Angpau Terakhir Auntie Lim

Ilustrasi angpao by Pinterest

Aku tinggal di lantai tiga belas sebuah apartemen di kawasan barat negara berlambang singa. Banyak yang meyakini kalau angka tiga belas adalah angka keramat namun bagiku biasa saja. Tidak ada keanehan terjadi selama hampir enam tahun menghuni apartemen ini. 

Perayaan Imlek sudah di depan mata. Pusat perbelanjaan di berbagai tempat sudah berhias memanjakan mata para pengunjung. Hiasan warna merah dengan ornamen emas, lampion, patung-patung replika dewa-dewi sudah terpasang di sana-sini terutama di kawasan Chinatown. Semakin terlihat meriah dan memesona para pengguna jalan. Toko-toko berderet menjajakan segala macam keperluan untuk perayaan. Sementara kuil-kuil bersolek menyambut para jemaatnya sebelum penutupan tahun. 

 Kesenian barongsai bisa kita temui di berbagai tempat salah satu simbol kemeriahan salah satu perayaan terbesar di negara ini. Dengan suka rela orang-orang memberikan angpao pada pelaku atraksi barongsai saat mempertontonkan kelihaiannya. Pertunjukan ini sangat menarik menurutku. Beberapa barongsai akan berkeliling blok dari pintu ke pintu atau menggelar pertunjukan di pusat-pusat perbelanjaan. 

Begitu pun dengan tetangga-tetangga Tionghoa di kanan-kiri yang sudah sibuk melakukan persiapan untuk menyambut Imlek. Dari beberapa tetangga ada yang berbaik hati mengundangku untuk makan malam reuni penutupan tahun. Banyak sekali menu khas tahun baru di hidangkan. Semuanya sangat lezat dan istimewa.

Sering dari mereka menghadiahiku kue keranjang, nastar dan jeruk. Tak ketinggalan juga angpau dari beberapa tetangga dan kolegaku. Kata mereka aku masih berhak mendapatkan angpau karena masih lajang dan itu membuatku tersipu. karena jujur aku sudah tidak muda lagi. Auntie Lim yang tinggal bersebelahan juga tidak pernah absen memberi angpau cuma tahun lalu saja aku tidak dikasih. 

Pasangan baik hati ini sering memberiku berbagai makanan terutama jika mereka minta tolong dibelikan sesuatu. Sebagai tanda terima kasih Auntie Lim akan memberiku buah-buahan atau makanan kecil dari kuil setelah didoakan.

Auntie Lim tinggal bersama suami dan putri bungsunya. Uncle Lim menderita parkinson sejak lima tahun lalu dan putrinya seorang autis. Hidup Auntie Lim sungguh tidak mudah, tapi dia sosok tangguh di mataku. Aku suka menghabiskan waktu senggangku mendengar petualangan masa mudanya yang penuh kerja keras. Sedangkan ketiga anaknya yang lain sudah berumah tangga dan mempunyai rumah sendiri. Hanya putri kedua yang tinggal di gedung ini cuma beda lantai saja. 

Biasanya menjelang Imlek mereka sudah menghias rumah dengan ornamen warna merah juga emas yang sangat meriah. Ada lampion tergantung di kedua sisi pintu, di atas pintu juga akan dipajang kain merah panjang bertuliskan kaligrafi huruf China dengan tinta hitam. Sebagai simbol kebahagiaan dan kemakmuran tahun ini dan tahun yang akan datang. 

Tapi entah kenapa beberapa hari menjelang Imlek ini sepi, belum terlihat ia memasang hiasan di depan rumah seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Hanya dua tetangga seberang pintu yang sudah kelihatan meriah. Cuma rumah Auntie Lim yang tidak terlihat ramai.  Biasanya anak dan cucu-cucunya sudah berkumpul untuk makan-makan.

Setelah Uncle Lim meninggal tahun lalu. Kesehatan Auntie Lim benar-benar menurun. Hari-hari murung dan selera makan jadi terganggu. Hingga anak-anak bingung cara membujuknya.  Sikapnya berubah drastis tidak lagi seceria dulu. Malah belum juga setahun sudah beberapa kali masuk rumah sakit karena kesehatanya drop. Sepertinya ia merasa sangat kehilangan suaminya. Padahal saat masih bersama mereka hampir tiap hari bertengkar suara mereka beradu keras dan terdengar nyaring sampai dapur apartemenku. 

