Rahasia di Balik Kebaya Encim

www.qureta.com

Pemakaman Sandiego Hill, April 2019

Hari ini adalah hari raya Ceng Beng dimana etnis Tionghoa biasanya berziarah ke makam orang tua, bersembahyang dan membersihkan pusara.

Aku melihat  Junaedi, putra bungsuku yang sudah berusia 34 tahun dan masih melajang datang bersama seorang perempuan muda yang cantik.  Perempuan ini sangat anggun karena memakai kain kebaya encim.  Kainnya warna cerah dengan motif burung Hong. 

Junaedi dan perempuan itu membakar dupa dan membakar uang kertas arwah di depan pusara, Tertulis nama Tan Giok Nio alias Amoy yang lahir di Bogor 1950 dan meninggal di Jakarta pada 2017.

Junaedi pun kemudian berkomat-kamit sambil berdoa:

“Mama, Ini Susanti, calon menantu mama . Kami berdua mohon restu,”

Saya tersenyum bahagia karena melihat wajah Susanti sangat mirip dengan wajah Emak.

***

Aku baru berusia 7 atau delapan tahun ketika Emak meninggal di awal tahun 1958.  Emak merupakan panggilan untuk nenek yang merupakan ibu dari mama.  Tidak terlalu banyak kenangan yang aku ingat dari Emak yang sehari-hari selalu memakai kain dan kebaya khas orang Tionghoa Peranakan zaman dahulu. 

Sebelum meninggal, emak mewariskan beberapa bentuk gelang emas dan beberapa helai kebaya encim buat mama.  Kain dan kebaya itu tidak pernah dipakai oleh mama dan hanya disimpan saja di lemari. Demikian juga dengan gelang dan perhiasan yang diwarisinya.

“A Moy,” panggil mama beberapa hari sebelum aku menikah setelah dua tahun berpacaran dengan A Liong pada saat usiaku 18 tahun.  Kejadiannya pada tahun 1968.

“Ya Ma,” kataku takzim bercampur sedikit sedih karena setelah menikah aku harus ikut A Liong ke Makassar. Maklum papa A Liong baru saja meninggal di Makassar dan dia harus meneruskan usaha di kota terbesar di pulau Sulawesi itu.

 “Ini gelang, perhiasan dan kain kebaya warisan Emak, A Moy harus menyimpannya baik-baik dan kalau bisa jangan sampai dijual.” Kata mama lagi sambil memeluk diriku.  Kebetulan aku anak perempuan paling besar dan satu-satunya. Dua adikku, semuanya laki-laki.  Emak juga bilang bahwa perhiasan dan kebaya Encim itu juga harus diwariskan kepada anak perempuanku nanti.

Aku memperhatikan kain bercorak batik Lasem dengan warna ceria dan bergambar burung Hong itu dan kemudian melipatnya dengan hati-hati. Selain itu ada juga selembar kain segi empat bermotif naga atau liong.  Mama kemudian bercerita bahwa kain itu bernama tokwi dan biasanya digunakan untuk menutup altar di meja persembahan orang Tionghoa.  Konon kain-kain itu berasal dari Lasem, di pesisir utara Jawa Tengah.

Sambil menyimak perkataan mama, aku menyimpan semua pusaka warisan itu baik-baik.  Semoga aku tidak akan menjualnya dan nanti bisa diwariskan kepada anak perempuanku.

Mama meninggal satu tahun  setelah pernikahanku dengan A Liong, meninggalkan papa dan dua orang adik lelaki yang masih remaja. 

Ujung Pandang 1977

Waktu terus berlalu. Tidak berasa kini usiaku sudah mendekati dua puluh tujuh tahun dan sudah sekitar 9 tahun aku menikah.  Namun hingga saat ini aku dan A Liong belum juga diberi momongan.  Akhirnya kami mengambil seorang anak perempuan dari sebuah panti asuhan yang kami beri nama  Siu Lan atau Susi.  Anak yang cantik dan manis dan sudah kami anggap sebagai anak sendiri.

