Misteri Tari Topeng Cirebon

Tari Topeng Cirebon (sumber foto: kompas.com)

Asti, siswi SD Negeri Cirebon kelas VI terpilih untuk menjadi salah satu penari dalam upacara Hari Pendidikan Nasional tahun lalu. Asti dapat terpilih karena dia anak yang tergolong rajin berlatih menari, sehingga bila harus tampil pasti penampilannya tidak akan memalukan.

Gurunya telah memintanya untuk tampil membawakan tarian khas daerah Cirebon, yakni tari topeng Cirebon. Tiga minggu menjelang awal Mei, Asti terus tekun berlatih, karena Asti menyadari dia belum terlalu mahir menarikan Tarian Topeng, agar nanti penampilannya tidak terlalu memalukan sekolahnya.

Tari Topeng Cirebon pada mulanya adalah tarian yang khusus dipentaskan di lngkungan kesultanan Cirebon. Namun kini sudah boleh dipentaskan sebagai tarian rakyat. Tari Topeng Cirebon bisa beralih dari tarian kesultanan menjadi tarian rakyat disebabkan untuk tujuan penyebaran agama Islam di tanah Jawa, yang masuk melalui pelabuhan Cirebon. Tari Topeng Cirebon banyak mengandung makna ketaatan beragama, dan menggambarkan tingkatan kehidupan manusia makrifat, hakikat, tarekat dan syariat. Tarian ini memiliki filosofi kehidupan manusia dalam banyak hal seperti cinta, kepemimpinan, kepribadian, sifat pemarah, dan melukiskan perjalanan hidup manusia dari sejak dilahirkan hingga dewasa. Tari Topeng diperkenalkan oleh dua Sunan terkenal yakni Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga.

Aslinya, Tari Topeng Cirebon dipentaskan di tempat terbuka di halaman kesultanan berbentuk setengah lingkaran, panggung yang di Cirebon disebut bale, dan tenda yang di Cirebon disebut blandongan. Tari ini berlangsung pada malam hari, sehingga harus ada penerangan berupa obor. Kalau pada masa kini, Tari Topeng Cirebon boleh dipentaskan di gedung pertemuan dengan penerangan listrik.

Pertunjukan Tari Topeng Cirebon ada dua macam Topeng Alit (kecil) dan Topeng Gede (Besar). Topeng Gede biasanya lebih lama karena terdiri lima babak, yang banyak berisikan nasehat. Sedangkan gambaran alur kehidupan manusia dibagi menjadi lima jenis tarian yakni Tari Topeng Panji (bayi), Tari Topeng Samba (anak-anak), Tari Topeng Rumyang (remaja), Tari Topeng Tumenggung (dewasa) dan Tari Topeng Kelana (angkara murka).

Karena Asti masih tergolong anak-anak, maka dia diminta membawakan Tari Topeng Samba. Busana penari berwarna hijau serta topeng berwarna putih dan merah jambu. Gerakannya lucu, centil dan kekanak-kanakan. Tari Topeng Samba dengan jelas medeskripsikan gerakan keriangan dan keluguan seorang anak.

Hari pertunjukan tiba, Asti muncul di atas panggung dengan latar lagu Kembang Kapas, semula gerakan Asti tampak biasa-biasa saja, namun lambat laun makin lemah gemulai. Semua penonton kagum dibuatnya. Beberapa tetua di Cirebon manggut-manggut, mereka menyadari bahwa kesempurnaan tarian Asti disebabkan raganya sudah dimasuki roh Nyi Mas Gandasari. Siapa Nyi Mas Gandasari? Nyi Mas Gandasari dikabarkan adalah pimpinan kelompok penari topeng yang membantu Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga membuat seorang pemberontak mau berdamai, sehingga tidak mengganggu syiar agama yang dilakukan oleh ke dua Sunan terkenal ini.

Tarian Topeng Cirebon memang sarat filosofi keagaamaan, namun masih ada juga unsur mistisnya. Apakah benar roh Nyi Mas Gandasari merasuki tubuh Asti si penarik cilik ? Tidak ada yang mampu membuktikan kebenarannya, karena setelah selesai menari Asti juga tetap bersikap biasa-biasa saja, tidak tampak seperti orang kerasukan mahluk halus atau mahluk gaib. Setelah selesai menari, Asti pulang ke rumah seperti biasa dengan riang gembira bersama teman-teman sekolahnya.

Tari Topeng Cirebon memang patut dilestarikan sebagai salah satu budaya pantai pesisir Utara pulau Jawa yang sarat pesan keagamaan, dan jangan sampai tergerus oleh Dangdut Pantura yang erotis.

 

#ceritamisteri