Sin Song Thien-Dewa Dewi Menuju Langit

Tridharma.or.id

Dua puluh tujuh tahun yang lampau, tiga hari menjelang Imlek. Aku hampir mati kehabisan nafas dalam kondisi hamil tujuh bulan, anak pertama lagi. Sampai saat ini, kejadian itu amat membekas. Padahal hanya perkara sepele dan tidak masuk akal. Aneh tapi nyata.

Sudah menjadi kebiasaan mama dan papa, menjelang Imlek kami semua harus bantu bersih-bersih rumah. Dari menyikat lantai, lap plafon, mengemas barang-barang yang tidak digunakan lagi lalu dibuang dan lain sebagainya. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan Konghucu, bawah para dewa-dewi yang naik ke langit tiga hari sebelum imlek. Akan turun kembali di hari pertama hari raya, masuk ke rumah-rumah yang telah bersih dan memberi berkah atau keberuntungan bagi penghuninya. Perkara bikin kue dan masak, tidak begitu penting. Namun, kegiatan membersihkan setiap sudut tempat tinggal harus, wajib! 

Hari itu, semua kegiatan bersih-bersih hampir rampung. Tinggal menyikat lantai rumah yang berbahan kayu meranti bunga. Biasanya itu dilakukan setelah mama selesai masak menu imlek, barulah lantai dicuci bersih pada malam jelang tahun baru. Suamiku lagi beres-beres. Mengumpulkan barang yang sudah tidak layak pakai, membungkus dengan sisa karung beras atau kardus bekas. Diikat, kemudian akan dibuang ke tempat sampah. 

Tetapi malam hari sekitar pukul 19:40 WIB. Tiba-tiba aku sesak nafas. Dada seperti tertimpa barang berat, hingga menarik udara melalui mulut. Tetap saja, udara yang masuk terasa hanya sampai kerongkongan. Aku jengap-jengap seperti ikan terdampar ke daratan. Padahal sore hari masih baik-baik saja.

"Ada apa, Yang?" tanya suami ketika mendapati aku sedang ngos-ngosan dalam kamar.

Aku cuma menggeleng tanpa bisa menjawab sepatah kata pun. Tangan kanan memegang dada, yang kiri meremas-remas sprei tempat tidur. Suami bergegas menuntunku ke luar kamar, berharap kondisiku lebih baik. Tapi tidak! Aku berusaha menarik udara lewat mulut sebanyak-banyaknya, tetap nihil.

"Pak-Bu, tolong kesini!" Suami berteriak memanggil kedua orang tuaku.

Dengan gopoh keduanya menghampiri kami.

"Lis, kamu kenapa?" tanya mama panik.

"Ayo, cepat bawa ke rumah sakit!" perintah papa.

Tanpa banyak bicara, suami langsung menyambar jaket dan kunci kontak motornya. Semenit kemudian, aku sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Untung jalanan tidak macet. Dalam 10 menit, kami tiba di Rumah Sakit Yayasan Islam dan langsung menuju UGD. 

Dokter jaga serta suster segera menangani. Selang oksigen langsung dipasang ke hidungku. Namun tetap saja hawa dingin O² tidak banyak membantu. Jumlah oksigen yang masuk terasa sedikit, mulutku terus terbuka dan mencoba menarik udara. Bola mataku panas, seperti hendak keluar dari kelopaknya. 

Dokter dan suster kebingungan, karena tidak menemukan ada masalah. Tensi darah normal, bayi dalam kandungan juga baik-baik saja. Melihat kondisiku yang tidak ada perubahan, justru semakin parah karena wajah membiru, dokter pun menganjurkan agar aku dibawa ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap peralatannya. Agar cepat terditeksi penyakit yang aku idap.

Suami semakin panik. Setelah dinaikkan dalam brankar dan hendak dibawa menggunakan ambulans, mama datang dengan papa. Kami bertemu di teras rumah sakit.

"Kalian mau kemana?" suara papa terdengar menegur.

"Pindah rumah sakit, Pak. Di sini alatnya tidak lengkap!" sahut suamiku.

