Gotong Joli Toapekong di Tegal

Gotong joli toapekong (sumber: negeripesona.com)

Meski tidak sepopuler di Singkawang yang terdapat pawai Tatung, maka budaya gotong joli di Tegal pada festival Cap Go Meh juga cukup ramai. Semua hotel di Tegal dan sekitarnya sudah harus dipesan jauh hari bila tidak mau kehabisan penginapan. Keistimewaan gotong joli di Tegal adalah joli yang berisi salah satu patung dewa harus diangkat oleh empat orang boleh pria boleh wanita ditempelkan di punggung dan di goyang di sepanjang jalan. Aturannya joli tidak boleh menyentuh tanah.

Makin sering seseorang menggotong joli akan terbentuk punuk di punggungnya, dan hal ini menjadi simbol keperkasaan. Joli ini cukup berat, karena beratnya ratusan kilogram. Selain joli yang digoyang ada satu joli lagi yang digotong oleh delapan orang yang harus mengelilingi kota Tegal dan mengunjungi tiga kelenteng, yakni Ban Eng Bio, Tek Hay Kiong dan Hok Le Kiong. Pagi hari kirab dari kelenteng menuju pelabuhan Tegal, lalu kembali lagi ke kelenteng, sambal keliling kota Tegal.

Awal mulanya saya tidak mengetahui adanya misteri pada acara gotong joli toapekong di Tegal ini, namun dari seorang teman yang tinggal di Jakarta, dia banyak bercerita tentang misteri yang terkait dengan gotong joli toapekong ini.

Upacara keagamaan diadakan di pantai Tegal karena dipercaya Dewa pernah datang ke Tegal melalui jalur laut. Setelah acara ritual keagamaan selesai dilanjutkan dengan kirab gotong joli toapekong dengan mengunjungi tiga kelenteng tua, salah satu yang berada di luar kota Tegal adalah kelenteng Hok Le Kiong di Slawi. Selain menggotong joli toapekong biasanya terdapat tarian barongsai dan naga (liong), Lalu pada malam harinya, diadakan pertunjukan wayang potehi (wayang boneka), yang membawakan cerita Tiongkok kuno. Wayang potehi adalah pertunjukan langka yang hampir punah, karena dalang wayang potehi sudah sangat sedikit. Seorang anak muda asal Semarang mencoba menghidupkan budaya wayang potehi dengan gaya modern dengan harapan mulai dapat digemari generasi milnenial, yang dinamakan “Go Pot”. Menggunakan mobil yang membawa panggung wayang potehi sehingga mudah bergerak kemana-mana sesuai pesanan,

Upacara gotong joli toapekong selain sebagai wisata budaya juga mengandung misteri, karena warga Tegal selalu berupaya melaksanakannya tiap tahun, bahkan pada era Orde Baru yang dilarang mempertunjukkan budaya Tionghoa, dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Karena warga Tegal, khusususnya warga Tionghoa Tegal meyakini acara ritual keagamaan ini akan memberikan dampak kemakmuran bagi kota Tegal dan sekitarnya.

Uniknya lagi, seseorang yang sudah memiliki tekad untuk melakukan gotong joli toapekong, meski sudah tidak tinggal lagi di kota Tegal, seakan-akan terpanggil untuk kembali ke Tegal dan baru merasa lega dan tenteram bila sudah melaksanakan ritual gotong joli toapekong.

Menurut penjelasan teman saya yang sekarang tinggal di Jakarta ini, dia tiap tahun selalu menjadwalkan waktu untuk kembali ke Tegal meski betapapun kesibukannya. Dia akan merasa ada yang kurang, bisnis mengalami kemunduran, ditipu orang atau ada bencana yang menimpa dirinya atau keluarganya, bila dia melupakan ritual ini. Pernah sekali dia tidak kembali ke Tegal karena sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, selama setahun dia dihantui perasaan bersalah, bahkan anak dan isterinya sempat masuk rumah sakit.

Ritual gotong joli toapekong ini terus dilaksanakan pada hari ke 15 kalender lunar atau yang biasa disebut festival Cap Go Meh, dimana bulan tampak bulat sempurna dengan sinar yang terang benderang. Padahal kita tahu bersama perioda sebelum dan sesudah Imlek biasanya banyak turun hujan.

Misteri ritual gotong joli toapekong masih tetap tak terpecahkan, tinggal Anda percaya atau tidak mempercayainya. Buktinya warga Tegal bahkan termasuk warga local sangat antusias menyambut tradisi budaya ini, hanya tidak mengikuti ritual keagamaannya saja.