Tianzhi dan Malam Tanpa Lampion

Foto: Ilustrasi

Februari, 2021.

Sayang sekali tahun ini tidak ada festival lampion di jalan Yos seperti perayaan Imlek tahun-tahun sebelumnya. Aku sedang duduk di salah satu bangku kafe, dekat jendela yang menghadap titik di mana empat ribu lampu berwarna merah itu pernah dipasang sepanjang dua ratus lima puluh meter.

Lampu-lampu disusun sedemikian rupa dan saat malam menjadi pemandangan indah. Ribuan orang akan berjejal, menunggu kesempatan mengambil foto dengan latar belakang yang gemerlap. Berbeda denganku yang lebih suka menikmatinya dari sini. Tapi malam ini, hanya ada beberapa pedagang di pinggir jalan dan orang-orang keluar masuk pasar tak jauh dari sana.

Ruas jalan itu disambungkan sebuah jembatan. Di bawahya adalah sungai dengan arus tenang. Beberapa perahu tampak bersandar di tepi. Sepanjang tepi sungai adalah bangunan pemukiman. Beberapa lampion dipasang di atas sungai tapi tidak semeriah tahun lalu. Tidak banyak juga yang menyewa perahu untuk menyusuri sungai menikmati suasana malam.

Di titik lain, beberapa becak juga menganggur. Pemiliknya hanya rebah-rebahan di kursi penumpang sembari mengisap rokok. Pemandangan yang membosankan. Aku mengalihkan perhatian ke dalam kafe. Selain waiter, hanya ada aku, empat remaja di bagian tengah yang sedang asik memotret hidangan mereka, sepasang muda mudi di pojokan yang temaram, lalu ... Seorang wanita berjarak dua bangku dari tempatku. Desain interior kafe ini berkonsep urban modern dengan menu lebih ke western. Ada beberapa menu lokal, tetapi tidak ada menu oriental. Itu sebabnya keberadaan pengunjung di sebelahku itu menarik perhatian. Dia mengenakan gaun hitam tanpa lengan dengan kerah Shanghai. Kutebak gaunnya yang memiliki warna kain yang mengkilat dan aksen seperti batik berwarna gold itu terbuat dari semacam kain prada yang mempertegas kulit putihnya. Rambutnya digulung ke atas seperti sanggul khas pramugari, membuatnya tampak dewasa dan kharismatik.

Dia juga sedang menghadap jendela, sehingga tak menyadari ada yang yang sedang mengamatinya. Tiga malam berturut-turut aku melihatnya di kursi yang sama, dengan penampilan yang sama. Kali ini dia membalas menoleh ke arahku. Sebelum sempat menghindar, aku lebih dulu ketahuan sedang memandang ke arahnya. Dia tersenyum.

"Hai!" sapanya. Aku balas tersenyum.

Mungkin dia mempertimbangkan aku yang sedang menggunakan laptop di meja dengan kabel sedang tertancap pada sumber listrik, makanya aku tidak mendekat. Akhirnya dia yang berinisiatif pindah ke mejaku.

"Boleh duduk?"

"Silakan!"

"Namaku Tianzhi."

"Wilson,"

Kami asik mengobrol hingga tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat dan kafe hampir tutup. Dia bilang tak membawa kendaraan, sehingga aku menawarkan padanya mengantar pulang. Kukatakan bahwa aku hanya mengendarai motor sport tapi dia tak keberatan sebab tujuannya tidak terlalu jauh. Kamipun melaju ke sana. Dia minta turun di pinggir jalan depan gedung dengan gapura berarsitektur Cina. Pada bagian atas terdapat tulisan berhuruf Cina tetapi karena malam hari dan lampu temaram, jadi tak terlihat jelas.

"Besok kamu ke kafe lagi?" tanyaku.

"Iya,"

"Oke, sampai jumpa di sana."

Dia hanya tersenyum. Menungguku pergi.

***

Pulang dari kantor, aku langsung ke kafe. Memesan minuman dan makanan lalu menuju kursi yang biasa kutempati. Aku suka meja itu karena dekat jendela dan sumber listrik. Fasilitas free wifi juga jadi daya tarik sebab kadang-kadang aku perlu mengerjakan tugas kuliah online. Kali ini, sudah ada seseorang di sana. Tentu saja Tianzhi, dia pasti sedang menungguku.

"Hai, sudah lama?"  sapaku. Dia menoleh dan menyunggingkan senyum. Aku meletakkan makanan dan minuman di meja. Sengaja tadi aku memesan untuk dua orang. Untukku sendiri dan untuknya.

"By the way, sejakkapan sih kamu sering datang ke sini? Aku baru lihat kamu empat malam ini loh."

"Empat hari yang lalu. Aku hanya pengunjung dan nggak akan lama  di sini. Aku akan pergi sebelum malam Imlek."

"Wah, nggak bisa ketemuan lagi dong."

"Iya." Dia menunjukkan wajah sedihnya.

"Boleh minta kontak kamu? Email atau ...,"

"Sorry ...,"

Aku agak kecewa. Tetapi cepat-cepat kutepis perasaan itu. Mungkin ada hati yang sedang dia jaga.

"Sayang banget ya, kalau gitu kita harus buat kenang-kenangan. Gimana kalau aku ajak kamu naik perahu di sungai itu. Kamu pasti belum pernah kan?"

"Boleh. Sekarang?"

"Kalau sekarang sudah terlalu malam. Besok aja, pumpung malam minggu. He he ...!"

"Ok!"

