Sosok di Balkon

Foto: Ilustrasi

Prinsipku, tak mau terlalu ramah pada orang yang tak kusukai. Misalnya penghuni baru di kamar sebelah.

Ini adalah bangunan kos yang menyempil di antara pemukiman padat, terhimpit gedung-gedung pencakar langit di lorong ibukota. Area kos terdiri dari dua blok, terpisah seruas jalan sempit yang hanya cukup dilalui dua sepeda motor berpapasan. Kawasan yang tidak cocok disewa oleh pemilik kendaraan roda empat.

Dari pagar rumah ini, perlu setidaknya lima belas menit mencapai jalan raya sana. Beberapa penghuni di lantai bawah, adalah karyawan pabrik yang ada tepat di samping mulut gang. Sama seperti penyewa di rumah lain seantero dua blok ini. Mereka berangkat dan pulang serentak, dengan pakaian seragam.

Khusus ruangan ini, berada di lantai dua dengan pintu menghadap jalan. Hanya ada dua kamar, yaitu kamarku dan kamar sebelah. Sedangkan di lantai bawah ada sepuluh kamar menjadi dua baris saling berhadapan. Di belakang kamar ini adalah tempat cuci jemur yang cukup luas, itu sebabnya hanya ada dua kamar sewa. Area menjemur ini dikelilingi tembok tinggi rumah lain, sehingga tak menampung banyak cahaya matahari, kecuali tengah hari.

Omong-omong, dari dua blok ini hanya satu rumah yang tidak disewakan menjadi kamar kos, yaitu rumah tua yang ada tepat di seberang. Pagar depannya adalah tembok setinggi dua meter dengan pintu besi yang telah berkarat. Cat putih yang melapisinya telah pudar, kusam serta mengelupas dan mulai berlumut. Dari atas sini, bisa melihat balkon rumah itu. Tak jauh berbeda dengan keadaan luar, bangunan itu juga terlihat kumuh.

Tentang kamar sebelah, jarang ada yang menyewa. Kalaupun ada, mereka akan bertahan paling lama dua bulan, lalu pindah ke kos lain atau ke bawah. Sedangkan penghuni baru ini, sepertinya justru menyukai lokasinya yang tersendiri. Dia selalu pulang malam, diantar lelaki yang kutebak adalah kekasihnya. Lelaki itu selalu singgah ke kamar. Kudengar nama mereka Dina dan Rayyan.

"Kamu tadi lihat itu?" Dina menggamit tangan Rayyan erat, suatu malam saat lelaki itu hendak pulang.

"Lihat apa?"

"Di balkon rumah depan, aku melihatnya. Aku takut, kamu tidur di sini saja ya!" Dina merengek.

"Mana? Nggak ada lho!" Rayyan melongokkan kepalanya.

"Serem banget ... aku lihat tadi."

"Ya sudah, aku nginep aja. Nanti kamu malah nggak bisa tidur." Rayyan memutar langkah, masuk kembali ke kamar. Terdengar suara pintu ditutup dengan cepat.

Cih!

Aku bergidik jijik. Dia benar-benar lihai memanfaatkan peluang. Tetapi kupastikan, tak lama lagi dua makhluk itu harus angkat kaki.

Sosok di balkon itu, aku juga melihatnya.

Rumah itu dulunya milik sepasang suami istri pengusaha beretnis Tionghoa bernama Ko David dan Ci Melanie. Mereka memiliki bisnis toko pakaian yang cukup sukses. Meski umur mereka tak lagi muda tetapi karena kejayaan usaha, Ci Melanie tak kalah dengan gadis-gadis berpenampilan modis. Hanya saja, mereka belum punya anak.

Saat itu, aku adalah karyawan di toko mereka. Pada masa kejayaan bisnisnya, kebakaran hebat terjadi di pusat perbelanjaan di mana toko Ci Melanie berada. Seluruh barang habis terbakar dan kami berdua juga ikut terbakar. Ko David saat itu tidak berada di toko. Begitu mendapat kabar, dia langsung lari ke toko, mendapati petugas damkar mengevakuasi para korban.

Puluhan tangki pemadam tak henti menyemprotkan air. Ko David menemukan Ci Melanie dengan luka bakar di seluruh tubuh di angkut oleh petugas menuju mobil ambulance dan segera dilarikan ke rumah sakit. Setelah kejadian itu, Ko David bangkrut. Dia hancur dan sering mabuk-mabukan. Namun perlahan, dia sadar untuk tetap bertahan hidup. Meskipun harus lontang-lantung dengan pekerjaan yang tak tentu.

***

Bukankah cerita mistis masih familiar membumbui sudut kota metropolis? Bahkan beberapa orang modern masih meyakininya. Kadang mereka menjadikannya bahan obrolan berbisik yang seru dan menegangkan, tetapi kemudian melupakannya begitu saja.

Rayyan jadi keseringan menginap karena alasan Dina takut sendirian.

Jadi, kali ini akan kuusir mereka dengan caraku. Malam itu, ketika mereka masuk ke kamar dan Dina seperti biasa akan menutup pintu, aku sengaja berdiri di depan pintunya.

"Siapa itu?!" serunya.

Aku membalikkan badan, menunjukkan wajah dan tubuh yang melepuh sempurna. Bau sangit daging terbakar menguar ke kamarnya. Bau dagingku yang terbakar di toko Ci Melanie waktu itu. Yaa ... Ci Melani memang selamat. Namun semangat hidupnya mati sejak hari itu, menyisakan sesosok tubuh dengan luka bakar tak sembuh, yang sering melamun di balkon saat hari gelap. Ko David dan rumahnya jadi tak terurus bahkan mengurus dirinya sendiri saja, dia kesulitan.

 Dina menjerit seperti kesetanan, mengundang penghuni kos di lantai bawah. Mereka bergegas naik dan mengerumuni perempuan yang suka diam-diam menyelinapkan pria di kamarnya itu. Kini mereka tahu kenyataan itu. Dan besoknya, Dina angkat kaki entah cari kamar sepi di mana lagi.

#ceritamisteri