Ramalan Tatung dari Singkawang

detiktravel

Lilian, putri kami yang bungsu kini sudah selesai kuliah di UPH di Karawaci. Dia juga sudah mantap menjalin  hubungan dengan Susanto atau A Kiong, seorang pemuda berasal dari Singkawang, Kalimantan Barat. A Kiong sendiri sudah punya usaha sendiri di PIK alias Pantai Indah Kapuk.

Karena itu sekitar Maret bulan depan, rencananya keluarga A Kiong akan datang ke rumah kami di Tangerang untuk melamar.  Walau mereka baru kenalan sekitar 3 bulan Saya dan istri sudah setuju karena saya melihat A Kiong adalah pemuda yang baik, dan secara ekonomi lumayan sukses pada usia yang masih tergolong muda. 

“Papa, Lilian izin untuk pergi ke Singkawang saat Cap Go Meh nanti.” Tiba-tiba saja putri bungsuku ini minta izin sewaktu kami makan malam bersama menjelang Imlek.

“Lilian, boleh saja. Mama izinkan kamu pergi asal bersama Papa dan Mama,” Susi, istriku tiba-tiba saja menjawab.

Sebenarnya, sudah lama Susi, yang lebih sering dipanggil Siu Mei, ingin jalan-jalan ke Singkawang sewaktu Cap Go Meh. Katanya mau menyaksikan pawai Tatung yang terkenal sangat meriah. Namun kami tidak pernah sempat karena selalu kehabisan pesawat dan hotel..

Mau tidak mau saya akhirnya menyetujui usulan istri. Lilian juga kemudian menelepon A Kiong sekaligus memberitahu rencana kami.

“Sekalian berkenalan dengan calon besan,” kata saya kepada Lilian. 

Di hari kedua Imlek, A Kiong datang berkunjung ke rumah dan membawa tiket buat saya dan istri.  Kami sekeluarga juga sudah dipesankan untuk menginap beberapa hari di salah satu hotel terbaik di Singkawang.

“Nanti papa akan kirim sopir dan mobil untuk kita dari Bandara Supadio di Pontianak. Perjalanan ke Singkawang masih sekitar 3 jam setengah dari Pontianak,” kata A Kiong dengan takzim.

 

 

Dua hari sebelum perayaan Cap Go Meh, kami sekeluarga bersama A Kiong berangkat dengan pesawat paling pagi ke Pontianak. Di bandara, sopir dan kendaraan sudah siap menunggu dan perjalanan sekitar 3 setengah jam ke Singkawang ternyata cukup lancar. 

Kami bertiga diantar ke sebuah hotel bertaraf internasional yang terletak di sebuah mal di Kota Seribu Kelenteng ini.  Lokasinya juga sangat nyaman di pusat kota dan merupakan tempat yang pas untuk menyaksikan keramaian dan pawai sewaktu Cap Go Meh.

Sementara kami bertiga beristirahat dulu di hotel setelah perjalanan yang lumayan panjang sejak pagi, A Kiong sendiri bersama sopir pulang ke rumah orang tua nya dengan janji malam nanti akan datang menjemput kami untuk makan malam bersama dengan orang tuanya.

Sekitar pukul 7 malam, Lilian sudah berdandan cantik karena ini adalah pertama kali akan diperkenalkan dengan calon mertua.  Tak Lama kemudian A Kiong sudah datang menjemput dan ternyata kami diajak ke sebuah restoran yang lumayan besar tidak terlalu jauh dari hotel. 

Di restoran itu sudah menunggu orang tua A Kiong. Ayah A Kiong terlihat sekitar berumur 58 tahunan sementara istrinya sekitar dua tiga tahun lebih muda. Keduanya terlihat berpakaian sederhana saja walau merupakan pengusaha yang cukup sukses di Singkawang ini.

“A Hok,” demikian ayah A Kiong memperkenalkan dirinya. Namanya sendiri secara resmi adalah Hamidi dan dia bercerita pernah kuliah di Jakarta namun tidak sampai tamat. Waktu kuliah di Jakarta inilah dia berkenalan dengan ibunya A Kiong yang diperkenalkan dengan nama A Giok atau Kemala. 

Mendengar nama ini, Saya merasa tidak asing. Apa lagi melihat wajah ibunya A Kiong ini. Saya merasa pernah mengenalnya. Walau perlu beberapa saat untuk menemukan kembali memori yang sudah terpendam puluhan tahun.  Tidak heran kalau Kemala juga sedari tadi melihat ke wajah saya sambil memandang ragu antara kenal namun takut salah.

Kami berenam kemudian menikmati makanan seafood yang disediakan. Makanannya cukup lezat sehingga untuk sementara saya bisa melupakan Kemala. Mungkin hanya mirip dengan seseorang yang pernah saya kenal di masa lampau.

Sehabis makan saya pergi ke tempat wastafel untuk mencuci tangan. Tiba-tiba saja sepasang tangan menepuk bahu saya dan memberi kode dengan meletakkan telunjuk kanannya di dekat hidung. Maksudnya agar saya jangan berisik nanti.

 “Tony, Kamu kah itu?” tiba-tiba Kemala menegur saya.

