Lepas dari Terjangan Maut

Ilustrasi by Pinterest

Badan sudah berasa seperti cucian kotor habis dikucek kumal dan lecek. Sedari pagi sampai menjelang dini hari aku masih berkutat dengan mesin Truk yang ngadat, beruntung  tadi siang sudah ketemu apa penyebab kerusakan sehingga bisa beres malam ini. Sedangkan besok pagi truk sudah harus kembali mengaspal di lintas Jawa-Bali. 

Walaupun terpaksa aku dan Pak Kosim  harus lembur selama dua hari ini sampai larut. Semalam malah lebih parah hampir jam dua pagi baru pulang dan jam tujuh sudah harus berangkat lagi. 

Patnerku sendiri seorang mekanik senior di bengkel ini. Pak Kosim bekerja sedari perusahaan transportasi ini baru menetas hanya dengan dua armada itu pun hasil kredit untuk modal awal berdiri. Merintis dari nol tapi dengan berjalannya waktu perusahaan mulai merangkak,  berkembang sampai bisa menambah puluhan truk dan usaha meluas dengan terbelinya lima Bus antar kota. Ia ikut jatuh bangunnya perusahaan ini bahkan saat sempat dilibas moneter namun tetap bisa bertahan. Setelah beberapa tahun ini perusahaan dalam keadaan stagnan namun sejak dua tahun terakhir usaha kembali menggeliat dengan bertambahnya beberapa armada baru yang beroperasi.

Pak Kosim masih setia dan kini ia adalah mekanik senior dan menjadi andalan perawat mesin-mesin kendaraan dan dibantu aku serta empat mekanik muda lainnya. Bisa dibayangkan pekerjaan kami tiap harinya seperti kali ini. Kerja tak kenal waktu dan diburu-buru harus cepat selesai karena kendaraan sudah harus kembali beroperasi.

 Sekarang aku harus menyelesaikan sisa pekerjaan sendiri karena tadi pak Kosim minta ijin pulang cepat ia harus mengantar anak perempuannya yang mau melahirkan. Terpaksa aku mengganti beberapa onderdil tanpa bantuan dan itu cukup menguras tenaga. Sudah hampir tengah malam ketika tugas berakhir, pekerjaan pun  beres pada waktunya dan aku bisa pulang dengan lega. Besok tinggal aku yang ijin berangkat siang.

Dengan langkah lebar aku hampiri motor yang teronggok kesepian ingin segera disentuh. Berharap segera sampai rumah dan dapat meluruskan punggung, bersantai lalu bisa tertidur pulas dan bangun pagi dalam keadaan bugar. Tapi sepertinya aku lupa menaruh kunci motor, beberapa kali kugagapi semua kantong jaket juga celana tak juga kutemukan, perasaan tadi ada di kantong, pikirku berusaha mengingat-ingat. 

"Nyari kontak, Bang Jhon?" teriak seseorang dari post. 
Rupanya suara Pak Sumar satpam yang jaga malam ini memperlihatkan kelakuanku.  Kubalas dengan anggukan, kembali sibuk memeriksa semua kantong jaket. 

"Tadi kan motornya dipinjam sama Janu udah dibalikin belum, Bang?" teriaknya lagi saat melihat aku yang masih sibuk mencari-cari. Aku menoleh ke arah suara itu dan menepok jidatku sendiri. Kenapa bisa lupa, kan tadi aku suruh dia menggantungnya di sebelah baju ganti, dasar pikun makiku dalam hati.

Terpaksa harus menyambangi bengkel lagi, bangunan seperti gudang dan berada di seberang parkiran yang luasnya hampir setengah lapangan bola, melelahkan sekali pikirku. Enggan tapi gimana lagi, terpaksa kembali melintasi parkiran seluas itu sepanjang jalan yang terlihat hanya deretan mesin-mesin yang membeku dari pantulan sinar bulan. Suasana sangat lengang,  hanya riuh suara jengkerik dan sekumpulan codot masyuk berpesta pisang dari pohon yang tumbuh di belakang gudang.  Kaki bergerak terburu mengingat malam sudah kian larut. Semakin dekat semakin perasaan tidak enak mungkin karena suasana bengkel yang redup hanya diterangi balon beberapa watt. Sebab sebelum pergi tadi seluruh lampu telah aku matikan dari saklar utama. Aku pun malas untuk kembali bolak-balik ke sana hanya untuk menyalakan lampu. Meski samar masih terlihat arah di mana Janu menggantungkan kunci tadi. 

Bengkel penuh dengan beberapa kendaraan besar yang masih di servis sedang di sisi kiri merapat ke dinding dipenuhi tumpukan ban-ban bekas dan di tembok batako sebelahnya tergantung peralatan mekanik. Samar, namun sempat tertangkap telinga suara desisan dari tumpukan ban bekas di pojok bengkel nan gelap. Kuedarkan pandang menyisir dari arah datangnya suara. Sunyi, sepintas tak terdengar lagi sesuatu yang mencurigakan, bisa jadi hanya pendengaranku yang salah.