Malam itu aku mengantarnya pulang lagi. Sebelum berpisah dia berpesan agar dijemput di tempat itu juga. Lalu berencana langsung ke sungai saja untuk naik perahu. Dan sesuai kesepakatan, malam minggu aku menjemputnya jam tujuh, langsung ke tempat penyewaan perahu. Pemilik perahu tampak ragu saat kubilang tak perlu didayungkan karena aku bisa mendayung sendiri. Otomatis dia tak perlu ikut kami naik perahu menyusuri sungai. Kami mulai naik dan meluncur pelan di atas air. Sebenarnya aku berbohong padanya tentang melihat pemandangan malam kota, sebab kanan kiri sungai adalah dinding beton tinggi.  Kalau tahun lalu menjelang Imlek di atas sungai ini di dekorasi dengan lampion, kali ini tidak. Lampion hanya ada di rumah penduduk yang ada di sisi sungai. Aku hanya iseng saja, ingin merasakan suasana berdua. Tetapi sialnya, baru beberapa menit mendayung ponselku berdering. Panggilan masuk dengan nama 'Mama' terpampang di layar.

"Angkat dong!" kata Tianzhi saat aku berniat mengabaikan telepon dari mama.

"Halo, Mah! Aku lagi di jalan Yos. Kenapa? Pulang? Sekarang? Aduh ... Tanggung Mah, bentar lagi ya! Penting apa sih? Apa nggak bisa besok atau ntar? Iya iya. Yaudah aku pulang!"

Telepon kumatikan.

"Haha ... Disuruh pulang sama mama." Aku tertawa antara kesal dan malu. Tianzhi tampak datar saja.

"Pulang aja."

"Maafin aku, ya!"

"Mama kamu lebih penting."

Kudayung perahu kembali ke spot awal. Sebelum pulang, kuantar dulu Tianzhi ke tempat tinggalnya.

"Besok ketemu lagi, ya!" kataku sebelum pergi. Tetapi dia hanya tersenyum tipis. Entahlah, sikapnya sudah terasa dingin dari awal saat akan naik perahu. Mungkin dia telah mencium gelagat nakalku padanya. Walaupun aku tak berniat jahat, hanya ingin main-main saja. Kuakui, aku sangat menyesal. Seharusnya aku memberinya kenangan yang baik. Siapa tahu kelak kami bertemu lagi di saat yang baik. Tidak seperti sekarang, minta kontaknya saja tak dikasih. Dan sesuai hukum alam, penyesalan selalu datang terlambat. 
Malam berikutnya, aku tak melihatnya lagi di kafe. Imlek akan tiba dua malam lagi. Dia bilang, dia akan pergi malam sebelum Imlek, artinya masih ada waktu. Aku berharap untuk bertemu dengannya sekali lagi untuk minta maaf. Aku memutuskan akan ke tempat tinggalnya besok, sepulang kerja. Kebetulan aku pulang agak siang.

Pulang kerja, aku langsung ke sana. Berhenti di depan gapura. Kali ini, aku bisa melihat dengan jelas tulisan di bagian atas gapura itu. Walaupun tak mengerti tulisan Cina, tetapiaku bisa membaca kata 'Thiong Ting' di bawah huruf mandarin. Melihatku memperhatikan tempat itu, satpamdatang menghampiri.

"Ada apa Mas?"

"Maaf, Pak. Saya lagi nyari orang yang nginep di sini."

"Hah?! Nggak salah Mas?"

"Nggak Pak. Dia bilang tinggal di sini sampai menjelang malam Imlek. Beberapa malam saya anter dia sampai di sini kok. Namanya Tianzhi, mungkin Bapak kenal."

"Masa sih? Ini rumah duka, Mas. Tempat semayam jenazah. Kalau nama Tianzhi, itu memang seminggu bersemayam di sini, baru dimakamkan tadi pagi."

"Hah?!" Aku nganga keras. Lututku lemas. Ah ... Tak menyangka nyaliku seciut ini. Tapi tidak! Aku tak mau percaya begitu saja. Aku adalah pria terpelajar, mana mungkin percaya hal-hal mistis seperti ini. Aku meninggalkan rumah duka Thiong Ting, menuju sungai. Aku masih ingat bapak yang menyewakan perahunya kemarin malam.

"Pak, Bapak ingat saya kan?  Teman saya yang naik perahu dengan saya kemarin malam, semalam ke sini nggak?"

"Saya ingat Mas, saya nggak akan lupa. Beberapa malam ini nggak ada yang naik perahu. Cuma Mas aja. Mas ini aneh, masa naik perahu sendirian."

"Kemarin malam saya kan sama cewek, Pak. Orang Cina, pake gaun khas Cina."

"Nggak, Mas. Mas ini naik perahu sendiri. Ngotot mau dayung sendiri. Saya kira Masnya mau bunuh diri. Makanya saya curiga. Ternyata baru sepuluh menit balik lagi."

Aku tambah kesal. Tapi nyaliku kembali goyah. Sedangkan akalku tetap saja menolak.

Tidak mungkin!

Clue terakhir adalah kafe.
Hari sudah hampir senja, aku langsung menuju kafe. Aku tak memesan apa-apa, melainkan langsung ke meja biasanya. Masih kosong.

"Mas, aku mau nanya. Mas inget nggak sama pengunjung berpakaian khas Cina yang beberapa malam duduk sama saya di kursi itu?" Aku tidak sabar bertanya pada waiter.

"Mmm ... Kalau Mas, saya hapal karena pelanggan tetap di sini. Tapi, di sana Mas duduk sendiri. Kadang ketawa-ketawa sendiri. Kupikir wajar, mungkin Masnya lagi buka-buka sosmed. Masnya duduk sendiri terus. Nggak ada orang lain, apalagi orang Cina seperti yang Mas bilang. Ya dulu kadang ada sih, tamu orang Cina. Tapi selama pandemi ini nggak ada tamu orang Cina, Mas."

Aku lunglai. Tak bisa berpikir apa-apa lagi.

#Imlek
#Misteriangpau