Misteri dan Mitos Perayaan Imlek

Ilustrasi: ist

Sejak keluarnya Keputusan Presiden (Keppres) No.6 Tahun 2000, perayaan Imlek atau Tahun Baru China, dengan bebasnya bisa kembali diadakan di negeri ini. Setelah 32 tahunan lamanya, tradisi ritual dari penganut Agama Konghucu itu sempat “terkekang”.

Dimana, karena adanya Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 tahun 1967, maka Perayaan Imlek dan segala kegiatan yang berkaitan dengan tradisi yang berbau China (Tionghoa) itu, tidak bisa dilakukan dengan secara lebih leluasa. Padahal sebelumnya, baik itu pada masa pendudukan Jepang atau setelah era kemerdekaan, perayaan Imlek dan segala yang berkaitan dengan kebudayaan Tionghoa itu, sempat mendapati kebebasannya.

Bahkan, melalui Surat Penetapan Pemerintah No.2/UM/1946, dengan secara khususnya pemerintahan era Presiden Soekarno sempat menetapkan adanya 4 hari libur yang berkenaan dengan kegiatan peribadatan penganut Agama Konghucu ini. Yaitu, Hari Raya Imlek, Peringatan Hari Wafatnya Konghucu, Peringatan Hari Lahirnya Konghucu dan Cheng Beng atau hari khusus untuk berziarah mendatangi makam-makam leluhur.

Namun, pasca keluarnya Keppres No.6/2000 di masa kepemimpinan Presiden Abdurahman Wahid (Gusdur) dan Keppres No.19/2002 di era Presiden Megawati itu, maka hal itu pun kini bisa bebas dilakukannya kembali.

Dalam Keppres No.6/2000 diputuskan, bahwa Inpres No.14/1967 yang isinya tentang pelarangan penyelenggaraan kegiatan Perayaan Imlek dan segala hal yang berbau Tionghoa itu dilakukan dengan secara terbuka, telah dicabut atau dibatalkan. Sehingga para penganut Konfusius dan para keturunan etnis Tionghoa itu bisa kembali bebas melakukan ritual dan hak-hak berbudayanya. Sedangkan melalui Keppres No.19/2002, peringatan Hari Raya Imlek ini dengan secara resminya, telah ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional.

Bak gayung bersambut. Perayaan Imlek yang awalnya hanya dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang beragama Konghucu saja, maka kini sempat pula disambut dan dirayakan oleh mereka para keturunan etnis Tionghoa yang nota bene bukan lagi penganut agama asli warisan leluhurnya itu. Karena konon, pasca adanya Keppres No.19/1967 dan juga pengaruh-pengaruh asimilasi lainnya, maka para etnis Tionghoa itu kini pun telah banyak yang berpindah agamanya. Utamanya menjadi para penganut Agama Buddha dan Kristen.

Sehingga pemaknaan Imlek pun kini telah menjadi sedikit bergeser. Yaitu bukan sekedar sebagai hari raya yang sakral untuk pelaksanaan ritual dan peribadatan Umat Konghucu saja. Melainkan telah menjadi bagian dari tradisi yang “wajib” dilakukan oleh kalangan etnis yang berdarah Hokkian itu. Atau bahkan, karena kemeriahan dan keunikan-keunikan pada saat pelaksanaannya, maka kelompok-kelompok suku yang lainnya pun, kini sempat pula ada yang berempati dan ikut memeriahkannya.

Misteri dan Mitos

Karena Imlek atau Konghucu ini merupakan ritual dan agama yang sudah berusia tua, serta di dalam cerita awal kemunculannya pun sempat ada balutan-balutan cerita mistik dan legendanya yang unik, maka pada perkembangan dan tatacara-tatacara pelaksanaannya pun, banyak sekali mitos dan warna-warni kemisteriannya.

Sebut saja misalnya, soal penanggalan dan penetapan untuk perayaan hari raya Imleknya itu sendiri. Dimana seperti catatan-catatan sejarahnya yang ada, bahwa untuk penetapan tanggal dan bulan yang kemudian dijadikan sebagai hari raya persembahyangan atau Imleknya itu, sempat terjadi banyak fase dan perubahan-perubahannya. Yaitu yang dimulai sejak dari Dinasti Xia (2205 SM) hingga ke Dinasti Han (195 SM).

Pada saat China dan era kedinastian pertamanya berdiri, konon penanggalan dan perayaan Imlek ini, masih belum dikenali. Karena mereka masih belum memiliki perhitungan kalender dan mengenali agama. Dan barulah pada masa Dinasti Xia (2205 SM-1766 SM) penanggalan dan peringatan tahun untuk pemujaan leluhurnya, mulai dikenal. Dimana tahun baru menurut perhitungan mereka adalah jatuh pada bulan ke 1 berdasar pada penanggalan yang mereka buat itu. Yakni, yang berdasar pada perhitungan peredaran bulan. Dan tahun pertamanya ditetapkan pada saat penanggalan itu dibuat. Namun ketika masa kedinastian berganti, perhitungan penanggalannya pun sempat pula ikut diubah.

Pada masa Dinasti Shang (1766 SM-1122 SM), penetapan awal tahun sempat diubah menjadi ke akhir musim dingin (menjadi ke bulan ke 12 penanggalan Masehi sekarang-pen.). Serta tahun kedinastiannya itu pun ditetapkan sebagai tahun ke satunya.

