang terlalu banyak air ke dalam gelas akan menumpahkan sebagiannya, dan itu bukanlah hal baik.

“Pertemuan kami terjadi pas grup ngadakan show case di Saturday Fun Park. Waktu lihat dia tersenyum manis, aku langsung yakin kalau dia memang belahan hatiku.”

Itulah yang dia katakan di dalam sebuah wawancara, di program televisi lokal. Sambil menahan malu karena omongannya sendiri, Alde menatap langsung ke arah kamera. Dia tahu aku ada di seberang layar. Matanya tersenyum seperti biasa.

Itu kenangan.

Aku sudah bilang sebelumnya, kehilangan adalah salah satu masalah yang sangat ditakuti oleh seorang kekasih.

Alde menghilang, bukan dari dalam hatiku, melainkan secara harfiah. Tidak ada yang tahu dia di mana. Semuanya dimulai sejak dua pekan yang lalu. Dia raib hanya beberapa menit setelah show case terakhirnya.

Penggemar menangis, manajer dan anggota band-nya pun resah bukan main. Aku tentu saja hampir menggila karena dia tidak pernah absen memberitahuku jika akan bepergian ke mana saja. Dia sangat peduli pada perasaan orang yang mencintainya.

Sudah dua pekan berlalu, ya ampun, namun belum satu pesan pun masuk ke ponselku. Alde ditelan bumi, lagi, secara harfiah. Itulah dugaanku. Aku menelepon berulang kali, tapi nihil jawaban. Percuma.

 Di mana janjimu dulu, Alde? Kamu bilang, kamu tidak akan meninggalkanku. Kita bahkan berencana untuk menjadi satu keluarga.

Alam mengetahui isi hatiku. Sejak tadi sore, hujan dan kilat belum berhenti menghias langit. Angin kencang sesekali datang, lalu membuat dahan pohon samping rumah mengempas-empas jendela kamar. Rasa cemas padanya menggeser ketakutanku akan cuaca malam ini.

Aku duduk termenung di meja makan sambil menatap ponsel. Wajah manisnya terpampang di layar. Raut itu juga ada di dalam lemari pendingin, tempat tidur, hingga di dalam piringku. Aku rasa, kepalaku sudah benar-benar bermasalah. Rindu mulai tidak terbendung.

Saat masih kecil, ibu pernah bercerita bagaimana seorang istri bisa meninggal lebih cepat gara-gara kelebihan cinta kepada suaminya yang baru saja wafat. Kematian keduanya hanya berselang sebulan. Apa yang akan terjadi padaku setelah ini? Aku ragu bisa bertahan lama tanpa Alde.

Bunyi gemuruh menggulung-gulung. Ketukan kasar terdengar riuh di pintu belakang. Kejutan itu mendesakku secara insting. Aku berlari tanpa memikirkan siapa yang berada di balik bidang papan tersebut.

“Alde!”

Rambut ikalnya basah dan menempel pasrah pada wajah. Mata besarnya mendelik kalut. Dia buru-buru masuk, lalu memelukku. “Piaa..” rengeknya.

Kami berpelukan lama, lama hingga mampu menghangatkan sebagian air hujan yang menempel di bajunya.

“Kamu ke mana aja, hah?! Kami semua cemas bukan main!”

Dia semakin mengeratkan dekapan. “Bawa aku masuk.”

Kulepas pelukan, kemudian membimbingnya ke dalam rumah. Alde duduk di sofa, sementara aku mengusap-usap kepalanya menggunakan handuk.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

Dia memegang tanganku, meremasnya. Aku tidak salah. Tubuh laki-laki yang kucintai ini menggigil.

Aku duduk di sampingnya. “Alde? Kamu enggak apa-apa?”

Bukannya menjawab, dia malah meraih remote control yang tergeletak di atas meja, lalu menghidupkan televisi.

“Itu aku,” balasnya sambil menunjuk layar.

“Apa maksudmu?” Jantungku mulai memompa dengan cepat.

“Lihat aja.”

“Berita terkini dari penyanyi muda Alde Marei. Sekitar pukul satu tadi siang, potongan tangan kanan diterima oleh staf agensi tempat dia dan grupnya bernaung. Setelah memastikan kalau benda tersebut adalah anggota tubuh manusia, pihak agensi segera melapor ke polisi, dan kasus ini pun langsung diusut. Menurut hasil pemeriksaan, pihak rumah sakit memastikan kalau tangan tersebut adalah benar milik seorang Alde Marei.”

Ada banyak hal yang ingin kukatakan, namun semuanya tersangkut di kerongkongan. Sekarang, tangan kami berdua sama-sama menggigil. Aku membalas genggaman Alde.

“Laporan lanjutan menyebutkan kalau pemotongan dilakukan setelah korbannya meninggal dunia.”

Tidak kuat dengan informasi yang menerobos masuk, aku buru-buru memeriksa ponsel dan mencari-cari kabar di media sosial. Sama, Alde tetap dinyatakan tewas di suatu tempat yang belum diketahui lokasinya.

“Mustahil.. Mustahil..” Kata mustahil terus kuucapkan, namun tetap tidak membuatku puas.

“Pia?”

“Mustahil! Mereka pasti salah.”

Mataku berhenti di sebuah laman artikel yang menunjukkan gambar potongan tangan. Aku kenal dengan jari-jemari itu, benda yang melingkari jari manis itu. Inisial AM terukir indah.

Alde Marei adalah AM, dan Pia Manila adalah PM. Kami berjanji untuk terus bersama, baik siang maupun malam.

“Maafkan aku, Pia.” Alde menarikku ke dalam dekapannya.

“Kamu sudah memaksaku jatuh cinta, tapi jangan paksa aku buat melepaskanmu..”

Tangisanku membaur bersama hujan dan nyanyian buruk langit.

_

#ceritamisteri