Karena itu tahun lalu aku alpha dapat angpao dari Aunty Lim pantang bagi mereka merayakan Imlek dalam masa berkabung. Termasuk tidak boleh memakai baju merah, tidak ada pajangan meriah atribut Imlek. Selain itu haram memberikan angpao kepada siapa pun.

               * * * * *

Jam sembilan tiga puluh kereta berhenti di terminal Yew tee. Akhirnya sampai juga setelah menempuh hampir satu setengah jam perjalanan. Hari yang melelahkan, banyak sekali pekerjaan yang harus dibereskan sebelum cuti bersama perayaan Imlek. Turun dari stasiun sebagian toko-toko di area Stasiun MRT masih buka. Terutama mereka yang menjual serba-serbi kebutuhan perayaan. Aku sempatkan mampir ke supermarket untuk membeli beberapa barang untuk persediaan. Kalau tidak, beberapa hari ini akan susah mendapatkan kebutuhan karena supermarket dan pasar tradisional tutup total di hari pertama dan kedua Imlek. Aku pun menyusuri jalan setapak ke arah komplek yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Suasana cukup sepi hanya beberapa kali berpapasan dengan sesama pejalan kaki. 

Lobi apartemen juga lengang, hanya sayup terdengar ketukan canang dari sudut gedung. Sudah dua hari ini tenda berwarna kuning khas orang berkabung terpasang. Ada beberapa meja dan kursi-kursi berjejer untuk para pelayat.  Sesajian tertata di atas altar bersisian dengan dupa dan lilin sedangkan di sebuah peti terbujur jasad yang telah dibalsam berhias buket bunga sebagai tanda belasungkawa.

Doa dan bebunyian ditabuh oleh para biksu. Konon sesuai keyakinan prosesi itu untuk mencegah arwah lain memasuki jasad orang yang baru meninggal tadi. Sebelum arwahnya menyeberang ke surga maka harus ada suara musik ditabuh juga puji-pujian. Ritual ini berlanjut hingga hari ke tujuh dan dilakukan arak-arakan mengiringi jenazah sampai tempat prosesi pemakaman atau kremasi sesuai tradisi. Aku tahu cerita ini juga dari Auntie Lim saat ada tetangga lantai atas yang meninggal. 

Tak berapa lama pintu lift terbuka buru-buru aku melangkah masuk dan menekan tombol dengan siku karena kedua tangan sarat barang belanjaan. Hanya perlu dua menit untuk sampai di lantai tiga belas. Dari pintu kaca lift aku menangkap sekelebat bayangan lalu sedetik kemudian terdengar suara pintu tertutup. Pintu lift bergeser dan kuseret langkah menuju apartemen. Aku pun sibuk mencari kunci dari saku ransel hingga tak melihat ada sesuatu  terinjak. Ternyata amplop berwarna merah tergeletak di atas keset karet warna hitam di bawah kakiku. 

Dari siapa ini, ada rasa penasaran dalam hati. Ku pungut angpao bergambar sepasang pengantin dengan deretan huruf cina di kiri atasnya. Sebentar, mungkin ini dari Auntie Lim, gumamku menerka-nerka. Hei, sepertinya aku pernah menerima amlop ini sebelumnya dengan gambar yang sama. Apakah aku harus menanyakan padanya dan berterima kasih sekalian memberi ucapan tahun baru sekarang.

Baiklah sepertinya tidak elok kalau tidak langsung mengucapkan terima kasih. Aku menuju pintu berteralis besi yang berjarak hanya beberapa meter. Kutekan bel beberapa kali, aroma dupa membuatku terbatuk.
Kututup hidung dengan kedua jari untuk mengurangi aromanya yang menyengat. Tidak seperti biasa selarut ini Auntie membakar dupa, pikirku.

"Gong xi fat choi, Aunty Lim. Sin nien kuale. Cin nien sin fu." Aku  menghafal ucapan selamat tahun baru berkali-kali sambil menunggu pintu dibuka. Sudah hampir setengah jam kok tidak ada sahutan. Mungkin Auntie sama chece sudah tertidur sehingga tak mendengar bunyi bel. Ya sudah, besok pagi saja, putusku dan aku pun berbalik arah masuk ke rumah.

Kuhempaskan daun pintu dengan ujung kaki. Lalu menaruh semua belanjaan di meja dapur. Sudah tidak tahan rasanya ingin mengguyur tubuh lelahku dengan air hangat. Badan terasa segar setelah berganti pakaian. Lalu aku pun beranjak ke dapur untuk membereskan belanjaan yang masih teronggok di meja dapur. Kulepaskan penat dengan duduk selonjoran di sofa ruang tamu, menyalakan televisi menunggu sampai kantuk datang.

