Dua Jenis Sembahyang Saat Imlek

Sembahyang imlek (sumber: kabar24.bisni.com)

Tahun Baru Imlek adalah Tahun Barunya warga Tionghoa, baik yang tinggal di Tiongkok maupun yang di luar Tiongkok (warga keturunan Tionghoa). Hampir semua orang Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek, tanpa memandang agama yang dianutnya sekarang. Namun bagi orang Tionghoa yang masih menganut agama Buddha dan Kong Hu Cu, pada Tahun Baru Imlek mereka melakukan dua jenis sembahyang yang dilakukan di kelenteng dan di rumah khususnya yang masih memelihara meja abu.

Upacara sembahyang ini dilakukan sehari sebelum Tahun Baru Imlek maupun tepat pada hari Tahun Baru Imlek. Di kelenteng puluhan bahkan ratusan lilin maupun lampu minyak dinyalakan sehingga suasana kelenteng terang benderang. Suasana merah sangat mendominasi kelenteng, khususnya hiasan lampion dan lilin besar. Pada meja altar juga ada persembahan makanan, buah, kue dan manisan sebagai ucapan syukur dan terima kasih pada Tuhan (istilah lainnya Thian). Sesuai akulturasi budaya, persembahan makanan berupa nasi tumpeng juga diperkenankan.

Selain menghaturkan terima kasih kepada Tuhan, warga Buddha dan Kong Hu Cu juga melakukan sembahyang kepada leluhur, maksudnya orang atau keluarga yang sudah meninggal dunia. Pada sembahyang kepada leluhur ini, juga menunjukkan rasa terima kasih berupa sajian makanan, minuman, buah, manisan dan kue, lengkap dengan peralatan makan minum yang di tata rapi di meja abu. Setelah seluruh keluarga melakukan sembahyang leluhur, barulah leluhur diberi kesempatan bersantap.

Selang beberapa saat, untuk mengetahui apakah leluhur sudah selesai bersantap, dilakukan dengan melakukan siao poe, bila siao poe menunjukkan dua muka yang sama, artinya leluhur belum selesai bersantap sehingga harus ditunggu lagi. Bila siao poe menunjukkan dua muka berbeda, artinya leluhur sudah selesai bersantap dan makanan di atas meja abu boleh diambil. Makanan yang telah diambil dari meja abu dapat dimakan oleh anggota keluarga lain. Hanya saja ada beberapa pemeluk agama tertentu yang melarang menyantap makanan yang sudah diletakkan di meja abu.

Disini mengandung unsur misteri, apa benar leluhur yang sudah meninggal dunia masih bisa menyantap makanan duniawi, meski secara kasat mata tidak ada makan dan minuman yang berkurang.

Pada beberapa meja abu, ada juga yang terdiri dua meja, satu untuk leluhur dan posisinya lebih tinggi untuk Tuhan. Tentang jumlah atau jenis makanan yang dihidangkan tidak ada aturan bakunya, hanya saja keluarga yang mampu hendaknya menyediakan makanan secara lengkap 7-12 jenis masakan. Sebaliknya keluarga sederhana, dipersilakan sesuai kemampuannya, karena intinya adalah ucapan syukur dan terim kasih. Umumnya, makanan yang disajikan untuk leluhur adalah makanan yang digemari leluhur saat hidup di dunia.

Upacara sembahyang kepada leluhur ini meski berupa tradisi sudah mulai memudar, karena makin jaang anak muda yang masih mau memelihara meja abu.