Pilih "Yu" untuk Santapan Malam Imlek

Ilustrasi masakan ikan (sumber foto: tips-cara.info)

Kejadian ini dialami tetangga saya, seorang pria sederhana yang sehari-hari hidup dari berdagang kelontong di pasar Tangerang. Tahun lalu sehari menjelang Imlek, isterinya pamitan untuk pergi ke pasar untuk belanja guna memasak untuk keperluan makan malam bersama pada Malam Imlek. Karena mereka tergolong keluarga sederhana, maka mereka tidak memasak banyak masakan seperti ritual orang Tionghoa kaya yang menyediakan tujuh atau delapan hingga Sembilan macam masakan. Isterinya ingin berbelanja ikan untuk memasak santapan ikan pada Malam Imlek. Ikan dalam dialek Mandarin dibaca “yu” yang juga berarti rejeki. Jadi dengan makan ikan pada Malam Imlek diharapkan selama tahun depan rejeki akan mengalir tak putus-putusnya. Namun sebelum isterinya keluar rumah, sang anak tiba-tiba menghentikan langkah ibunya dan merengek minta dimasakkan babi samcan, karena selama ini jarang makan daging. Karena iba pada anaknya, si ibu langsung mengiyakan permintaan anaknya.

Di pasar akhirnya sang ibu, sebut saja namanya May Ling, hanya berbelanja daging dan lemak babi, tapi lupa membeli ikan. Setibanya di rumah babi itu langsung dimasaknya menjadi babi samcan yang lezat. Memang isteri pedagang kelontong ini terkenal bertangan dingin dan selalu lezat masakannya. Pada menjelang makan malam, ditatanya masakan babi samcan di atas meja, dilingkari piring untuk bersantap.

Saat seluruh keluarga sudah lengkap datang, mereka bersama menuju meja makan. Mama May Ling yang sudah duduk di kursi meja makan, mengajukan protes: “Ling, koq tidak ada ikan ?”

May Ling terkejut dan berucap “Maaf ma, tadi si A Piao minta dibelikan babi hingga saya lupa membeli ikan.”

Ibunya sambal geleng-geleng kepala berujar “Lain kali tidak boleh lupa ya, untuk santapan Malam Imlek harus selalu tersedia ikan supaya rejeki selalu mengalir sepanjang tahun.”

‘Ya ma, akan selalu May Ling ingat”, jawab May Ling seraya memprsilakan semua mulai makan.

Acara makan malam Imlek selesai, dan keluarga meninggalkan rumah, untuk berkumpul kembali keesokan hari guna merayakan Tahun Baru Imlek. Dimana mereka saling mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek, nian nian you yu”. Selamat Tahun Baru, semoga selalu banyak rejeki.

Perayaan Imlek hingga Cap Go Meh berakhir dan bulan Maret, pandemi Covid melanda dunia, termasuk Indonesia. Dampak dari pandemi ini berimbas pada sepinya pasar, sehingga dagangan suami May Ling juga ikut turun drastis karena sepi pembeli.

May Ling jadi teringat pada teguran ibunya, lalu May Ling pergi ke rumah ibunya dan minta diberikan penjelasan mengenai sajian ikan pada Malam Imlek.

Ibu dari May Ling dengan senang hati memberikan penuturan, “Pada malam Imlek jangan lupa menyajikan santapan ikan, karena ikan melambangkan rejeki. Ikan juga harus disajikan utuh, alias tidak boleh dipotong-potong. Saat mengambil ikan juga harus dimulai dari bagian atas dan tidak boleh dibalik, meski dengan dibalik akan memudahkan mengambil daging ikan pada bagian lainnya. Jadi harus pandai-pandailah mengambil daging ikan. Lalu ikan iini juga tidak boleh dimakan habis, harus masih disisakan sebagian guna dapat dimakan pada keesokan hari, yang melambangkan rejeki akan selalu ada tiap hari.”

“Terima kasih, ma, akan selalu May Ling ingat penjelasan mama, terima kasih ya ma”.

May Ling pulang ke rumah dengan lega, meski harus menunggu Imlek mendatang guna menebus kesalahan sebelumnya. Dan May Ling berjanji Malam Imlek kapanpun, ia pasti akan menghidangkan ikan demi kelancaran rejeki keluarganya.

Kejadian ini memang masih misteri, apakah sepinya dagangan akibat tidak menyajikan masakan ikan pada Malam Imlek atau gara-gara pandemi yang melibas semua sektor. Kepercayaan keluarga turun temurun memang harus dilaksanakan, meski secara logika mungkin kurang masuk diakal. Ayo makan ikan pada Malam Imlek.