Guci Penyimpan Raga

Guci

Ini tahun ketiga imlek tanpa ahma, aku yang biasa kerepotan setiap kali bertemu imlek. Kini tak perlu lagi. Selentingan sebuah kejutan disiapkan Tuan A Cuan untukku. Meski hanya sebagai asisten rumah tangga aku diperlakukan sangat baik di keluarga ini. Pertama kali datang kerumah ini aku bekerja untuk merawat ahma yang sudah tak sehat lagi. Kelainan hati yang dideritanya membutuhkan konsentrasi dan perawaatan khusus.

Meski hanya setahun 2 bulan saja aku merawat ahma. Tapi kedekatan diantara kami begitu kuat. Saat ahma meninggal hanya aku seorang yang ada disisinya. Aku mengikuti setiap prosesi hingga kremasi selesai. Bahkan ikut bergiliran menunggui jenazah sebelum di kremasi. Aku pikir setelah kremasi selesai tak ada lagi konflik di keluarga ini tapi ternyata masih juga tersisa.

Merasa paling berhak atas abu ahma dan tulang belulangnya. Kelima anaknya berebut untuk menyimpannya. Saat ketegangan terjadi, aku coba menyela.

“Ada baiknya jangan ada yang memisahkan setiap bagian yang telah menjadi abu. Ahma ingin sepeninggalnya anak-anak rukun dan bahagia.” Ujarku mengingatkan

“Tuan dan Madam bisa bergantian menjaga abu ahma. Cukup tempatkan saja pada sebuah guci yang sederhana untuk menyimpan serpihan, agar tak hilang diterpa angin,” lanjutku lagi

Akhirnya mereka mendengarkanku. Tahun ketiga abu ahma disimpan di rumah yang aku tinggali, Madam Poh anak keempat dari lima anak ahma. Memiliki dua anak laki-laki Yu Hen dan Yu Han. Masing masing berumur 18 dan 21 tahun.

Imlek tahun ini terasa berbeda. Kami semua berkumpul dirumah Tuan A Cuan yang terletak di Payo Lebar. Ahma memiliki lima orang anak A Cuan, A Gong, A Guan, Ah Poh dan Ah Hwa. Kedatangan kami disambut meriah oleh keluarga Tuan A Cuan. Kebiasaanku saat perayaan imlek langsung menuju dapur membantu semua pekerjaan.

Disela-sela kesibukan tak elak menerima ucapan selamat tahun baru dan tradisi ang paw. Sesaat keriuhan pesta terhenti saat Tuan A Cuan memanggilku.

“Siti, kemarilah!”

Aku menuju suara. Kulihat semua orang sedang mengelilingi meja makan. Sebuah benda ditutup kain warna merah khas imlek berada tepat di tengah-tengah meja makan.

“Surprise!”

Seru Tuan A Cuan seraya membuka kain penutup itu. Sebuah rumah-rumahan kecil yang dibuat dari stik es krim begitu manis. Tapi tunggu ada yang membingungkan. Sepertinya aku mengenali patung mini yang berdiri di pintu bagian luar dan miniatur seekor anjing dolpin.

“Bukankan itu aku?” tanyaku seraya menunjuk patung mini itu.

“Iya Siti itu emang patungmu, dan rumah itu berisi abu ahma. Ini bentuk rasa terimakasih kami karena kau telah merawat dan menjaga mami dengan baik.” Tutur Tuan A Cuan.

Tanpa terasa air mata menitik. Terharu oleh perhatian keluarga ahma.

“Apa itu cukup untuk menyimpan semuanya tuan?” tanyaku seraya mengira-ngira dengan pandangan.

“Tak cukup untuk disimpan semua, beberapa bagian masih tersimpan di guci.” Jawab Tuan A Cuan sambil menunjuk guci tempat penyimpanan abu ahma sebelumnya.

“Ada baiknya rumah-rumahan ini diperbaiki tuan, hingga menyimpan seluruhnya.” Kataku mengingatkan.

“Yu Hen mau menyimpan sebagian abu dan beberapa bagian untuk di simpan sendiri.” Kata Tuan A Cuan.

Mungkin itu cara mereka memperlakukan yang sudah tiada. Cinta tak melulu harus dituliskan dan diungkapkan. Karena cinta hanya hati yang mengetahui ketulusannya. Pesta kembali meriah. Canda dan tawa, berbagi kisah tentang masa kecil mereka. Hingga lupa bahwa sebulan setelah ini aku pulang ke Indonesia tanpa memperpanjang kontrak kerja.

Hari kepulangan tiba. Dua hari sebelumnya aku telah memastikan mengepak semua dengan baik tanpa ada barang-barang yang tertinggal atau terbawa. Aku meminta Madam untuk memeriksa kembali, khawatir ada barangnya yang terbawa. Berbagai hadiah aku terima dari semua anak-anak ahma. Terharu juga sedih karena aku tak lagi bisa berada ditengah-tengah mereka.

Boarding pass semua dilewati dengan lancar. Tak ada satupun koper yang terdeteksi membawa barang-barang mencurigakan. Tapi entah kenapa hatiku merasa ada yang janggal. Setelah selesai berpamitan pada Madam Poh dan Yu Hen yang saat itu mengantarku ke Bandara Changi. Aku segera memasuki pesawat yang tak lama setelah itu melaju.

Setibanya di rumah aku terlalu lelah hingga tak sempat membuka koper. Sibuk melayani keluarga yang datang bertandang karena ingin bertemu dan oleh-oleh. Hingga saat aku terbangun tepat tengah malam. Aku segerakan untuk sholat isya, karena ketiduran setelah maghrib. Selesai itu barulah aku bongkar isi koper untuk menyusun dan menyimpan semua barang-barangku. Sampai tiba-tiba.

Plukkkk!

Sesuatu jatuh dari tumpukan pakaian dan hadiah-hadiah yang sedang kubuka. Mataku terbelalak saat menyadari benda yang jatuh.

“Tulang dan Abu!”

Sementara itu Yu Hen di kamarnya sedang asyik bermain game, tiba-tiba guci berisi abu Ahma dan beberapa bagian yang di simpan diatas lemari jatuh dan pecah berserakan. Terlonjak kaget Yu Hen memandang guci penuh keheranan.

“Kosong?”