Aku Bersamamu

wallpaperflare.com

Beberapa orang memilih berhenti. Tidak mundur maupun beranjak maju. Mirip video stagnan, mereka bergeming tanpa melakukan apa pun.

Saat ini, suasana belum sepenuhnya gelap karena masih pukul empat sore. Tetapi, mendung di sebagian besar bidang langit membuat siapa pun ingin segera sampai di rumah, lalu menikmati makan malam mereka.

Setidaknya, itulah yang kurasakan.

Bocah itu duduk di sana, di seberang jalan setapak taman kota tempatku membuang-buang waktu sekarang. Dia laki-laki muda, remaja. Rautnya mirip adikku yang masih berada di tingkat sembilan. Aku memang menyebutnya bocah, tapi tinggi badannya sepertinya lebih dari 170 sentimeter. Kurus dan memprihatinkan.

Dia merapatkan jaket sambil sesekali celingukan.

Aku kenal ekspresi itu. Mulut merengut, cahaya mata yang redup, dan tarikan napas beritme labil. Dia sedang berharap pada sesuatu yang hampir tidak ada harapan. Bocah itu sebentar lagi bakal mencapai batas.

Tanpa bisa menahan, kaki membawaku ke tempatnya.

“Kamu lagi nunggu orang?” sapaku.

Dia heran sesaat, lalu mengangguk ragu. “Iya.”

Aku duduk di sampingnya. “Bentar lagi hujan. Kenapa enggak nunggu di mana gitu? Tempat yang ada atapnya.”

Dia menggeleng mantap. “Aku di sini aja. Takut enggak kelihatan. Aku enggak bawa ponsel.”

Dingin. Telapak tangan kami pucat. Dia beberapa kali mengatup rahang karena belaian angin sejuk. Kalau saja aku tahu caranya mencairkan suasana, kami mungkin tidak akan mirip dua orang dari dimensi berbeda. Diam, tidak sengaja saling lirik, lalu mengalihkan pandangan ke sekitar taman ramai pengunjung ini.

Canggung.

“Umurmu berapa?” bukaku.

“Lima belas.”

Dugaanku tepat.

“Tinggal di mana?”

“Sekitar 30 kilometer dari sini.”

“Mulai kapan nunggunya?”

“Dari tadi.”

Apa dia sedang merahasiakan sesuatu? Bisa jadi. Jawabannya membosankan.

“Ke sini buat ngapain?”

Dia mengernyitkan bahu. “Main-main.”

Aku jadi terkesan seperti perempuan mesum. Bertanya, lalu mengajak anak di bawah umur ini ke suatu tempat dengan dalih memberinya hiburan. Aku ingin marah rasanya.

“Kamu enggak lagi kabur dari rumah, ‘kan?”

Raut sendu itu berangsur kesal. “Enggaklah.”

Rintik air super kecil mulai turun. Kulit tanganku bisa merasakannya. Aku sudah mau beranjak, tapi bocah ini tidak. Dia malah semakin merapatkan punggung ke sandaran bangku. Rasa penasaran melenyapkan keinginanku untuk pergi.

“Kita tunggu sama-sama,” kataku.

“Duluan aja, mereka bentar lagi datang kok.”

Selama tidak benar-benar mesum, tidak masalah dianggap begitu. Aku pun ikut merapatkan punggung. “Udah lama enggak main hujan.”

Sudah hampir lima belas menit kami bungkam. Selain gerimis kecil, langit belum mengirim air dalam ukuran lainnya. Dia menggerak-gerakkan tumit. Itu adalah tanda dia mulai hilang kesabaran.

“Namamu siapa?” mulaiku lagi.

Mungkin karena bosan, dia akhirnya menerima ajakanku untuk mengobrol. “Kian. Ada juga yang manggil Kiki.”

Aku tertawa pelan. “Kiki juga bagus. Kedengaran imut.”

“Tergantung. Kalau dibarengi dengan tonjokan di perut, mana imut.”

Dari nada bicara Kian, omongannya bernilai 50-50. Dia bisa jadi sedang bercanda, atau malah sebaliknya.

“Di sini bukan daerah hang out yang rame. Kalian mau main di mana?”

Menggunakan ujung hidungnya yang mancung, dia menunjuk ke utara taman. “Agak jauh kalau jalan kaki, tapi ada lapangan futsal di sana. Indoor, jadi biar hujan, kami masih bisa main.”

Dugaanku benar.

“Ini tanggal berapa? Aku lupa,” pancingku.

