Penari Malam di Bourbon Street

Bourbon street (sumber foto: Milesandmeals.cafeblog.hu)

Saya pertama kali pergi mengunjungi kota New Orleans di Amerika Serikat sekitar dua tahun lalu. Kota ini sempat berantakan terimbas bencana badai Katrina. Untunglah saat saya mendarat dan menuju hotel suasana kota New Orleans sudah pulih kembali. Saya ke New Orleans karena diundang menghadiri konferensi bisnis internasional oleh sebuah perusahaan global.

Seperti biasa setelah check-in di hotel yang ditunjuk, saya sudah dijemput oleh Country Manager Indonesia yang sudah datang lebih awal. Saya diberikan sebuah map yang berisikan panduan atau jadwal acara selama konferensi. Karena konferensi sudah dimulai esok pagi, maka saya minta diri untuk istirahat dulu agar besok tidak datang terlambat.

Pagi hari saya sudah bersiap makan pagi di hotel, lalu menuju gedung MICE yang lokasinya satu lokasi dengan hotel, jadi cukup berjalan kaki saja. Seperti biasa, konferensi internasional sangat ramai pesertanya dengan aneka ragam suku bangsa di seluruh dunia. Konferensi berlangsung sepanjang hari hingga sore jam 16.00 waktu setempat. Menjelang akhir acara, salah seorang marketing perusahaan tersebut menghampiri saya dan mengajak pergi makan malam bersama, mereka sudah menyediakan sebuah mobil untuk mengantar delegasi Indonesia ke rumah makan di kawasan Bourbon Street.

Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan diri, saya turun ke lobby hotel dan setelah semua delegasi Indonesia berkumpul, kami menaiki mobil sewaan menuju rumah makan. Rumah makannya tidak terlalu besar namun cukup ramai, hidangannya makan laut dan cukup lezat. Selesai santap malam, sang marketing lalu memimpin delegasi Indonesia bak seorang pemandu wisata untuk berjalan kaki menyusuri Bourbon Street yang legendaris. Di sepanjang jalan ini berjajar klub malam yang menyuguhkan musik hidup jazz hingga tarian telanjang.

Hampir setiap pintu menyediakan seorang hingga dua orang penjaja yang merayu setiap pejalan kaki di Bourbon Street untuk singgah di klubnya. Marketing perusahaan yang memandu delegasi Indonesia membelokkan kami ke sebuah klub tarian telanjang. Kami disana hingga menjelang tengah malam, dan saya kebetulan berhasil berkenalan dengan Sherly seorang penari telanjang yang cantik asal Spanyol.

Esok malamnya, saya sendirian ke Bourbon Street, kali ini memasuki klub malam yang menyajikan musik hidup jazz, maklum New Orleans sangat popular dengan musisi jazznya. Sambil ditemani segelas bir, saya menikmati musik jazz yang dimainkan sangat sempurna. Tiba-tiba seorang wanita cantik memelukku dari belakang, oh ternyata Sherly yang baru kukenal kemarin malam. Sherly minta izin menemani minum dimejaku, dan ia memesan satu sloki vodka. Yah, daripada sendirian di klub malam, beruntunglah ada seorang wanita cantik yang menemani. Menjelang tengah malam, Sherly minta izin ke toilet, namun tidak pernah kembali. Saya terus menunggu hingga tengah malam, namun Sherly belum juga muncul. Padahal vodkanya belum diminumnya sama sekali. Akhinya saya terpaksa keluar dari klub. Pada pintu keluar klub saya sempat bertemu penjaga keamanan klub, dan menanyakan apakah melihat seorang wanita dengan ciri-ciri seperti Sherly telah keluar meninggalkan klub. Ternyata tidak ada.

Dan yang lebih membuat saya terkejut, penjaga keamanan itu mengatakan dari sore dia tidak melihat seorang wanita cantik memasuki klub jazz tersebut, dan penjaga keamanan itu malah bertanya kenapa vodka di meja saya tidak disentuh bahkan diminum. Penjaga keamanan itu agak heran, karena saya memesan dua jenis minuman berbeda, tetapi hanya meminum bir saja. Setelah saya menjelaskan bahwa yang memesan vodka itu Sherly, barulah penjaga keamanan itu tertawa. Mungkin saya telah ditemani seorang wanita yang merupakan korban bencana badai Katrina yang meluluh lantakkan New Orleans.