Mengapa Orang Tionghoa Sering Disebut Maniak Uang?

Dewa Uang (sumber foto: tionghoa.info)

Memang tiap orang pasti ada plus minusnya. Orang Tionghoa sering disebut maniak uang, padahal sifat ini tidak dapat digeneralisir. Kita ketahui ada seorang dokter keturunan Tionghoa di Surabaya yang justru meninggalkan jabatannya pada sebuah rumah sakit guna mengabdikan dirinya untuk menolong kaum marjinal di kota Surabaya, tanpa biaya justru dokter ini yang sering membantu pasiennya. Seorang dokter keturunan Tionghoa di Solo juga terkenal sangat dermawan, dan selalu membantu rakyat kecil yang tidak memiliki dana untuk berobat.

Mengapa stigma maniak uang ini bisa terpateri pada orang Tionghoa? Memang ada yang salah kaprah. Dulu ketika saya masih kecil, saya hanya mengenal ucapan “Sin Coen Kiong Hie” pada saat merayakan hari raya Tahun Baru Imlek. Namun mulai tahun 2000-an, saya mulai mengenal dan cukup popular di dunia ucapan “Gong Xi Fa Cai” yang artinya semoga selalu kaya raya. Selidik punya selidik, ternyata ucapan ini asalnya berasal dari pengemis di Hong Kong yang minta uang kepada orang kaya, agar mereka diberikan uang yang nilainya cukup besar, maka mereka memberikan ucapan “Gong Xi Fa Cai”. Dan akhirnya ucapan ini mendunia.

Padahal orang Tionghoa tidak hanya rajin bekerja mencari uang, namun juga sering berbagi uang (sedekah), dan juga tentunya senang mendapatkan uang (keuntungan). Akibat sangat dekat dengan uang, maka secara salah kaprah disimpulkan orang Tionghoa sangat mencintai uang,

Ucapan ini akhirnya menjadi pembenaran, bahwa orang Tionghoa benar sangat maniak uang. Terlebih lagi di kalangan orang Tionghoa dikenal memiliki figur dewa uang, atau dewa kekayaan yang selalu dipuja yaitu Tsai Shen Yeh. Orang yang ingin mendapatkan rezeki, umumnya selalu memuja Dewa Uang agar bisnisnya lancar dan mendapat banyak keuntungan.

Disamping stigma negatif ini, Imlek ternyata memberikan filosofi yang patut ditiru oleh bangsa lain. Imlek selalu menganjurkan reuni keluarga sehari sebelum Tahun Baru Imlek. Mereka merayakan reuni keluarga dengan melakukan acara makan malam besar dengan lauk pauk terbaik sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang telah di dapat sepanjang tahun. Keesokan harinya, tepat pada Tahun Baru Imlek, anak-anak memberikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek, “Sin Coen Kiong Hie” kepada orang tuanya, sambal memberikan amplop merah yang disebut angpau, sebagai tanda kasih dan hormat kepada orang tuanya. Juga orang tua memberikan angpau kepada anak-anak atau cucu sebagai ungkapan rasa sayang dan keceriaan, khususnya kepada anak-anak dan cucu yang masih belum menikah, karena status menikah adalah batasan orang disebut dewasa.

Acara makan malam keluarga juga melambangkan kerukunan dalam keluarga. Kerukunan antara orang tua dan anak, kerukunan suami – isteri akan membawa dampak penting dalam keluarga, dalam pertumbuhan anak. Di dalam keluarga setiap orang harus saling menghormati. Agar dapat menerima setiap orang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kemudian tiap anggota keluarga saling membantu agar tercapai keseimbangan dalam kehidupan. Suasana kerukunan dan saling menghormati antara setiap anggota keluarga harus dipertahankan setiap hari sepanjang tahun, dan tidak terbatas hanya saat Imlek saja.

Oleh karena itu mari tinggalkan ucapan Selamat Tahun Baru Imlek yang salah kaprah “Gong Xi Fa Cai” dan kembalilah kepada ucapan yang benar yakni “Sin Coen Kiong Hie”. Mengenai pemujaan terhadap Dewa Uang atau Dewa Kekayaan biarlah menjadi misteri sendiri.