Saya terkejut mengapa dia bisa memanggil saya dengan nama Tony, sedangkan tadi saya memperkenalkan diri menggunakan nama A Siong.

Setelah mendengar suara ini, barulah saya teringat akan Kemala yang dulu. Perempuan yang dulu pernah sangat dekat dengan saya, bahkan kami pernah menjalin hubungan sangat dekat ketika kami sama-sama kuliah di Bandung, sekitar 30 tahun lalu.  Kampus kami sama, walau lain Fakultas. Tetapi tempat kos kami bertetangga di daerah Ciumbuleit.

Kemala tidak memerlukan jawaban saya, dia sudah mengenali saya sebagai Tonynya yang dulu. Dia kemudian memberikan selembar kertas berisi nomor telepon genggam.

Kami berdua kembali ke tempat duduk dan melanjutkan pembicaraan dengan A Kiong, Lilian dan A Hok serta istri saya. Kami berdua tetap pura-pura baru kenal.

Lalu ketika pembicaraan soal lamaran ke Jakarta di bulan Maret, barulah Kemala sedikit agak tegas. Menurutnya dia akan berkonsultasi dengan seorang Tatung yang masih apak nya mengenai pernikahan ini, Kalau memang A Kiong dan Lilian berjodoh, tentunya tidak akan ada aral yang melintang.

 

 

Kota Singkawang sendiri akan mengadakan parade atau pawai Tatung pas pada hari Cap Go Meh atau hari ke 15 penanggalan Imlek. Pada hari itu ratusan Tatung dari etnis Tionghoa, Dayak dan bahkan Melayu akan melakukan pawai dengan melakukan berbagai atraksi yang mendebarkan hati.

Ada yang duduk di tandu berupa pedang dan kemudian memasukkan benda tajam ke tubuh mereka. Ada yang menusuk-nusuk pipi, lidah dengan pisau namun sama sekali tidak ada darah atau rasa sakit. Konon para Tatung itu dalam keadaan dirasuki roh para dewa atau leluhur yang sakti sehingga mampu mengadakan atraksi itu.

Atraksi Tatung sendiri sudah ada di Singkawang sejak ratusan tahun lalu sejak kedatangan imigran Tionghoa yang kebanyakan etnis Hakka atau Khek pada awal sampai pertengahan Abad ke 18.  Tidak semua orang bisa menjadi Tatung. Biasanya ada yang mewarisi ilmu ini sebagai turunan, atau bisa juga belajar ke guru secara spesifik.

Nah para Tatung in, selain memiliki bermacam profesi, ada juga yang bisa mengobati orang sakit atau berbagai keahlian paranormal lainnya.

Ternyata A Hok juga merupakan seorang Tatung. Saya melihatnya tampil pada parade di hari Cap Go Meh.  Dan Kemala juga memperkenalkan saya dan istri dengan Apak atau pamannya yang bernama A Beng, lelaki berusia 70 tahunan yang terlihat masih gagah dan juga ikut parade sebagai Tatung.

Berdasarkan penerawangan Apak  A Beng ini, ternyata A Kiong dan Lilian sebenarnya tidak berjodoh. Kalau mereka dipaksakan menikah, nantinya akan terjadi bencana.  A Hok sendiri ternyata masih murid Apak A Beng, sehingga sangat mudah meyakinkan A Hok agar pernikahan Lilian dan A Kiong ditunda atau dibatalkan. Menurut Apak A Beng, lebih baik A Kiong dianggap sebagai kakak buat Lilian. Jodoh untuk Lilian dan A Kiong juga sudah ada dan tidak lama lagi mereka akan saling menemukan jodoh yang cocok.

Kemala dan A Hok juga mempunyai cara yang elegan untuk menyampaikan hal ini kepada Lilian dan A Kiong untuk menunda lamaran yang rencananya akan dilaksanakan bulan depan. Apak Abeng menyampaikannya dengan cara halus dan menyarankan keduanya untuk tetap melanjutkan hubungan sekitar 6 bulan sampai satu tahun lagi baru kemudian memutuskan untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih serius.

Istri saya sempat kaget dengan keputusan ini, Tetapi saya tentunya dapat menerima dengan senang hati suatu penyelesaian yang win-win untuk semua.

Walau Kemala tidak memberitahu secara gamblang, dia sudah memberi sinyal bahwa dia dulu sempat hamil dengan saya ketika di Bandung. Namun karena hubungan kami terputus dan hilang kontak dia pindah kuliah ke Jakarta dan kemudian dijodohkan dengan A Hok.

Apakah A Kiong merupakan putra saya dan Kemala, Apakah A Kiong dan Lilian adalah kakak beradik lain ibu?

Waktu lah yang membuktikan. Setelah melanjutkan pacaran, 3 bulan kemudian keduanya putus namun tetap berhubungan baik sebagai kakak adik.

Lilian dan A Kiong masing-masing sekarang sudah mempunya pacar baru yang tidak kalah ganteng dan cantik.

Saya dan istri datang ke pernikahan A Kiong, demikian juga A Hok dan Kemala datang ke pernikahan Lilian.

Ternyata benarlah ramalan Apak A Beng.

5 Februari 2021.

#imlek

#misteriangpau