Misteri Angpau Yi Ping yang Raib

Ilustrasi-google image & galeri ani wijaya

Semenjak bertahun-tahun lalu,  kami-keluarga dari papa- tidak lagi merayakan Imlek. Sebab saudara-saudara dari nenek yang beretnis Tionghoa sudah tidak lagi meneruskan tradisi ini. Namun, kenangan masa kecil yang pernah aku alami. Terutama tentang misteri angpau yang raib  tidak pernah terlupakan.

Nenek memanggilku Yi Ping. Menurutnya aku mirip sekali dengan pemeran utama serial 'Kabut Cinta' yang sempat tayang di televisi. Bentuk wajahku oval, dihiasi mata sipit, hidung mancung dan bibir mungil bergelombang. Rambut hitam lebat yang lurus sempurna. Ditambah kulit seputih susu.

Awalnya papa melarang aku untuk ikut saat nenek dan kakek menjemput ke rumah. Tetapi akhirnya mama berhasil meyakinkan papa untuk memberikan izin. Semalam aku dengar mereka meributkan sesuatu, mama terisak sambil mengatakan sesuatu yang tidak aku pahami. Mereka mungkin berpikir aku telah tidur nyenyak.

Aku dipakaikan baju Cheong Sam berwarna merah dengan beberapa aksen berwarna emas. Nenek membelikan khusus untuk dipakai hari ini. Rambutku dikepang dua dan diberi pita yang juga berwarna merah oleh mama. Cantik sekali, kata mama merah adalah warna penuh keberuntungan, suka cita juga keceriaan. Tetapi wajah mama terlihat muram, meskipun matanya semerah warna bajuku.

Nenek mengajak aku ke rumah milik keluarganya yang ditempati turun temurun. Konon kakek dan nenek buyutku memang asli berasal dari RRC. Belakangan aku baru tahu bahwa keluarga besar nenek, sempat marah pada papa karena memperistri orang pribumi, yaitu mamaku. 

Pantas saja papa sering melarang aku ikut, saat nenek mengajak menginap di rumahnya. Atau ketika kakek memberiku uang jajan saat berkunjung, papa tidak pernah menerima. Padahal akhir-akhir ini papa sering mengeluh tak memiliki uang karena tak lagi bekerja. Dan saat itulah tanpa sengaja aku kerap melihat mama berurai air mata.

Aku diajarkan oleh nenek untuk memberikan salam saat nanti bertemu dengan kukong, serta opa oma dan nenek mamih yang dipanggil yiie oleh papa. Sebelah tangan terkepal dan ditempelkan ke satu tangan yang lain sambil sedikit membungkuk dan mengucapkan 'kuaile xinnian' atau 'gong xi gong xi'. 

Setelah itu aku diberikan amplop kecil berwarna merah, kata Koko Apin sepupuku, isinya adalah uang. Aku memasukkan ke dalam tas rajut merah buatan ibu yang sudah menggembung karena terisi banyak angpao.

"Kamu harus cepat-cepat membelanjakan uang angpao itu. Kalau disimpan lama-lama nanti keburu diambil hantu Sui," Koko Apin berbisik sambil merapikan lembaran angpao, "hantu Sui itu yang suka deketin anak-anak pas malem-malem, kalau kita gak punya angpau, pasti dibikin demam sampai kejang-kejang. Nah, kalau kita punya banyak angpao, pasti diambil isinya."

Aku cuma mengernyitkan dahi, meragukan kebenaran cerita Koko Apin. Nanti, setelah pulang ke rumah akan aku tanyakan pada papa. Menurut Koko Apin, hantu Sui itu perempuan. Rambutnya panjang sebahu dan memakai baju putih. Dia pernah mengintip saat tiba-tiba hantu Sui datang tengah malam dan mendekati tempat tidurnya. Saking ketakutan, ternyata Koko Apin sampai mengompol dan tentu saja mamanya marah-marah. Sedangkan Koko menangis, bukan sebab dimarahi melainkan karena isi dari angpao-angpaonya lenyap tak bersisa.