Setelah mematung beberapa saat kembali kulanjutkan langkah menuju tembok paling ujung tempat berbagai peralatan bengkel dan baju ganti biasa tergantung. Baru saja beberapa depa sudut mataku menangkap sesuatu bergerak di antara tumpukan ban. Pelan merambat di keremangan. Seperti bulatan ban yang mengurai, kuperhatikan lagi dengan seksama. Iya, bulatan ban truk itu mengurai dan bergerak. Masih dengan perasaan tidak percaya, tanpa sadar kaki bergerak mendekati untuk meyakinkan bahwa penglihatanku tidak salah.

Antara ngeri dan penasaran bercampur. Makhluk atau apakah gerangan itu, pertanyaan bergumul menuntut jawaban. Aku ingin memastikan meski ada juga rasa ngeri mendorongku untuk segera meninggalkan tempat itu tapi rasa penasaran lebih menyeret langkahku untuk mendekati asal gerakan yang kini tiba-tiba menghilang. Hanya sebentuk garis hitam tersisa menempel di dinding yang tak jauh dari tempatku berdiri.

Lupakan saja, lanjutkan niat semula perintah otakku. Selanjutnya kuteruskan langkah mengambil kunci yang tergantung, menyambarnya dan memasukkan ke kantong jaket. Secepatnya kuputar badan memacu kaki melewati truk-truk yang membeku menuju pintu keluar. 

Namun sebelum mencapai pintu, terdengar seperti suara tetesan air dari atap perasaan di luar tidak  hujan, bulan purnama bersinar benderang palah. Alhasil aku cari bunyi suara itu. Apa yang terjadi selanjutnya, aku hanya bisa terpaku, terperangah dengan mata membulat penuh mengamatinya dengan rasa tak percaya. Makhluk apakah yang sekarang berdiri di depanku. 

Sepasang mata merah menyala sewarna dengan kain yang melilit di bawah kepala yang menurut penglihatanku sangat besar lebih besar dari kepala barongsai dengan lidah merah tapi tak semerah matanya menjulur mengeluarkan lendir yang menjijikkan. Makhluk itu terlihat jelas karena berdiri di sebelah lampu bengkel yang tergantung dan sesekali goyang karena embusan nafas dari hidungnya yang sebesar lubang tungku. 

Nafasku sendiri memburu karena kengerian yang sama sekali belum pernah aku alami, ternyata ada makhluk sejelek ini. Kaki seperti mengakar ke lantai tak mau digerakkan sementara makhluk itu masih saja menatapku dengan sorot mata tajam seakan sekali mulut terbuka bisa melahap tubuhku. Tapi kupastikan aku bukan makanan yang enak untuk di santap justru akan menjadi duri, pikirku menghibur diri.

Masih saja makhluk itu bergeming begitupun denganku, hanya ekornya saja yang bergerak di ujung gulungan tubuh kasar bersisik yang menopang kepala bermata merah menyala itu. Sekali gerak saja makhluk hitam panjang itu bisa dengan mudah melilit dan meremukkan tulang-tulangku dengan sekali tekan. Kengerian semakin menjadi menipiskan nyali meski aku bukan tipe penakut tapi makhluk ini diluar batas keberanianku, jujur dari tadi pakaianku sudah basah dari cairan deras yang mengucur dari seluruh tubuhku tak terkecuali hajat kecil yang sudah tak tertahan lagi. 

Aku harus berusaha menguasai diri dan keluar dari situasi ini dengan selamat. Kupejamkan mata, mengalihkan sebentar perhatianku dari makhluk jelek yang tak bosan menatapku dengan sorotan yang menakutkan itu. Kuatur nafas, konsentrasi mengosongkan pikiran dari segala macam ketakutan. Setelah beberapa saat, pikiran mulai fokus dan otot-otot kaki terurai dan perlahan bisa digerakkan. Kuambil ancang-ancang untuk segera keluar dari tempat ini. 

Dengan hati-hati mengambil langkah mundur, sedikit menjauh tanpa berniat menyulut kemarahan makhluk panjang hitam yang masih tegak diatas kepalaku.  Setelah itu kuputar arah dan tanpa pikir panjang menerobos pintu keluar yang diiringi dengus kesal dan hawa dingin menerjang punggungku dan hampir saja membuatku hilang keseimbangan. Tanpa menoleh lagi aku terus berlari melewati deretan bus yang terparkir di halaman bengkel. 

Sampailah aku di seberang pos satpam dengan nafas hampir putus. Masih tersengal-sengal, aku duduk di atas jok motor dan berusaha menangkan diri dari teror tadi. Sekilas memandang ke arah bengkel yang hanya terlihat samar dari kejauhan tertutup rimbun pohon mangga yang tumbuh di depan bangunan itu. Ingin memastikan makhluk itu tidak mengejarnya. Sepi dan gelap, tak nampak tanda-tanda ular raksasa bermata merah itu mengikutinya. 