Setelah mengambil Siu Lan, tiga tahun kemudian aku pun mengandung  sehingga pada 1981 aku melahirkan anak lelaki yang kami beri nama Jefri.   Dua tahun kemudian, lahir adiknya yang juga lelaki dan kami beri nama Junaidi.   

Tahun 1985, A Liong memulai usaha baru dan kami pindah ke Bandung. Keluarga dengan tiga anak yang berusia 8, 4, dan 2 tahun ini kemudian bermukim di kawasan Setia Budi, Bandung Utara.  Aku sendiri sudah berusia sekitar 35 tahun.    

Waktu terus berlalu dengan cepat tidak terasa Susi sudah lulus SMA. Dia tidak mau kuliah tetapi membuka usaha sendiri berupa sebuah salon.  Pada awal 1998, di usianya yang ke 21, Susi sudah dilamar oleh Rahmat, seorang pemuda asal Jakarta  yang kemudian mengajak Susi tinggal di Jakarta.

Aku kemudian ingat pesan Emak, karena Susi akan pindah ke Jakarta, akhirnya kain kebaya dan gelang warisan Emak pun Aku wariskan kepada Susi.  Dengan pesan dan cerita yang sama seperti yang dikisahkan Mama kepadaku dahulu.

Namun tiga bulan sejak pernikahan Susi dan Rahmat, Aku terus mendapat mimpi buruk. Seorang perempuan Tionghoa terus memanggil-manggil namaku sambil seakan-akan meminta kain kebaya miliknya.  Sekilas perempuan itu mirip Emak, namun kurang jelas karena hanya mimpi.

Pada bulan ke empat setelah pernikahan, Susi jatuh sakit. Bersamaan dengan riuhnya suasana politik pada Mei 1998, Susi meninggal. Di usia yang masih sangat muda yaitu baru saja sekitar 21 tahun. Tepat pergantian milenium, di tengah hingar bingar pesta menyambut 1 Januari 2000, Rahmat kemudian mengembalikan kain kebaya encim dan gelang kepadaku sambil mohon izin untuk menikah lagi.  

Benda warisan itu kembali menjadi milikku.  Pada usiaku yang memasuki setengah abad.   Kehidupan terus berlanjut.    Jufri dan Junaedi kemudian beranjak dewasa.

Pada usia 28 tahun tepat nya tahun 2011,  Jefri minta aku dan A Liong untuk melamar Mei Lan, gadis cantik teman sekantornya.  Tidak perlu menunggu lama, pernikahan Jefri dan Meilan berlangsung pada tahun itu juga ketika aku sudah berusia 61 tahun. Aku kembali berbahagia karena mendapatkan menantu perempuan yang cantik yang bisa kuanggap sebagai pengganti putri angkatku yang sudah meninggal.   

Sebulan setelah mereka menikah, aku kembali meneruskan ritual mewariskan kain kebaya encim yang aku miliki kepada Mei Lan. Dengan senang hati dia menerimanya dan berjanji akan menjaganya sesuai pesanku.

Namun nasib malang kembali menimpa menantuku ini. Tiga bulan setelah menerima kain kebaya encim dariku, Mei Lan jatuh sakit dan meninggal. Ketika itu Ia sedang mengandung muda tiga bulan. Kain kebaya encim kembali menjadi miliku.

Kesedihan kembali menggelayut di kehidupanku.  Kesedihan ini terus berlarut hingga 2014,  tiga tahun sesudah Mei Lan meninggal, Jefri belum juga mau menikah lagi. Sementara Junaedi  yang sudah berusia 29 tahun belum juga mau menikah.

Dan aku terus menua bersama dengan kebaya encim warisan emak.     

***

Tahun Baru Imlek 2020

Di rumah Junaedi dan Susanti ada altar sembahyang. Kulihat fotoku dan buah-buahan persembahan di atas altar yang dilapisi kain tokwi bermotif liong.    Kain tokwi dari emak yang terselip di balik kebaya encim.

16 Februari 2021      

#ceritamisteri