Penumpang Tengah Malam

Pixabay/RealAKP

Aku adalah seorang sopir taksi yang beroperasi di salah satu kota di Jawa Tengah. Penghasilan menjadi seorang sopir taksi tidak menentu. Terkadang ramai, terkadang sepi. Meski begitu aku bersyukur masih bisa memenuhi kebutuhanku dan istriku.

Seharian ini aku baru mendapat empat penumpang, meski sudah bolak-balik di jalanan dan menunggu di tempat yang sekiranya ada penumpang. Namun hingga hampir tengah malam belum juga mendapat penumpang lagi.

Singkat kata aku memutuskan untuk pulang saja. Sudah selarut ini, kasihan istriku pasti terlalu lama menunggu. Kulajukan mobil taksi ke arah pulang dengan kecepatan lumayan tinggi, apalagi ketika melewati jalanan yang sepi dan gelap.

Di tengah perjalanan, tepatnya tak jauh dari tempat wisata bangunan peninggalan Belanda, ada seorang perempuan yang memberikan kode lambaian tangan. Suasananya sepi sekali. Aku segera menginjak rem dan berhenti sekitar 20 meter dari tempat perempuan itu berdiri.

Agak ganjil sebenarnya melihat dalam hitungan detik dia sudah membuka pintu belakang taksi. Bulu kudukku berdiri saat perempuan yang mengenakan dress merah itu masuk, terlebih ada aroma melati menyeruak.

"Mau ke mana, Kak?" tanyaku.

"Ke desa Sahali, di rumah bertingkat dekat jembatan."

Kebetulan sekali, tujuannya searah dengan jalan ke rumahku. Ini rejeki buat istriku. Namun ada yang mengganjal pikiran, karena yang aku tahu rumah yang dituju oleh perempuan itu adalah rumah yang telah lama kosong.

Aku penasaran untuk melihat penumpang perempuan itu dari spion tengah, terlihat dia tengah menunduk dengan rambut panjangnya menutupi wajah. Tiba-tiba dia mendongak menatap ke arahku, dan mengejutkankannya aku melihat tidak ada bola hitam di dalam matanya. Aku langsung tak berani melihat spion tengah lagi. Aku berharap perjalanan ini segera sampai tujuan.

Sesampainya di tempat yang dimaksud penumpang tadi, aku langsung menginjak rem perlahan. 

"Sudah sampai, Kak."

Dia memberikanku selembar uang lima puluh ribuan dan selembar sepuluh ribuan, sesuai tarif kargo. 

"Terima kasih, Kak."

Dia hanya tersenyum dingin. Aku tak berani menatap ke arah wajahnya.

Aku segera menutup pintu mobil dan melajukannya ke arah pulang dengan kecepatan cukup tinggi karena merasa merinding. Dari spion samping aku sempat melihat sosok perempuan yang tadi masih berdiri itu raib begitu saja. Aku berusaha membuang rasa takutku saat di perjalanan pulang.

Akhirnya aku sampai di depan rumah. Saat membuka pintu rumah, terlihat istriku masih duduk di ruang televisi. Di menyambutku dengan ciuman di tangan, lalu membuatkan segelas teh dan sepiring makanan.

Pagi hari, saat mengambil uang penumpang terakhir yang kutaruh terpisah di saku seragam taksi karena terburu-buru, aku menemukan sesuatu yang aneh. Bukannya dua lembar uang yang kudapat, justru hanya dua helai daun waru yang hendak mengering.

Istriku bergidik merinding saat kuceritakan tentang kejadian tadi malam. Aku pun ikut merinding mengingat banyak hal menakutkan yang terjadi semalam. Hari-hari setelahnya, aku memutuskan untuk tidak melewati jalan yang tadi malam kulewati saat pulang. Aku lebih memilih jalan lain, meski rutenya agak sedikit lebih panjang dan memutar. 

** Terinspirasi dari kisah nyata **