Teman dari Tien An Men

China Pavillion

Namaku Hendrik Tanoto. Ini adalah namaku sejak kecil dan bahkan tertera di akta kelahiranku. Walaupun demikian. Ayah memberitahu bahwa aku sesungguh memiliki she atau marga Tan alias Chen.  Selain itu aku juga mempunyai nama Tionghoa Kwet Hin. A Hin sendiri merupakan nama panggilanku di rumah.

Aku sendiri dilahirkan di Jakarta pada Juni 1989 dan saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Namun ayah dan ibu sendiri berasal dari Surabaya. Kadang mereka berdua masih sering berbicara bahasa Jawa khas Tionghoa Surabaya.  Mereka berdua sama sekali tidak bisa berbahasa Mandarin atau dialek Tionghoa seperti Hokkian atau pun bahasa lainnya.  Namun saya lumayan bisa bahasa Mandarin karena memang kursus dan juga kuliah di Sastra Cina di salah satu Universitas Swasta di Jakarta.  Hasilnya saya lumayan bisa berbahasa Mandarin, sementara orang tua saya malah lebih suka berbahasa Jawa.

Shanghai Juli 2010

Ini adalah perjalanan pertamaku ke negeri Tirai Bambu, Tiongkok, dalam rangka liburan kuliah.  Tentu saja aku memilih pergi ke Tiongkok karena selain untuk memperlancar kemampuan bahasa Mandarin, juga sekalian melihat banyak hal yang selama ini hanya dibaca atau dipelajari di bangku kuliah.

Aku baru saja tiba di Pudong Internasional Airport . Karena aku akan tinggal cukup lama di Tiongkok, aku pun membeli SIM Card lokal di Bandara.

Dari bandara aku ingin mencoba naik kereta maglev yang bisa melesat cepat sekitar 430km/jam. Dengan tiket seharga 50 Yuan sekali jalan, dalam waktu hanya 7 atau 8 menit aku sudah sampai di stasiun metro Longyang Road atau Longyang Lu di pusat kota Shanghai.  Dari stasiun ini aku tinggal melanjutkan perjalanan dengan kereta api bawah tanah menuju hotel di kawasan Nanjing Road.

Ketika sedang membeli tiket di vending machine, tiba-tiba seorang gadis menegur dan memanggil namaku “Kwet Hin” dengan dialek Mandarin.  Aku terheran-heran karena yang mengenal nama ini hanyalah keluarga dekat di Indonesia.  Siapakah gadis di Shanghai yang tiba-tiba memanggilku seakan sudah lama kenal?

“Nama saya Mei Ling,” kata gadis itu memperkenalkan diri. Walau merasa sedikit heran, namun ada sedikit perasaan aneh bahwa gadis ini seperti nya tidak asing buat diriku, Seakan-akan aku sudah mengenalnya lama.  Gadis itu kemudian menyarankan saya membeli tiket multi trip sehingga tidak usah membeli tiket setiap kali naik metro. 

Kebetulan dia juga ingin menuju kawasan belanja Nanjing Road sehingga kita berdua bisa naik metro bersama.  Mei Ling kemudian bercerita bahwa dia berasal dari Nanjing dan kebetulan sedang magang di Shanghai.  Kini ia magang di China Pavillion di Shanghai World Expo 2010 yang sedang berlangsung di kedua sisi Sungai Huangpu.

Sesampainya di Stasiun East Nanjing Road, aku pun turun, Mei Ling juga turun tetapi dia bilang mau pindah ke Line 10 untuk pergi ke Yu Yuan Park mengunjungi temannya. Dia memberikan saya nomor hand phonenya serta berjanji besok akan mengajak saya ke Shanghai Expo.  Dia juga berjanji akan membelikan tiket sebelumnya.

Aku hanya bisa berkata ya dan kemudian memberikan nomor telepon yang belum lama aku beli di bandara Pudong.  Aku masih mencoba menerka siapakah gadis itu. Baru kenal, tetapi seperti sudah kenal lama dan akrab.