Menjelang sore kami dan keluarga besar nenek mengunjungi Vihara di Jalan Kelenteng. Bangunan ini termasuk Vihara tertua yang ada di Jawa Barat.  Tempat sembahyang umat Budha ini dihiasi ornamen-ornamen etnik Tionghoa berwarna merah. Apalagi pada saat perayaan Imlek seperti sekarang, lampion dan umbul-umbul berjajar memyambut para pengunjung.

Para pemain barongsai telah beratraksi diiringi alat musik tambur yaitu simbal, gong dan gendang yang ditabuh hingga mengeluarkan irama ritmis. Semua penonton bersorak sorai sambil melambaikan selembar angpau. 

Barongsai berbentuk singa bertanduk yang dimainkan oleh dua orang. Para pemain barongsai melakukan beberapa atraksi akrobatik. Aku sendiri terpukau saat melihatnya pertama kali. Ditambah atraksi dari pemain yang membawakan naga merah. Sehingga tanpa henti aku terus bertepuk tangan. Nenek memberikan selembar angpau padaku untuk diselipkan ke mulut barongsai. 

Pertunjukkan kedua adalah tentang legenda Imlek. Seorang kakek berpakaian jubah merah membawa dong kecil di tangan. Dia menceritakan tentang monster Nian yang suka merusak dan memakan manusia. Tetapi seorang pengemis tua berhasil mengusirnya dengan menghiasi seluruh desa dengan benda-benda berwarna merah. Juga membunyikan alat-alat musik dan menyalakan kembang api. Sampai akhirnya monster Nian ketakutan dan  pergi untuk selamanya. 

Setelah hari mulai gelap, puluhan kembang api dinyalakan. Pendaran warna-warni yang cerah dan meriah mewarnai langit bersaing dengan bintang-bintang yang memilih bersembunyi. Berakhir sudah rangkaian pertunjukan di Vihara kali ini. Satu persatu pengunjung mulai membubarkan diri, termasuk Koko Apin bersama mama papanya. Dan nenek kakek yang langsung mengantarkan aku pulang.

Aku teramat senang, tak henti bercerita pada mama tentang hari ini. Sebelum tidur, berkali-kali aku melihat isi angpau untuk menghitungnya dan merapikan kembali ke dalam tas. Sampai saat tidur pun tas rajut buatan mama itu aku genggam. Tetap saja khawatir kalau cerita Koko Apin akan benar-benar terjadi. 

Saat bangun pagi keesokan harinya, melakukan hal sama. Ternyata isi angpau milikku masih sama, tak ada yang berubah. Aku yakin Koko Apin pasti berdusta tentang cerita hantu Sui itu. Sampai hari ketiga, saat pagi hari aku mengeluarkan amplop merah kecil dari tas rajutku. Isinya semua hilang, hanya tinggal angpau kosong. Sontak aku menangis, berteriak memanggil mama yang raut wajahnya langsung berubah sedih.

Papa malah marah, mengatakan padaku untuk berhenti menangis. Dia berjanji akan memberikan uang yang lebih banyak daripada isi angpauku. Padahal aku ingin sekali menggunakan untuk membeli sepeda yang sudah aku idam-idamkan sejak lama. Tetapi mama dan papa selalu mengatakan belum memiliki uang.

Berhari-hari tanpa sepengetahuan papa dan mama aku masih menangisi isi angpau yang tiba-tiba raib. Nenek kemudian datang berkunjung bersama Koko Apin. Beliau menenangkan aku dengan cerita kalau itu adalah benar-benar perbuatan hantu Sui. Nenek juga berjanji akan membelikan aku sepeda bila mau berhenti menangis dan melupakan isi angpau yang hilang.

"Aku bilang juga apa," cetus Koko Apin dengan nada mengejek sambil memamerkan PSP terbaru yang dibeli dari uang angpau miliknya.

Tahun-tahun selanjutnya, saat masih menerima angpau. Aku langsung membelanjakan uangnya, apa saja aku beli bahkan yang tidak perlu. Karena takut kejadian sama terulang. Sampai akhirnya sejak tak ada lagi perayaan Imlek di keluarga kami. 

#misteriangpau

#imlek

#aniwijaya