Pun, pada masa Dinasti Zhou (1122-255 SM). Penetapan awal tahun diubah menjadi ke bulan ke 11 (penanggalan Masehi, sekarang-pen.). Yakni,  saat matahari berada pada garis 23,5? Lintang Selatan. Atau ketika terjadinya puncak musim dingin.

Juga pada masa Dinasti Qin (225-202 SM), penanggalan China ini sempat kembali diubah. Utamanya, mengenai awal dari perhitungan tahunnya. Sementara Dinasti Han (202-195 SM), mengubah perhitungan awal tahunnya itu menjadi ke bulan ke 1 (penanggalan Masehi), atau awal dari tibanya musim semi. Dan perhitungan angka tahunnya mengacu pada tahun kelahiran Kongzi (551 SM). Yaitu sosok yang diyakini sebagai “nabi” dan telah mengajarkan Agama Konghucu itu. Karena maksud dari dibuatnya penanggalan pada masa itu, tidak lain adalah untuk penguatan keyakinan mereka pada ajaran agama yang diwarisi dan diyakininya itu. Oleh karenanya, penanggalan itu pun kemudian dikenal dengan sebutan Kalender atau Tahun Kongzili.

Dan tampaknya penanggalan inilah yang kini dipakai sebagai kalender Tionghoa tersebut. Meskipun dalam hal perhitungan angka tahunnya, hingga kini pun konon masih pula ada perbedaannya. Yaitu, ada yang mengacu pada tahun kelahiran Kongzi (551 SM) itu, namun ada pula yang berdasar pada tahun kelahirannya Huang Di (2697 SM), yakni tokoh yang sempat digelari sebagai Kaisar Kuning dan diyakini sebagai leluhur seluruh etnis Tionghoa itu.

Selain dalam hal penetapan angka dan penanggalannya, hal lain yang juga banyak menyisakan cerita misteri dari perayaan Imlek ini, adalah bahwa Hari Imlek itu dianggap sebagai hari perlawanan dan pengenangan atas kemenangan mereka dalam hal mengusir hantu atau roh jahat.

Karena menurut kisahnya, awal dari diadakannya perayaan Imlek ini,  adalah lantaran pada setiap tibanya tahun baru itu kepada mereka kerap ada sesosok hantu yang datang  meneror. Yaitu, ia muncul dengan menampakkan wujudnya dengan sangat ganas dan menyeramkan. Dimana, bagian tubuhnya menyerupai seekor kerbau dan kepalanya menyerupai seekor singa.

Dimana, selain memangsa ternak dan hasil-hasil bumi, konon si sosok hantu itu pun, kerap sering pula menculik dan memangsa manusia. Utamanya anak-anak. Sehingga pada setiap tibanya tahun baru itu, mereka pun saling bersembunyi dan sangat merasakan ketakutannya.

Namun suatu ketika, saat si hantu jahat itu datang dan sempat memergoki adanya seorang anak yang tengah bermain sendirian. Anehnya, ia pun malah sempat berlari dan seperti sangat merasakan ketakutan. Dimana yang setelah diselidiki, penyebabnya tidak lain, karena si anak tersebut tengah mengenakan pakaian yang warnanya merah serta menabuhkan bunyi-bunyian.

Sehingga dari sejak itulah, maka pada setiap tibanya tahun baru atau saat akan datangnya si hantu yang berwujud sesosok monster tersebut, semua orang pun serentak mengenakan pakaiannya yang berwarna serba merah dan sembari memainkan bunyi-bunyian. Bahkan sejumlah benda dan ornamen lainnya pun, sempat pula ikut diwarnai dengan warna yang diyakini dapat pengusir hantu tersebut.

Oleh karenanya, hingga kini warna merah, petasan dan peralatan kesenian yang bersuara keras, telah menjadi bagian dalam setiap perayaan Imlek itu.  Dan hal itu biasanya mereka lakukan hingga 14 harian. Yaitu, hingga enyahnya si hantu pengganggu tersebut. Sehingga akhir dari perlawanannya itu, kemudian mereka pun namakan dengan  hari kemenangan. Atau yang dalam pelaksanaan perayaannya sekarang, dikenali dengan Cap Go Meh itu.

Selain hal-hal yang bersifat misteri, dalam pelaksanaan Hari Raya Imlek ini pun, banyak pula cerita mitos atau simbol-simbol kepercayaan yang bersifat kleniknya.

Selama perayaan Imlek itu selain mesti banyak bersembahyang, mereka pun tidak boleh melanggar sejumlah larangannya. Seperti, tidak boleh mengenakan pakaian yang berwarna putih atau hitam. Karena hal itu, akan membawa kesialan dan melambangkan kematian. Tidak boleh memakan bubur, karena dapat mendatangkan kesengsaraan. Tidak boleh menyapu dan membersihkan rumah, karena dapat menjauhkan dari rezeki pada kehidupan satu tahun yang akan dijalaninya itu. Dan, bagi mereka yang belum memiliki pasangan atau menikah, tidak boleh memberi uang atau angpau kepada siapa pun, karena hal itu konon akan menjauhkan dari rezeki dan si calon jodohnya. Na lho! (Ayi Ruswanto/ Berbagai Sumber).

#imlek #misteriangpau