Luwang Mayit Rumah Cik Yen

Ilustrasi gambar Deko Rumah

Memori masa kecil terkadang membekas hingga kita dewasa. Begitu pun dalam benak Lily. Peristiwa 10 tahun lalu ketika perayaan Imlek di rumah Cik Yen masih membekas hingga kini.

Kisah ini bermula ketika Lily kecil disuruh mama untuk membeli merica bubuk di warung Yuk Tin. Lily senang saja membantu mamanya. Persoalannya, untuk ke warung Yuk Tin harus melalui rumah Cik Yen, bangunan tinggi berornamen serba merah. Mulai dari tegel, genteng dan lis jendela yang didominasi warna merah. Di atas gapura pagar terdapat dua naga yang berhadapan. Kata pemilik rumah naga atau disebut dengan Liong adalah sumber keselamatan/penjagaan. Cik Yen sendiri sering menyalakan hio yang terhirup hingga kisaran rumah warga, karena diletakkan di kanan- kiri pintu.

Desas-desus rumah yang menurut mata anak-anak aneh dan angker, melekat di benak Lily. Rumah tersebut sering dihindari apalagi ketika hari mulai gelap. Lily pun lebih memilih jalan memutar meski jarak tempuh ke warung Yuk Tin menjadi dua kali lipat. 

"Kok ngos-ngosan, Ly?"

"Iya, Yuk Tin, tadi lewat muter he .. he ...he ...," jawab Lily cengengesan.

Ketika hendak pulang. Yuk Tin berinisiatif mengantar sampai melewati rumah Cik Yen. Tentunya tangan Lily menggenggam erat. Matanya mencuri lihat apa yang ada di rumah merah itu. Cahaya yang memancar begitu redup.

"Sudah sampai sini saja ya. Ngga ada apa-apa, kan?"

Lily setengah berlari ketika genggaman tangan Yuk Tin dilepaskan. Dia masih harus melewati beberapa bangunan sebelum sampai ke rumahnya. Sebelum masuk belokan terakhir, Lily masih menyempatkan diri menoleh ke belakang, melihat kembali arah rumah Cik Yen.

Kata Robi, ketika dirinya melewati rumah tersebut seperti ada angin yang meniup tengkuknya, juga seperti ada yang berdehem. Padahal ketika dilihat tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Cerita lain juga diyakinkan oleh Nania, kucingnya tak pernah mengeong keras, berbeda ketika tak sengaja melewati rumah tersebut. Kucing berbulu putih mengeong keras dan meronta-ronta tidak ingin pergi dari depan pagar. Sampai Nania menarik tubuh kucingnya. Kata mamanya Nania, biasanya hewan sering peka terhadap penampakan sesuatu yang berbeda dengan manusia.

Lily percaya saja dengan cerita teman-temannya. Hingga suatu sore, tidak seperti biasanya ada keramaian di rumah Cik Yen. Barongsai meliuk-liukkan tarian, juga beberapa orang yang membawa pyeng, piringan kuning sebagai alat musik mengiring permainan barongsai. Beberapa orang dengan potongan kepala plontos dan membawa cawan kuningan memukul-mukulkan seperti sedang berdoa.

Banyak sekali warga yang menyaksikan aktrasi barongsai. Penonton memadati sekitar rumah tersebut. Lily yang takjub dengan permainan barongsai sedikit berjingkat ketika barongsai mendekat tanpa sengaja. Namun saat ada pemain melakukan aksi sembur api, minyak yang dibawa tertumpah mengenai baju Lily. Karuan saja Lily menangis sesegukkan karena takut nanti dimarahi mama. Namun, tidak ada yang peduli, penonton semakin larut dalam sorak-sorai. 

Tanpa sadar, karena terdesak penonton, Lily akhirnya menonton dari halaman rumah Cik Yen. Ketakutannya semakin menjadi. Lily tepekur sembari sesenggukan.

"Sttt ...."

Lily mengedarkan pandangan, kosong. Hanya tamu-tamu yang berkumpul di rumah Cik Yen. Mereka juga bersorak-sorai menyaksikan permainan barongsai.

"Sttt ...."

Suara itu terdengar lagi, Lily fokus mencari sumber suara. Di ujung rumah ada seperti gang yang digunakan untuk keluar-masuk penghuninya. Di samping gang sepertinya masih ada bangunan lain. Dari sanalah sumber suara itu. Lily menunjuk ke dadanya untuk memastikan dirinya yang dipanggil. Anak kecil seusianya  mengangguk. Tangannya melambai mengajak Lily masuk ke bagian rumah melalui gang. Perlahan Lily melangkahkan kaki.

Rupanya gang itu menuju bagian dalam rumah. Dinding dan ornamennya sangat unik, Lily yakin belum pernah melihatnya. Anak tersebut mengenalkan diri sebagai  A Chen. Dia memberi baju berwarna merah dan menyuruh Lily berganti baju di kamar sebelah.

"Ini pas denganku. Besok kalau sudah dicuci aku balikin yah."

Lily sempat memagut diri di depan cermin. Baju itu sangat cocok, berkrah sampai leher dengan kancing bunga miring ke arah kiri. Setelah puas, Lily pamit karena masih ingin menyaksikan barongsai.  

