Maafkan Aku

walpaperlist.com

Bocah di sana bernama Adan. Itu hanya nama panggilan. Dia memiliki postur cukup tinggi untuk ukuran murid tingkat delapan. Tubuhnya semakin terlihat panjang karena sekarang dia sudah menjadi pocong.

Dia dalam perjalanan ke dalam tanah.

Aku mengenalnya sebagai salah satu anggota kelompok belajar di tempatku bekerja. Teman-teman dan keluarganya mengenal bocah itu sebagai anak bermasalah. Melihatnya ditangisi oleh banyak orang membuatku berpikir kalau mati memang jalan terbaik untuk menarik simpati siapa saja.

Dua pekan lalu, yang entah ke berapa kalinya, ayah Adan menjambak rambut bocah itu gara-gara dia ketahuan mencuri uang ibunya untuk membeli rokok. Aku juga ada di parkiran ketika dia meringis kesakitan setelah didorong ke dinding beton bangunan Sunny Study Group.

Dua hari yang lalu, dia dilarikan ke rumah sakit karena keracunan makanan. Maksudku, makanannya yang diracun.

Ibunya diduga sebagai si pembunuh karena dia pasti malu pada tingkah anaknya yang susah untuk dikendalikan. Aku lupa sudah berapa kali dia menyindir Adan di depanku. Ketika membandingkan putra bungsunya itu dengan tiga orang anak-anaknya yang lain, dia seakan-akan lupa kalau Adan juga memiliki hati dan harga diri.

Aku tidak sepakat pada ide yang menyebut wanita 55 tahun tersebut sebagai pembunuh. Setidaknya, dia selalu berusaha menghentikan suaminya ketika sedang ketagihan memukuli anaknya.

Selain sang ibu, ayahnya pun tidak luput dari gosip.

Aku hampir setuju, namun batal saat melihat ingus pria plontos di samping makam di sana. Baru kali ini aku menyaksikan tangisan yang berhasil membuat lendir hidung dan air mata berlomba-lomba menetes keluar. Dia memeluk nisan yang belum tertanam sambil memanggil-manggil nama anaknya.

Ada hal yang menarik sekarang. Kalian mau tahu? Eng- bukan apa-apa. Aku hanya melihat sosok Adan yang tengah berdiri dengan tatapan bingung di antara kerumunan pelayat. Tidak mengejutkan sama sekali karena ini bukan yang pertama kalinya bagiku.

Dia mengenakan celana jin hitam dan baju kaos biru laut selengan. Itu adalah setelan yang dia pakai ketika nyawanya berada di ujung tebing tempo hari. Rambut cepaknya kecokelatan. Bibir yang pucat dan kantung mata seolah-olah menekankan kalau dia adalah manusia yang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Pembuat film horor sering memilih visual seperti itu untuk hantu mereka.

Kami beradu pandang, dan aku berusaha tersenyum ke arahnya. Dia semakin tampak sendu. Ck! Aku sudah keterlaluan. Makam memang bukan tempat untuk tersenyum, walaupun niatku tulus karena ingin menghiburnya.

 I apologize, bisikku di dalam kepala; berharap dia mendengarnya.

Tubuhku ditabrak seseorang. Aku terkejut bukan main, tapi langsung berhasil mengendalikan diri karena yang datang memelukku adalah ibu si murid.

Miss Mina, gimana ini? Anakku, oh, anakku!”

Kami luruh ke atas tanah, lalu berpelukan.

Aku memang mudah tertular emosi orang lain. Saat mendengar tangis pilu sang ibu, air mataku ikut mengalir deras. Dadaku sakit. Aku memeluk tubuh wanita malang ini seerat mungkin.

“Nyesal aku, Miss, nyesal. Dia anak laki-lakiku satu-satunyaaa, tapi begitu bentuk perhatianku ke dia. Seandainya aja aku tau dia bakal mati, seandainya aku enggak ngomelin dia terus. Seandainya aja kami bisa ngomong baik-baik..”

Seribu seandainya tidak bakal berguna lagi sekarang.

“Aku, padahal aku udah belikan smartphone mahal yang dia mau, tapi dia malah keburu mati. Adaaan..“

Setiap raungan wanita ini menyayat telingaku. Aku ingin menghiburnya, namun belum menemukan kalimat yang tepat. Bungkam dan meladeni rengekannya adalah hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini.

“Itu burger ayam kesukaannya. Dia yang minta dibelikan. Kakaknya sampai ketinggalan kelas cuma buat ngantri.” Omongan wanita ini cepat. Dia mirip seorang rapper amatir yang terharu oleh lagunya sendiri.

Aku ingat. Saat itu sudah pukul empat sore. Kami istirahat selama lima belas menit setelah jam belajar pertama usai. Kakak ketiga Adan datang dengan plastik berisi beberapa bongkah burger ayam. Kemudian, tepat sebelum kelas penutup dimulai, bocah laki-laki malang itu menggelepar di lantai.

Dia sudah kritis ketika dibawa ke rumah sakit.

“Kakaknya! Kakaknya pasti yang bunuh Adan!” tuduh wanita tidak berperasaan dalam dekapanku.

Gadis berambut panjang, yang berdiri tidak jauh dari kami, menangis sedih. Dialah si kakak pengantar burger.

“Enggak mungkin yang jual burger yang salah,” tambah ibunya.

Wuah, dia lebih percaya pada orang asing dibandingkan anaknya sendiri. Bahkan setelah kehilangan satu buah hati, dia belum juga sadar.

Pelukan ke tubuhku semakin erat. “Gimana ini, Miss? Anakku udah enggak bisa balik lagi. Aku nyesal sampai pengen ikutan mati.”

Eventually, aku memang harus memuntahkan sesuatu, sesuatu yang mungkin bisa mengurangi rasa sedih mereka yang ditinggal mati.

“Bu Inez?”

Dia hanya merespons dengan berhenti merengek, tapi masih sesegukan.

I apologize,” kataku hampir berbisik.

Dia mendongakkan kepala. Kami saling tatap untuk sesaat, lalu tangisnya pun pecah.

“Adan juga sering ngomong Inggris di rumah..”

Ah, aku sepertinya salah pilih omongan.

_

Terima kasih banyak buat kedatangannya. Cerpen ini terinspirasi dari sebuah status di akun medsos milik penulis fiksi horor-misteri nomor wahid di hatiku, yaitu grandpa Stephen King.

Semoga menghibur..

(Imel)