Totalitas Ki Bano Memperjuangkan Eksistensi Sintren di Tengah Gempuran Zaman

Seni Tari Rakyat Sintren Getun

Banyak kesenian rakyat yang dicap sudah kuno dan dianggap hanya layak jadi tontonan orang tua saja. Jadi terpinggirkan oleh keberadaan seni modern yang lebih digemari kawula muda sekarang.

Kak Yon Bayu Wahyono rupanya menangkap fenomena ini kemudian membalutnya jadi sebuah novel dengan judul Sintren getun. Bernuansa misteri dan mistis seperti hal nya seni rakyat Sintren getun itu sendiri yang sarat dengan ritual mistis dalam penyelenggaraannya. Bagi anda yang penasaran ingin membaca bisa klik disini.

Sebagai tokoh sentral Ki Bano punya karakter yang idealis. Terutama dalam mempertahankan keeksisan group tari sintren Kemuning senja yang dipimpinnya. Dia tidak mau dicampur dengan pertunjukan modern. Alasannya bisa merusak kesakralan pagelaran Sintren getun itu sendiri. 

Padahal group tari sintren lain sudah banyak yang mengikuti selera pasar. Dengan juga mengikut sertakan seni modern dalam pertunjukan yang malah menjadikan Sintren getun jadi selingan saja. 

Tak ada lagi mendapat order tanggapan nyintren, Ki Bano tetap bertahan dengan keyakinannya. Sampai penari sintren dan anak buahnya yang lain pindah ke group tari yang sedang naik daun. 

Demi memenuhi kebutuhan hidup anak istrinya Ki Bano sedikit melunak. Walau tetap keukeh menjaga kesakralan Sintren getun. Dia mengijinkan ada seni modern di pertunjukan tapi hanya boleh perform setelah tari Sintren getun selesai digelar. Lasih, anak perawannya yang baru beranjak remaja dipilih jadi penari sintren. Keperawanan memang syarat mutlak seorang penari sintren. Kalau tidak, dipercaya nanti penarinya bisa gila karena dirasuki oleh roh halus yang menolak untuk keluar dari raganya. 

Konflik inilah jadi titik kulminasi cerita. Saat Lasih merasa dirinya tidak perawan lagi ulah bejad preman kampung Ratman. Ki Bano yang pada dasarnya bukanlah seorang yang gegabah. Memutuskan mengganti Lasih dengan penari sintren lain. Mencari penari sintren pengganti dalam waktu singkat bukanlah mudah. Apalagi  pertunjukan berikutnya harus segera digelar atau dibatalkan. Tak mau membatalkan, Ki Bano lalu berspekulasi dengan tetap menampilkman Lasih sebagai penari sintren dengan mengadakan ritual agar Dewi lanjar mau memaafkan dan mengabulkan permintaannya.

Konflik semakin tajam saat Lasih malah tidak bisa berhenti menari walau raganya sudah sangat lelah sampai Ki Bano jadi merasa bersalah. Hal ini tentu saja bikin geger warga. 

Sebetulnya kejadian itu hanya ulah dari tokoh antagonis Ki Sandireja pemimpin group tari sintren Sekar malam yang merupakan kakak seperguruan Ki Bano. Dia cemburu karena group tari sintrennya kalah pamor. Lalu dia juga menculik Lasih. 

Namun Ki Bano yang  merasa Lasih terbawa tulah Dewi Lanjar hingga dibawa kekerajaannya di laut pantai utara tidak menyadarinya. Dia baru mulai curiga saat Ratman mengaku kalau tidak memperkosa Lasih karena dirinya tidak berada di tempat kejadian. Dengan alasan terlalu mabuk Ratman terkapar di tempat lain. Jadi dia terbukti tidak pernah menyentuh Lasih.

Biang kerok sebenarnya adalah Arya. Pemuda desa sebelah yang jatuh cinta dan ingin memperistri Lasih. Karena cinta buta dia menerima tawaran Ki Sandireja dengan pura-pura memperkosa Lasih. Sebelumnya Ki Sandireja sudah membentenginya dengan ilmu batin jadi seolah yang terlihat pelakunya Ratman. Tentu saja syaratnya jadi bumerang bagi Arya. Karena dia harus menjadikan Lasih sebagai pengantinnya di alam gaib dengan nyawa sebagai taruhan. Dia juga tidak sadar kalau sebetulnya Ki Sandireja cuma menjadikannya tumbal bagi mahluk gaib.

Setelah berhadapan dengan kakak seperguruannya yang akhirnya mengembalikan Lasih. Dia tetap tidak mau membalas kejahatan yang telah dilakukan kepadanya. Malah tetap menghormatinya. Ini dilakukan karena dia menyadari bagaimana pun mereka adalah pejuang mungkin yang terakhir untuk melestarikan seni tari rakyat Sintren getun di bumi nusantara tercinta ini.

Alur ceritanya maju dengan menempatkan konflik ditengah cerita. Tapi dapat terselesaikan dengan apik. Dengan adanya unsur perjuangan para pelaku seni rakyat bisa jadi nilai plus dari novel Sintren getun. Tidak dipungkiri lagi generasi muda lebih mengenal budaya populer. Mereka malah ambigu, gagap bahkan amnesia dengan budaya sendiri.

Bagaimanapun budaya lah yang membangun kepribadian nusantara yang halus budi bahasa dan menjunjung tinggi tepo seliro. Sebagai lelaku pergaulan agar tidak mudah terpecah atau terhasut adu domba dari pihak yang tidak bertanggung jawab.