Toko Merah, Tempat Angker di Kota Tua

Toko Merah (sumber foto: otoasia.com)

Arena Kota Tua Jakarta termasuk kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Disini banyak bangunan tua bekas kantor-kantor era penjajahan Belanda dulu. Pusat Pemerintahan kala kota masih bernama Batavia, berada di tempat yang sekarang digunakan untuk sebuah museum. Lapangan di Kota Tua selalu ramai dikunjungi wisatawan terlebih pada akhir pekan.

Selain melihat bangunan tua berarsitektur Eropa atau Belanda, bila Anda berjalan sedikit keluar dari Kota Tua, Anda akan menemui sungai Kali Besar yang disainnya mencontoh desain kota Amsterdam. Disinilah pusat perkantoran berada pada era penjajahan. Diantara deretan bangun tua ini, Anda dapat menemukan sebuah gedung yang cukup terpelihara baik, dengan warna mencolok merah, yang dikenal dengan nama Toko Merah.

Warna merah ini bukan akibat darah, melainkan karena tembok tersusun dari bata merah tanpa plester pada bagian depan gedung. Pada abad ke 19, gedung ini memang berfungsi sebagai toko, meski dengan berjalannya waktu pernah berganti-ganti fungsi. Gedung ini memiliki nilai sejarah tinggi, dan kini sering dimanfaatkan untuk arena foto karena latar belakangnya yang mencolok. Uniknya selain terkenal karena warnanya yang mencolok gedung kembar berlantai tiga ini juga terkenal keangkerannya.

Tanpa mengenal waktu, penghuni Toko Merah ini kadang-kadang muncul dan mengganggu atau menjahili wisatawan yang sedang berkunjung. Sosok gaib ini kadang muncul figurnya berupa sesosok wanita bergaun putih atau hanya muncul suaranya saja. Lantai dasar gedung ini memiliki banyak ruangan, sedang lantai dua memiliki empat kamar, dan lima kamar lagi berada di lantai tiga.

Saat saya berkunjung ke Toko Merah memang aman-aman saja, bahkan saya melihat seorang gadis sedang berpose berganti-ganti gaun dalam sebuah sesi pemotretan. Namun menurut cerita pemandu wisata yang mengantarkan kami berkunjung ke Toko Merah, sebenarnya Toko Merah ini sangat angker, bisa saja siang hari muncul seorang wanita berambut panjang dengan gaun putih berdiri pada sebuah jendela, dan bila Anda mengalihkan pandangan ke arah lain saat kembali melihat jendela tersebut sang wanita sudah menghilang tak berbekas.

Penghuni Toko Merah juga pernah membuat wisatawan yang sedang mengambil foto di dalam gedung tiba-tiba jatuh dan meracau dalam Bahasa Belanda. Juga pada suatu malam, tiba-tiba muncul suara tangisan atau tertawa seorang wanita, padahal pada malam hari gedung ini sudah ditutup untuk umum, dan tiba-tiba suara itu lenyap begitu saja.

Toko Merah yang dibangun pada sekitar tahun 1730 oleh Gubernur Jenderal Gustaaf kini merupakan bangunan cagar budaya yang dilindungi. Dalam fungsinya pernah menjadi rumah hunian Gubernur Jenderal, hotel, rumah sakit, dan sekolah dan asrama tentara angkatan laut serta tentunya pernah menjadi sebuah toko milik seorang pedagang Tionghoa, dan terakhir difungsikan sebagai function hall dan tempat pameran. Namun sekarang dinyatakan tertutup dan tidak difungsikan lagi, kecuali untuk kunjungan wisatawan atau obyek foto saja.

Keangkeran Toko Merah menurut cerita pemandu wisata berasal dari korban pembantaian orang Tionghoa atas perintah Gubernur Jenderal Adrian dalam sebuah peristiwa yang dikenal dengan sebutan Tragedi Angke atau Geger Pecinan pada tahun 1740. Tercatat sekitar 24.000 orang Tionghoa, pria, wanita dan anak-anak menjadi korban dalam pembantaian itu.

Bagi Anda yang bermental pemberani, silakan coba berkunjung ke Toko Merah, siapa tahu mendapat sambutan hangat dari si cantik berambut panjang dan bergaun putih yang telah menetap disana selama ratusan tahun.

 

#ceritamisteri