Pulang

Ilustrasi by Pinterest

"Mah, aku pulang." bisikku lembut. 

Dia bergeming. Terlalu lelap dalam tidurnya hingga tak mendengar suaraku. Suara putrimu yang telah kau nanti sekian lama. Berlutut di depannya, mengecup hati-hati kening yang kini mulai ditumbuhi garis-garis halus. Rambutnya sudah terlihat memutih dan gurat kelelahan terlukis dari wajah yang kian mengeriput. Ada tetes embun di sudut matanya yang terpejam. Kini sosok yang sangat kurindu ada di hadapan.

"Jangan pergi!" cegahmu dulu. Masih terdengar lamat-lamat kalimat yang waktu itu hanya aku anggap angin lalu. Tidak mau mengerti akan rasa khawatir yang rimbun di dadamu. Aku tidak peduli, impian itu telah membajak nalarku. Gunung Fuji, bunga sakura dan setumpuk keinginan yang memenuhi isi kepalaku. Lalu laki-laki itu datang menawarkan harapan semu. Aku pun luluh dalam pelukannya yang pura-pura dan abai semua ucapanmu.

"Dia bukan pria baik, kamu tidak akan bahagia bersamanya," nasihatmu kala itu. Tapi aku menulikan telinga dari semua penilaianmu tentang lelaki itu. Sejatinya ucapmu adalah kenyataan yang aku pungkiri. Kini sesal tiada guna. Waktu telah merenggut semuanya. 

Ma, hari-hari di negeri sakura adalah neraka. Aku terpenjara dalam lingkaran setan dan tak kuasa lari darinya. Lelaki yang dengan sepenuh jiwa aku cinta hanyalah seorang Yakuza yang memanfaatkan apa yang aku punya. Otak dan keahlian yang telah kau wariskan dengan susah payah menyekolahkanku berbekal deras keringat. Gelar yang aku dapat dengan nilai sempurna kini sia-sia belaka. Lelaki itu memaksaku mencipta racun demi menumpuk harta. Menjebakku dalam pusara waktu tak berjeda. "Aku adalah pecundang, Ma." Pertengkaran malam itu adalah bencana tapi juga pelarian yang sempurna dari dera luka dan penyesalan yang seakan tiada akhir. 


"Maafkan aku, Ma," gumamku perih. Maafkan putrimu yang durhaka, meski aku tahu engkau telah memaafkan sebelum aku meminta. Cintamu juga tak pernah surut, kau masih menunggku di malam Sincia, tak pernah mengunci pintu setelah anak-anak yang lain pulang ke rumah masing-masing itu kebiasaanmu. Berharap malam atau pagi harinya aku pulang. Kau selalu menyisakan jamuan akhir tahun diam-diam, menghias kamarku dengan bunga sakura yang aku suka juga pernak-pernik berwarna serupa. Aku bisa mencium aroma dupa di awal Sincia yang kau bakar serta semerbak cintamu yang tak pernah purna. 


Udara malam kian menusuk, dentang jam dinding berbunyi 12 kali. Akhirnya penantian panjang ini berakhir. Perempuan yang sangat aku rindu masih terduduk di ruang tamu. Mata terpejam sementara pigura kayu ada di pangkuannya, fotoku. Dia selalu menunggu, di kursi yang sama di tahun-tahun yang berbeda.

Ini adalah pergantian tahun ke sembilan, bukan penantian yang singkat untukmu juga untukku. Tapi lihatlah, meski seberapa kuat lelaki itu menahanku tapi takdir tidak akan diam saja. Malam ini aku pulang, dalam pelukanmu yang tak terhalang. 

Gadismu tak akan pergi lagi. Tempatku di sini dan engkau adalah cangkang rumahku kembali. Kucium kedua pipinya, masih saja tak merasa. Terlalu lelap, pikirku. Hingga ia tak menyadari kehadiranku sama sekali. Telah kulalui perjalanan panjang yang begitu melelahkan dalam ruang hampa. Berlalu dari hadapannya aku pun beranjak meniti anak-anak tangga menuju kamar di ujung lorong. 

Mamah sudah menyiapkan dari beberapa hari lalu untukku. Ranjang dengan sprei satin warna merah bersulam benang emas. Bunga sakura dalam guci bercorak warna biru dihiasi angpao warna-warni. Mamah akan menambahkan satu angpao setiap tahunnya. Aku hitung ada sembilan tergantung di sela batang sakura. 

Aroma dupa melelapkanku, tidak ada kata yang membahagiakan selain kata pulang. Ada nyaman di dada, sepertinya aku rela jika pun harus pergi nantinya. Tak ada lagi sesal yang mengungkung jiwa saat aku sudah kembali ke pelukan mama. 

Setelah sekian lama kejahatan lelaki itu terbongkar. Akhirnya harapanku jadi nyata, ada orang yang bisa membaca isyaratku. Hingga keinginan untuk merayakan Imlek bersamamu kali ini terwujud. Mereka menemukanku di rumah lelaki yang telah bertahun-tahun menyekapku. 

Ada bahagia meski aku tahu esok juga akan ada air mata. Iya, ketika guci perunggu bertahta bunga sakura itu mama terima. Seorang pegawai ekspedisi akan membawa kiriman itu dari Jepang, tempat di mana ragaku kini berada. Dan pada akhirnya aku benar-benar 'pulang'.

#Imlek

#misteriangpao