Berusaha meluruskan badan setelah pegal seharian berkutat dengan tugas luar. Teringat kembali angpao tadi yang masih tergeletak di atas meja. Pasti isinya sepuluh dolar tebakku. Aku buka amplop merah bergambar sepasang pengantin lucu dengan pakaian khas Tionghoa itu. Benar saja, di dalamnya terdapat lima lembar pecahan dua dolar berwarna ungu seperti tahun-tahun sebelumnya. Lalu aku taruh di laci meja duduk sebelah sofa kusatukan dengan beberapa angpao pemberian rekan-rekan kerja. Tak beberapa lama kantuk pun datang mengajakku untuk segera merebahkan diri mengistirahatkan tubuh setelah seharian di luar rumah.

Suara alarm membangunkan lelapku. Mendung mewarnai pagi di hari pertama Imlek seperti biasanya. Hari libur memang enak untuk bermalas-malasan tapi ada keinginan untuk lari pagi. Kupaksakan kaki beranjak dari ranjang dan bersiap untuk mengganti piyama dengan stelan joger. Tidak perlu jauh-jauh, keliling komplek saja sudah cukup membakar timbunan kalori dari traktiran makan malam beberapa hari ini. Suasana sepi, para penghuni apartemen lebih memilih menikmati hari libur di kamar masing-masing. Hanya segelintir pejalan kaki terlihat menyusuri trotoar. Ruas jalan pun lengang tidak nampak hiruk pikuk kendaraan berlalu-lalang seperti biasanya. Mencari taksi pun susah saat libur begini. Banyak yang lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah.

Baru beberapa putaran mendung terlihat menggantung sudah siap menjatuhkan rintiknya memaksaku untuk memutar balik ke arah komplek. Untung, baru beberapa langkah masuk koridor gerimis menyusul. Baguslah, konon hujan di hari pertama Imlek itu baik, sebuah pertanda kemakmuran atau keberkahan di tahun ini. 

Kuayun kaki menuju lobi dan mempercepat langkah saat pintu lift terbuka. Pandanganku teralihkan oleh tanda merah kecil tertempel di dinding lift sebuah tanda berkabung. Berarti penghuni blok ini ada yang berpulang. Hanya beberapa menit lift pun berhenti di lantai tiga belas. Sebelum masuk aku sempatkan menoleh ke arah apartemen Auntie Lim yang tertutup rapat. Tidak ada aroma hio atau hiasan meriah terpasang seperti milik dua tetangga lainnya. Nampak suram dan senyap, ada yang mengusik perasaan saat melihat tanda merah serupa di dinding lift tadi. Tanpa menunggu lama kuputar kunci dan segera masuk menenangkan perasaan yang menggemuruh. Ada pertanyaan yang berputar-putar memenuhi isi kepalaku. 

Tidak seperti biasanya spontan nyaliku menciut. Padahal sudah bertahun-tahun tinggal sendiri dan tidak ada perasaan seperti ini. Seharian ini hanya membalas beberapa email yang masuk, tidak ada keinginan keluar rumah. Tak terasa malam pun merayap mendekati dini hari mata tak juga mau terpejam.  Tiba-tiba aku teringat satu hal dan menuju ruang tamu. Bergegas menarik handel laci dan mengeluarkan isinya. Ternyata angpau itu masih ada di sela-sela tumpukan. Memeriksa satu persatu dari semua yang pernah aku terima selama tinggal di sini. Masih tersimpan rapi meski sudah kosong tapi aku suka mengoleksinya dan tak ada yang aku buang satu pun. 

Ada lima amplop merah dengan gambar sama persis termasuk yang aku temukan semalam. Seingatku itu semua dari Auntie Lim. Spontan keringat dingin membanjir, jantung pun berpacu tak beraturan. Aku merasakan sesuatu yang tidak biasa dan tak terpungkiri pikiran aneh-aneh pun berkelebat memenuhi kepalaku. 

Ada ketakutan mulai menyusup, ingin menelfon salah satu teman tapi tidak enak karena sudah larut. Untuk keluar apalagi. Di saat hati diliputi kebimbangan, telinga menangkap suara ketukan dari balik pintu. Tanpa menunggu lagi suara ketukan berikutnya aku langsung berlari ke kamar dan meringkuk dalam selimut tebal, tetap berkeringat meski pendingin ruangan sudah aku nyalakan maksimal hanya berharap pagi akan segera datang.

#Imlek

#misteriangpao