Misteri Kuas Angeline

Ilustrasi/Book Cover

"Angeline, kau kah itu?"

Keyakinan Hendrik Wick, terbukti. Hari ini ratu pilihannya kembali menemuinya. Dengan gaun putih dan sepatu hak tinggi. Terlihat dari wajahnya yang berseri-seri. Sedang berjalan anggun, mendekat dan seolah malu padanya.

Sebentar, kali ini Angeline tak merekatkan gaun serta mahkota emas pemberiannya. Angeline hanya melingkarkan pakaian biasa. Ia sedang menatap ke langit-langit. Seluruh ruang Kastil Warwick.

"Wah, menakjubkan. Kuas ini ajaib. Apa aku benar-benar berada di sebuah kastil?"

"Benar, Angeline. Ini adalah kastil kerajaan Keluarga Warwick. Apa kau lupa denganku?"

Angeline memalingkan muka. Sedang sorot mata Hendrik nampak serius. Mengikuti setiap langkahnya yang semakin menjauh. Sedangkan perempuan yang ia anggap ratu sama sekali tak merespon.

Kemudian keluar ke pintu taman. Menaiki tangga, memandang ke jendela, ternyata benar ada sebuah parit yang telah mengering. Angeline kagum, karena pernah melukiskan Sungai Avon dengan kuasnya di atas buku gambar. Yang dinikmatinya sekarang. Hasil karyanya sendiri.

Sungguh, sungai ini terlihat sangat indah. Ketika ia akan kembali menuruni anak tangga. Ajaibnya, Angeline bertemu pria tampan. Sejak kapan? Setahu Angeline belum pernah melukiskan wujud manusia. Yang ada di sebuah lukisan gambar. Tapi, apakah manusia lain juga bisa menikmati hasil karyanya? Itu mustahil.  

"Kau, siapa?" 

Angeline takut pria itu akan menyakitinya. Pakaiannya berkilauan. Seperti seorang raja. Dengan mahkota berlian di atas kepalanya. Diam, dan terus berjalan membuntutinya. 

"Akhirnya, kita bisa bertemu lagi. Angeline." Pria itu bersuara. 

Sayang Angeline tak mengerti dengan tutur bahasanya, meski terdengar lembut.

Namun, Angeline segera kabur. Meninggalkan Hendrik di taman kastil. Buru-buru mengeluarkan kuas dan buku gambarnya dari dalam tas ransel. Angeline mulai melukiskan sebuah menara waktu Big Ben di London. 

Tubuhnya tertarik oleh magnet. Masuk ke dalam buku gambarnya. Ia menghilang. Setelah sunyi Angeline membuka matanya. Sekarang dia sudah berada di tujuan. 

Tepat jam 12 malam, Angeline tiba di London. Di ujung jembatan Westminster Bridge. Ia juga menggambar pakaian yang sesuai dengan pejalan kaki lainnya. Pada musim dingin.

 Dari switter berlapis, makanan, bekal dan keperluan lain dari hasil melukis. Apapun bisa diwujudkan. Bagi Angeline. Namun, sayang Angeline tak dapat melukiskan mata uang di negara lain. Entah, itu kelemahan kuasnya. Tapi, sekarang Angeline sedang butuh uang untuk menyewa penginapan satu malam. 

Ah, lebih baik liburan ke tempat lain. Syaratnya harus di Inggris. Kuas itu bisa bicara. Lewat sederet tulisan yang muncul setiap saat. Seperti teman, pemberi teguran. Berulang kali.

'KHUSUS NEGARA INGGRIS'

Oke, kuas Angeline bergerak di atas buku gambarnya. Sekarang lukisan, kincir angin raksasa. Di Inggris disebut dengan London Eye. Kincir raksasa ini terletak di seberang Houses of Parliament, South Bank.

Sayangnya Angeline tak mungkin menikmati kincir angin di malam yang dingin. Masih masalah uang. Tak ada tiket gratis. 

Ia kembali meraih kertas gambar, menggerakkan kuasnya. Apalagi yang akan Angeline gambar. Tempat wisata di Negara Inggris. Lalu, Angeline melukis sebuah museum.

Angeline sekarang sudah di dalam Museum Madame Tussauds London di Inggris. Museum yang memamerkan patung lilin berupa tokoh-tokoh terkenal dari seluruh dunia dan dibuat sangat mirip dengan aslinya.

Patung-patung lilin ini terdapat wajah pimpinan dunia, ilmuwan, penulis, seniman, atlet, para aktor dan aktris legendaris, serta keluarga kerajaan yang memang menjadi simbol Negara Inggris selaku Negara Kerajaan di dunia. 

Angeline berhenti, tepat di patung Raja Hendrik Warwick. Wajahnya yang sangat mirip dengan pria tampan yang di temuinya. Pertama di lukisannya. 

Zzzz... Desisnya.

Angeline muak dengan wajah Sang raja. 

Tiba-tiba Angeline mengingat peringatan pemilik kuas.

"Angeline, jika kau terlalu lama berlibur di lukisan mu. Kau tak mungkin bisa kembali ke dunia nyata." 

Bagaimana ini? Berdebar hati Angeline, takut barangkali ucapannya itu akan terbukti nyata. Mana mungkin dia tinggal di tempat asing. Buru-buru ia melukis tempat tinggalnya.

Aneh, Angeline malah melukis Kastil Warwick. Sebelum Angeline menghapus lukisannya. Di depan Hendrik, ia sudah duduk di singgasana ratu. 

Pakaiannya kini sudah berubah. Resmi, gaun putih panjang. Membawa buket bunga. Hendrik mengapit lengannya secara erat. Pelan-pelan melangkah bersama menaiki tangga. Membawanya masuk ke dalam kamar yang megah. Yang belum pernah Angeline injak sebelumnya. Di luar dugaan.

Lukisannya menjadi kediaman abadi di Kehidupan khayalan Angeline.

TAMAT

PML, 18 Feb 2021

#ceritamisteri