Baru saja agak tenang kembali jantung seperti mau lepas tatkala terdengar derit besi yang bergesekan. Spontan kuarahkan mata ke sumber suara dan rupanya perempuan bersyal merah berusaha menutup gerbang rumah megah yang hanya beberapa meter dari tempatku. Dia Bu Arum, perempuan baik dan ramah istri pemilik perusahaan transportasi ini dan baru dua tahun lalu dinikahi Pak Bos setelah istri pertama meninggal karena sakit. 

Ada yang mengganjal tapi tidak ingin berpikir lebih jauh, kejadian tadi sudah cukup menguras emosi dan tidak ingin lagi berpikir yang aneh-aneh. Kustater motor dan langsung melaju melewati pintu gerbang utama, tak lupa melambaikan tangan pada satpam yang sedang bertugas sebelum lanjut melesat menembus malam menyusuri jalan menuju arah rumah. 

Pikiran tersita oleh kejadian tadi hingga tanpa kusadari motor melaju kencang tak melihat genangan oli dan kuterobos begitu saja,

"Sraaaaaakkk !!!" Motorku berselancar di atas aspal ke arah sisi jalan sedangkan tubuhku  terpental ke tengah, seperti kesadaranku amblas seketika . Belum juga sepenuhnya pulih dan berniat beranjak tiba-tiba dari arah depan nampak sorot menyilaukan melaju dengan kecepatan tinggi.

Mati, rutuk batinku pasrah. Namun tanpa disadari, sekonyong-konyong ada kekuatan mendorongku hingga aku berguling beberapa kali hingga terdampar ke dalam semak di sisi batas jalan. Hampir saja, sedetik telat mengelak tubuhku pasti sudah pipih beradu dengan roda bus malam yang melaju ugal-ugalan tadi. Dari tempatku rebah, mata memicing memandang purnama yang terlihat bulat penuh sangat memesona di mataku, tidak ada yang paling menarik selain itu malam ini. 

Terlepas dari dua kejadian mengerikan tadi, menurutku sebuah keajaiban yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Meski rasa nyeri mulai menjalar ke seluruh tubuh dan mulut terasa asin dari cairan yang berbau amis yang meleleh dari pelipisku. Setidaknya aku masih bisa bernafas, dengan tenaga dan kesadaran yang masih tersisa aku berusaha bangkit dan terlihat dua orang pengendara motor mendekat, salah satu dari mereka turun dan berusaha memapahku duduk bersandar pada sebatang pohon. 

"Bapak masih sadar, kan? Kalau masih mari saya antar ke rumah sakit," tawar seorang anak muda yang berhenti tadi. 

"Masih, tolong antar saya ke rumah saja, Mas." balasku lirih menahan sakit. Berusaha membuka mata untuk meyakinkan mereka kalau aku baik-baik saja hanya tidak yakin masih bisa mengendarai motor sendiri yang sekarang melesat entah ke mana.

Seorang pria yang membonceng  tadi sudah datang dengan menuntun motorku yang sudah tidak lagi berbentuk, hanya bagian depannya mungkin masih bisa dikendarai sampai rumah. Setelah berembuk akhirnya aku pulang diboncengkan pemuda tadi sedangkan yang satunya membawa motorku mengekor pelan karena lampu depan pecah. 

Sebenarnya lokasi jatuh tadi sudah tidak jauh dari kompleks perumahan yang aku tinggali hanya dua kali tikungan pun sampai, kira-kira sepuluh hanya butuh sepuluh menitan. Sejurus kemudian sampailah kami bertiga di depan rumah minimalis berpagar coklat tempat  mengontrak bersama istri dan dua anakku. Kedua pemuda baik hati itu memapahku hingga ke teras rumah dan memarkir motor di halaman. Aku persilahkan mereka untuk singgah namun karena sudah malam mereka memilih undur diri dan melanjutkan perjalanan, tak lupa kuucapkan banyak-banyak terima kasih tanpa tahu bagaimana membalas kebaikan mereka. 

Kuputar kunci rumah dengan hati-hati tidak ingin membangunkan istri dan anak-anak. Sejenak duduk diruang tamu menenangkan pikiran sekaligus memeriksa luka di sekujur tubuh. Celana katun yang kukenakan robek sedang kulit betis mengelupas menyisakan daging yang terlihat memutih, siku dan sepanjang lengan lecet sepertinya juga ada luka robek di pelipis. Tapi tetap bersyukur masih bisa selamat sampai rumah, pikirku. 

"Pak, sekalian tahajud sebelum tidur ya," ingat istriku dari dalam kamar. Dia memang sudah hafal kebiasaanku yang tidak pernah lepas sholat tahajud dan dia yang sangat rajin mengingatkan jika aku mulai lalai atau kebablasan tidur karena kecapean. 

Dengan tertatih beringsut ke belakang membasuh diri dan bersiap menghadap kepada-Nya dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan malam ini hingga lolos dari dua kejadian yang hampir saja merenggut nyawa. Subhanallah, walhamdulillah.

Setelah berpikir beberapa saat, aku berkeinginan berhenti, sudah tidak lagi nyaman rasanya bekerja di tempat itu tapi tetap akan aku diskusikan dulu sama istri sebelum mengambil keputusan itu dan mulai mencari pekerjaan lain.

#Ceritamisteri