“Tanggal 1. Setiap Jumat, kami pasti pergi main futsal.”

Tetapi, sekarang Senin, yaitu tanggal 1 di bulan selanjutnya.

“Kenapa enggak nunggu di lapangannya aja sekalian? Kalau memang jadi, kalian pasti ketemu di sana.”

Mustahil. Kebakaran yang terjadi di tanggal yang sama bulan lalu sudah membakar daerah yang dia maksud, termasuk lapangan olahraga pribadi tersebut. Ke sana hanya akan membuat hatimu remuk. Apa aku cegah saja? Atau, aku juga bisa mengatakan yang sebenarnya.

Eng- kejujuran adalah yang terbaik.

“Kian, dengar baik-baik.”

Dia membalas tatapanku. Aah, aku hampir merasa tidak tega.

“Iya?” jawabnya.

“Hari ini memang tanggal 1, tapi hari Senin.” Aku tidak boleh kendur. “Sebulan yang lalu, lapangan futsal yang kamu ceritakan itu terbakar habis. Katanya, ada korban tewas di sana. Anak-anak. Mereka kejebak di kamar ganti.”

Mungkin, dijebak adalah istilah yang paling tepat. Hatiku sesak hanya dengan membayangkan kejadian saat itu. Aku harap Kian bisa menerima kenyataan pahit yang kumuntahkan.

Em? Bukannya terkejut, Kian malah menatapku dengan mata menyipit. Percikan rasa sangsi menyebar di udara. “Kakak ngomong apa?”

Lihat! Penyangkalan adalah tahapan yang tidak bisa kamu hindari ketika menghadapi guncangan hidup.

“Aku bicara soal hari kematianmu. Tenang, Kian, kamu bukan arwah pertama yang kutemui. Kamu bisa percaya padaku.”

Kian akhirnya tersenyum, tersenyum meremehkan. Dia pasti menganggapku sinting. Dia juga mengeleng-gelengkan kepala. Wuah, senyum bocah ini lebih menyebalkan daripada raut merengutnya.

Aku bangkit. “Ya sudah. Aku enggak maksa kamu buat percaya.”

Lalu, sebelum kaki jauh melangkah, Kian memanggilku lagi. “Aku bukannya enggak percaya, kak, tapi itu bukan aku. Kebakarannya tahun lalu, ‘kan?”

“Maksudmu?” Aku memutar tubuh ke arahnya.

“Hari ini Jumat, tanggal 1 bulan April, tahun 2022,” tambahnya.

Sengatan kecil menyerang jantungku. Tetapi, aku belum boleh kalah. “Enggak usah menyangkal, Kiki. Ini masih Februari 2021. Kita lihat aja nanti siapa yang benar.”

Aku melanjutkan langkah tanpa menoleh ke belakang. Saat melintasi papan buletin taman, mataku menangkap penampakan beragam selebaran. Di antara kerumunan kertas pengumuman dan promosi, beberapa selebaran berisi info orang hilang tertempel miring.

Gerimis kembali datang, dan aku berniat meninggalkan area taman. Namun sebelum itu, aku mencegat seorang pejalan kaki wanita berwajah kusut.

“Mbak, sekarang Senin tanggal 1, ‘kan?”

Walaupun sempat kebingungan, dia menggangguk juga. “I-iya.”

Tuh!

“Terima kasih, mbak.”

Dia berlalu.

“Mbak!” seruku.

Dia berbalik dengan wajah kesal.

“Bulan dan tahun berapa?” tanyaku memastikan.

Dia menghela napas. “Juli, tahun 2019.” Wanita itu pergi tanpa memedulikanku.

Kuperhatikan lagi papan buletin, wajahku ada di antara barisan foto orang-orang yang belum ditemukan. Kertas yang sudah menguning dan rusak sebagian hanya menyisakan wajah bulat telurku.

Aku berdeham. “Kenapa kertasnya di sini? Ck! Enggak asyik banget.”

Kian menyunggingkan senyum saat melihatku kembali duduk di dekatnya.

“Sudah kubilang, ‘kan? Itu bukan aku,” katanya.

“Terserah. Aku temani kamu aja deh.”

_

Setelah baca cerpen satu ini, apa kalian merasa kesal? Kalau iya, itulah yang kusuka.

Kali ini giliran lagu Avril Lavigne “I’m With You” yang memberiku ide cerita.

Terima kasih banyak untuk kedatangannya, dan selamat berimajinasi sesuka hati..

(Imel)