Dewi Bulan di Mooncake Festival

Foto : Tokopedia


Setelah melakukan perayaan lentera di sungai bersama mamanya dan para warga. Annchi, gadis enam tahun, menatap keindahan bulan malam ini di tanggal 15 bulan ke-8 menurut kalender china, dari balik jendela kayu rumahnya dalam bentuk bulat sempurna. Sembari mulutnya asyik mengunyah kue bulan yang ditata rapi di atas piring-piring stanless berwarna kuning emas. 

Menurut kepercayaan rakyat Tionghoa, pada tanggal ini, bulan berada di posisi paling dekat dengan bumi, berdampingan dengan batas langit dan bersinar kemerahan, dan dianggap melambangkan bersatunya pria (matahari) dengan wanita (bulan), seperti Yin dan Yang dalam tradisi Tionghoa.

Sekilas ia berhenti mengunyah dan membulatkan mata sipitnya, sepertinya ia kaget. 

"Mama, seperti ada bayangan perempuan di bulan." Jari telunjuknya diacungkan ke atas, Yi Fei mengarahkan mata mengikuti arah yang ditunjukkan Annchi, ia tak bisa melihat khayalan putrinya, hanya turut antusias agar bocah perempuan itu percaya, lantas tersenyum dan membisikkan sebuah kalimat. 

"Dia Dewi Bulan."

Dahi Annchi mengkerut, baru pertama kali ini ia mendengar nama itu. Usianya yang masih dini selalu penasaran dengan hal-hal yang belum pernah ia mengerti sebelumnya. 

"Siapa dia?" Ia menatap Yi Fei dengan pandangan penuh pertanyaan, menanti jawaban dari mamanya. 

Yi Fei sedang sibuk menata beragam makanan di atas meja, ada kwetiau, bebek peking, cap cay, ayam cincang kung pao, juga dimsum, tak lupa dua bakul nasi hangat. Ia lalu menyeduh teh dengan air panas yang mengepul wangi. Sejenak ia berhenti, mengelap tangan dengan kain lusuh di ujung meja, lalu duduk bersimpuh menekuk lutut di hadapan putrinya. Kemudian mulai bercerita. 

Alkisah, dahulu kala terdapat sepuluh matahari. Akibatnya selama musim panas terjadi kekeringan dimana-mana. Saking panasnya pepohonan pun mulai mati dan kaisar serta rakyat menjadi kesulitan. Kaisar kemudian mengutus seorang pemanah terkenal bernama Hou Yi untuk memanah sembilan dari sepuluh matahari di langit.

Dengan panah saktinya, tentu Hou Yi berhasil memanah kesembilan matahari tersebut. Karena jasanya ia kemudian diangkat menjadi pahlawan. Ia kemudian menikahi wanita yang ia cintai, Chang Erl.

Singkat cerita, atas keberhasilannya, Hou Yi pun diberi ganjaran pil keabadian oleh kaisar. Pada suatu hari, seorang penjahat bernama Feng Meng menye­linap ke kediaman Hou Yi dan bermaksud mencuri pil keabadian. 

Agar tidak jatuh ke tangan yang salah, Chang Erl menelan pil itu. Tiba-tiba, Chang Erl mendapati dirinya terbang ke langit menuju bulan.

Hou Yi yang mengetahui hal tersebut, menjadi sangat terpukul dan sedih. Ia kemudian mengenang hari itu dengan membuatkan altar untuk mengenang Chang Erl yang sudah menjadi Dewi Bulan.

"Begitulah, Sayang ...." Yi Fei mengusap lembut kuncir gadis itu, lalu menarik kerah baju tradisional Hanfu yang dikenakan Annchi untuk merapikannya. 

"Kue ini, kenapa namanya kue bulan?" tanyanya polos lagi. 

"Untuk memperingati pengorbanan Dewi Bulan, dan sebagai rasa syukur kita sudah diberi panen yang melimpah tahun ini."

"Aku suka kue ini, rasanya manis dengan kacang hijau di dalamnya. Boleh aku minta lagi?"

"Tentu, sayang. Ini hari Mooncake Festival, mama membuat kue sebanyak ini untuk merayakannya. Sebentar lagi, semua keluarga akan datang ke sini. Apa kau senang?" Annchi mengangguk. Yi Fei kembali mempersiapkan penganan dan mengelap meja untuk menyambut kedatangan anggota keluarga. 

Annchi menarik baju Yi Fei, ia terlihat memandang kue bulan di tangannya dengan penuh heran. 

"Kenapa bentuk kue bulan ini bulat?"

"Bulat adalah lambang persatuan dan kekeluargaan, makanya di hari Mooncake Festival ini adalah momen berkumpulnya setiap anggota keluarga."

Beberapa menit kemudian, suara riuh terdengar di depan rumah. Annchi seketika girang mendengar namanya dipanggil seseorang di luar pintu. Ia berlari kecil lalu menarik gagang pintu dan membukanya. 

"Chijing ....!" Suara bersamaan dari orang-orang terkasihnya menggelakkan wajah Annchi, ia sumringah. Wajah-wajah yang tak asing itu mulai masuk dan bergantian mencubit pipinya gemas, serta menghujaninya dengan ciuman. 

Sebuah tas kotak dan lentera kecil disodorkan pamannya di hadapan Annchi, ia semakin tergelak, berlari menuju Yi Fei. Perlahan, ia membuka tas kardus berisikan kotak kue dan mendapati bungkusan-bungkusan kue di dalamnya. 

Annchi mengambil kotak bungkusan itu lalu menunjukkan pada mamanya. 

"Lihat, Ma. Ini seperti wajah bayangan perempuan yang kulihat saat menatap bulan tadi," ujarnya seraya menunjukkan gambar pada kemasan kue. 

Yi Fei menautkan kedua alis, tak percaya jika putrinya benar-benar melihat penampakan sang legenda itu. 


#misteriangpau
#imlek

 

Chijing : Kejutan