Misteri Imlek untuk Tao

ilustrasi klenteng/ist

Jelang perayaan Imlek yang tinggal menghitung hari, klenteng kecil di samping kiri gerbang pesarean Mbah Djoego itu tampak semarak. Lampion-lampion digantung di sana-sini. Aroma wangi dupa menguar memenuhi ruangan. Lilin-lilin berukuran raksasa sebagian sudah dinyalakan. Dan, beberapa orang berwajah oriental tampak silih berganti keluar masuk melakukan ritual doa di depan altar.

Aku mesti bersabar menunggu hingga suasana benar-benar sepi. Begitu rombongan terakhir para pendoa pergi, gegas aku masuk ke dalam klenteng, meraih sepasang poa pwee --- keping kayu berbentuk setengah lingkaran lalu melemparnya hati-hati.

Poa pwee jatuh ke lantai dengan posisi berlawanan. Itu berarti aku berhak mendapat kesempatan untuk mengocok tabung berisi puluhan bilah bambu yang sudah ditandai dengan angka-angka.

Crek .... Crek .... Crek .... Klotak!

Satu bilah bambu meloncat keluar dari dalam tabung dan terjatuh di dekat kaki seorang pria. Pria itu membungkuk, memungut benda runcing yang menyerupai tusuk sate itu. Lalu mengulurkannya ke arahku.

"Namaku Tao. Semoga peruntungan nasibmu hari ini baik." Ia berkata ramah.

"Terima kasih," aku mengangguk sedikit sebelum menukar bilah bambu dengan secarik kertas yang tertata rapi di atas meja, yang sudah disiapkan oleh juru kunci klenteng.

Matahari cerah menerangi empat penjuru mata angin. Laut tenang tanpa gelombang. Perahu bergerak dari negeri bertirai. Melaju lembut, menujumu. 

Sederet syair Ciam Si kubaca dalam hati. Sementara pria bernama Tao itu masih berdiri mengamatiku.

"Aku juga punya selembar syair Ciam Si. Kuharap kau mau mendengarkan peruntungan nasibku."

Tanpa menunggu jawaban dariku, pria berkulit gelap itu membacakan kalimat yang tertulis pada secarik kertas berwarna kuning pucat di tangannya.

Burung camar. Senja terkapar di kaki bukit. Jiwa gulana memilih terpenjara di tanah terlarang yang sudah tergariskan.

Tao melipat kembali kertas di tangannya. Pandangannya beralih sejenak. Menatapku. Lalu bibirnya yang kering menyunging seulas senyum.

***
Perkenalan singkat siang itu tidak menghalangi kami untuk saling bertukar jati diri. Tao mengaku dirinya adalah seorang pemerhati kebudayaan yang sudah bertahun-tahun melakukan pendekatan di wilayah pesarean Gunung Kawi ini. Ia mengatakan upaya pendekatan itu dalam rangka mengejar 'sesuatu'.

Sementara aku, keberadaanku di klenteng ini hanya sebatas pengunjung umum yang ingin mengabadikan serba-serbi jelang perayaan Tahun Baru Imlek. Tidak lebih dari itu.

"Tao! Masih di sini juga kau rupanya!" 

Teguran keras itu sontak membuyarkan perbincangan akrab kami. Seorang perempuan paruh baya berjalan tergopoh memasuki klenteng.

"Sampai kapan pencarianmu akan berakhir, Tao? Ini sudah Imlek ke sekian. Dan, kau masih belum juga beranjak dari tempatmu berdiri!"

"Pencarianku hari ini sudah selesai, Ma. Aku baru saja menemukan ..." dengan gerakan lembut pria ramah itu memutar badan, menghadap kembali ke arahku.

Aku tahu Tao ingin melanjutkan kalimatnya yang terpenggal. Tapi terlambat. Seorang bocah perempuan berusia lima tahun berlari lincah memasuki klenteng, diikuti oleh pria gagah. Keduanya berebut mengingatkanku.

"Mama, saatnya kita pulang!"

***

Klenteng kecil di punggung gunung itu kembali senyap. Lampion-lampion indah telah diturunkan. Nyala lilin telah lama dipadamkan. Tak ada aroma wangi dupa menguar memenuhi ruangan. Tidak juga terdengar gemerisik bilah bambu berebut ingin keluar dari dalam tabung. 

Hanya ada seseorang, duduk terpekur di depan altar.

Ya, orang itu adalah Tao. Wajahnya tampak murung. Sesekali tangannya gemetar membuka lipatan kertas Ciam Si yang sudah lusuh.

"Aku kehilangan lagi. Tahun lalu ia menitis menjadi bocah berusia lima tahun itu. Dan, tahun ini ia merupa sebagai ibunya." Ia bergumam pada gerimis yang mengambang di udara. 

Ah, Tao. Ayolah, jangan menyerah! Berdoalah terus agar pada perayaan Imlek tahun depan kita bisa dipertemukan lagi. 

Rrrr ....

Untuk kesekian kali, aku --- patung Dewi Kwan Im  yang duduk di atas meja altar bergeser beberapa inci.

#imlek

#misteriangpao