A Chen menggangguk dan tersenyum. Namun, dia tidak ikut ke halaman, hanya mematung di ujung pintu. Lily segera keluar dengan mendekap baju yang terkena tumpahan minyak.

Dua hari setelah perayaan tahun baru Imlek, Lily kembali mendatangi rumah Cik Yen untuk mengembalikan baju. Kali ini Lily ditemani mamanya. Akan tetapi, tak urung perasaan takut tetap menyelimuti. Dia menggenggam erat tangan mamanya.

"Selamat siang, Cik, maaf ganggu waktunya."

Melihat ada tetangga yang datang, Cik Yen segera memersilakan untuk duduk. Lily mengedarkan pandangan ke segala arah. Masih dengan ornamen warna merah di berbagai ruangan.

"Sepertinya you penasaran dengan rumah ini?" kata Cik Yen membuka pembicaraan.

Lily yang terlihat mengamati sesuatu sedikit terkejut.

"Emm ... kok sepi?"

"Iya, hari-hari memang saya sendiri di rumah, berdua sama suami. Ada apa, Lis?"

"Ini Cik Yen, saya mau mengembalikan baju yang dipinjamkan cucunya ke Lily, anak saya."

Cik Yen menekuk alisnya, bingung. 

"Siapa? Saya bingung, maklum sudah tua."

"A Chen," jawab Lily. 

Tiba-tiba mata Cik Yen menerawang ke suatu tempat, tatapan yang tak bisa dijelaskan. Tubuh bungkuknya sedikit diangkat, mencoba menarik napas dalam-dalam dan embusannya dapat didengar. Cik Yen bangkit dari duduknya dan mendekati pigura, sebuah foto kenangan keluarga. Dia menunjukkan bingkai foto tersebut kepada Lily dan mamanya.

"I-iya, ini A Chen, di mana dia sekarang?"

Kali ini Cik Yen tak dapat menyembunyikan perasaannya. Ada kesedihan bersemayam di sana. Air matanya tak terbendung lagi. Tangisnya pecah dengan sesenggukan yang coba ditahan.

"Lho ... lho, kenapa, Cik? Kemarin saat di sini ada pertunjukan barongsai, Lily tidak sengaja ketumpahan minyak. Karena takut saya marahin akhirnya nangis. Nah, A Chen meminjami baju."

Cik Yen mencoba menenangkan diri, dan perlahan cerita tentang A Chen.

Waktu itu A Chen masih berusia kisaran tujuh tahun. Suatu hari karena Cik Yen harus menjemput  A Lin, kakaknya A Chen, yang sedang les. A Chen ditinggal sendirian. Saat itu suaminya  sedang ada kerjaan di luar kota. 

Namun ketika pulang, rumahnya  gelap-gulita karena sedang ada pemadaman bergilir. Cik Yen menjadi gugup karena tahu A Chen pasti sedang ketakutan di dalam rumah. Buru-buru dia membuka gerbang dan berlari ke dalam rumah. Setelah menyalakan lilin, Cik Yen segera mencari A Chen yang tidak menyahut meski sudah berulangkali dipanggil.   

Cik Yen terus saja mencari dengan pencahayaan lilin. Betapa terkejutnya ketika mendapati A Chen telah tersungkur di lantai depan kamarnya. Dengan posisi tertelungkup dan sekujur tubuhnya dingin. Bibirnya membiru dan napasnya terhenti. Cik Yen menjerit histeris. Segera dia membawa A Chen ke rumah sakit. Setelah diperiksa  tidak ditemukan luka serius. Hanya memar di bagian kepala karena terbentur benda keras. Tubuhnya membiru karena gagal napas, menurut dokter A Chen kesulitan bernapas karena ketakutan.

"A Chen mengalami sindrom nyctopobhia," terang  dokter. "Tekanan ketakutan mendalam yang menyebabkan penyempitan pernapasan karena lemahnya denyut jantung."

Ayah A Chen masih tak terima sampai mencari informasi lebih dalam kepada cenayang. Setelah melihat kondisi rumah, cenayang tersebut mengatakan rumah Cik Yen mengandung unsur luwang mayit. Hal itu ternyata karena kamar A Chen berhadapan dengan kamar A Lin. Terlebih ukurannya nyaris sama dengan ukuran kuburan.

Setelah mendengar penjelasan cenayang, ayahnya A Chen kemudian mengganti pola luwang mayit menjadi satu arah. Kamar A Chen dibongkar hingga menjadi ruangan los tembus ke ruang tengah. Pola luwang mayit pun hilang.

Meski kejadian itu sudah lama sekali, tetapi Cik Yen dan suaminya terus didera penyesalan. 

"Ini baju A Lin sewaktu kecil. Dia sekarang sudah menikah dan punya dua anak yang lucu-lucu," ujar Cik Yen.  

Mendengar penjelasan Cik Yen, bukan hanya Lily, mamanya pun terkejut. Jadi siapa yang meminjamklan baju shanghai warna merah?

#imlek
#misteriagpau
#misteriimlek

Malang, Februari 2021