Keesokan harinya, aku menerima SMS dari Mei Ling.  Dia minta aku siap di Stasiun metro East Nanjing Road jam 9 pagi, dan dari sana kita akan bersama-sama pergi ke Shanghai World Expo.  Bahkan dia juga bilang bahwa tiket untuk saya sudah ready sementara dia sendiri punya tiket langganan karena memang bertugas di China Pavillion,

Jam 9 kurang 5 menit aku sudah ada di Stasiun metro East Nanjing Road,  tidak lama kemudian aku melihat Mei Ling sudah menunggu pas dekat pintu masuk. Kami kemudian bersama naik line 2 menuju stasiun Century Avenue untuk pindah ke metro Line 9 menuju Madang Road Stasiun.  Dari Stasiun ini kita naik Line 13 yang baru dibuka khusus untuk Expo.

“Kebetulan hari ini aku libur,” kata Mei Ling lagi.  Ya, karena itu dia bisa menemaniku sepanjang hari menjelajah World Expo 2010 yang memiliki motto Better City-Better Life ini. Banyak pavillion yang sudah aku singgahi setelah sebelumnya sempat mampir ke China Pavillion yang paling megah berbentuk piramida terbalik berwarna coklat kemerahan.

Sepanjang siang hingga malam itu, aku masih bertanya-tanya siapakah Mei Ling. Dan kalau aku bertanya kepadanya, dia sendiri juga tidak tahu mengapa tiba-tiba dia bisa mengenali aku. Dia merasa bahwa telah sangat mengenal aku dan tidak sengaja menyebut namaku ketika kemarin berjumpa di Stasiun Longyang Road.

“A Hin, Kamu Shio apa?”. Mei Ling bertanya ketika kami sedang beristirahat sambil makan malam di salah satu resto di dalam kompleks Shanghai Expo ini. Kaki sudah lumayan satu jam lagi saya berniat akan pulang ke hotel.

“Ular tanah,” jawabku santai dan heran karena tidak ada angin tidak ada hujan dia bertanya shio. Mungkin secara tidak langsung ingin menanyakan usiaku.

“Wah koq sama,” jawab Mei Ling.

Bukan Cuma tahun. Ada hal mengejutkan yang kami temui bersama di Shanghai Expo malam itu. Aku dan Mei Ling sama-sama dilahirkan pada 4 Juni 1989. Bedanya, aku di Jakarta dan Mei Ling di Nanjing.

Besoknya Mei Ling kembali menjadi ‘tour guide’ dengan mengajakku jalan-jalan ke Suzhou. Mei Ling berjanji menungguku jam 8 pagi di Shanghai Huo Che Zhan alias Shanghai Railway Station untuk berangkat ke Suzhou.  Dari stasiun di Suzhou kami mengambil tur lokal ke berbagai tempat wisata di Suzhou.

Anehnya lagi ketika berjalan-jalan mengunjungi Kota Suzhou dengan taman-tamannya yang indah, aku merasa tidak terlalu asing dengan tempat ini. Seakan-akan sudah pernah ke sini di masa lampau. Begitu pula ketika naik perahu dan melewati jembatan-jembatan yang melengkung indah. Tidak salah lagi Suzhou memang terkenal sebagai Venezia dari Timur.

Namun yang paling membuat saya kaget adalah ketika menikmati minum teh di salah satu restoran kecil di Suzhou. Seorang nenek berusia sekitar 70 tahun tiba-tiba saja memelukku dan memanggil namaku.  Dia juga mengenali Mei Ling. Nenek itu menyebutku sebagai anaknya yang hilang sekitar 20 tahun lalu.

Beijing Juni 1989

Demo mahasiswa setelah kematian Hu Yao Bang makin lama makin besar di Lapangan Tian An Men. Kwet Hin dan Mei Ling adalah mahasiswa di Peking University. Dan mereka kebetulan berasal dari Suzhou dan juga sering mengikuti demo di Tian An Men.

Namun pada 4 Juni 1989, di tengah keributan yang terjadi di Lapangan Terbesar di Beijing itu, Kwet Hin dan Mei Ling hilang dan tidak pernah ditemukan.

9 Februari 2021