Mendengar kata suamiku, mama meminta dia mendekat kepadanya dan papa. Beberapa menit mereka berdiskusi, kira-kira lewat 2 menit, petugas rumah sakit yang mendorong brankar bertanya.

"Pak, jadi gak dibawa ke rumah sakit lain?" tanya seorang pria berseragam serba putih, supir ambulans.

Aku dapat melihat kebingungan di wajah suami, dia seperti sulit membuat keputusan. Tapi akhirnya menyahut. 

"Tidak jadi, Pak. Istri saya mau dibawa pulang saja!"

"Baiklah, silahkan ke loket rumah sakit dulu."

Suami segera menyelesaikan urusan administrasi. 15 menit berlalu, saat dia datang, seorang perawat wanita menghampiriku dan membuka selang oksigen yang masih terpasang. Aku kian menggelepar. Tetapi segara dibopong suami ke motornya, mengikuti papa dan mama yang sudah jalan mendahului kami, meninggalkan rumah sakit menuju suatu tempat. 

Setelah tiba di bilangan Siantan, aku yang posisinya duduk di belakang jok motor suami, sudah tidak tahan lagi karena nafas yang semakin sesak. Kedua tanganku meremas pinggang suami kuat-kuat. Mataku mulai mendelik.

"Sabar, Yang!" ucapnya dengan suara sedikit bergetar. 

Motor dipacu lebih cepat, mengikuti lajunya motor yang dikendarai papa. Kami masuk ke sebuah gang sempit. Kurang lebih 7 menit akhirnya tiba juga di depan sebuah rumah, yang didominasi cat berwarna merah menyala. Aku dibopong suami masuk, menemui seorang pria bertubuh pendek dan tambun. Papa sedang bicara padanya dengan bahasa Khek (salah satu bahasa suku Tionghoa Pontianak).

Beberapa saat kemudian, kami semua ke lantai dua rumah. Di sana banyak terdapat patung dewa-dewi kepercayaan orang Konghucu. Asap dupa berwarna merah menyala di mana-mana. Dadaku kian sesak! Mata berair terpapar asap dupa dan nyala lilin-lilin di altar.

Pemilik rumah sudah melakukan perembahan untuk dewa-dewi, dengan banyaknya jenis buah-buahan yang diletakan dekat altar. Ini memang kewajiban bagi para penganut agama Konghucu. Hari-hari menjelang Imlek, selain bersih-bersih, mereka juga terus sembahyang. Menyalakan lilin dan hio setiap saat, agar asapnya dapat menuntun dewa-dewi ke langit dan turun kembali ke rumah mereka dengan membawa berkah.

"Sit chai sin song Thien, le. Chi-ka  chi chi khiuw Lo Ja, pok gi hen kiu chi-ka!" (Sebenarnya, roh para dewa-dewi sudah naik ke langit, tapi kita coba minta pertolongan. Semoga kalian mendapat bantuan).

Pria tambun dan bertubuh pendek, yang memakai baju singlet dan mengenakan celana panjang kain berwarna coklat tua berbicara kepada papa. Orang tuaku mengangguk sebagai jawaban. Pria itu merupakan pendeta Konghucu. Setelah mengikat kepalanya dengan kain merah, terdengar suaranya melafazkan kalimat-kalimat dalam bahasa Tionghoa. Sambil mengayun-mengayunkan sepasang benda yang diikat dengan benang merah. Benda itu terbuat dari tembaga. Usai mengucapkan sesuatu, benda itu dijatuhkan ke altar. Berulang-ulang!

"Ho tet, Lo Ja oi kiuw nye moi ci. Ge lokung jiu thak hap he mo? He Jiu, ham gi con hi ke het gi!"

(Untung dewa masih mau menolong anak perempuanmu. Suaminya telah mengikat beberapa kotak, kan? Kalau iya, suruh dia pulang dan segera buka ikatan barang-barang yang dikemas!"

Papa segera menjelaskan perihal yang diminta pendeta itu. Suamiku segera pulang untuk melaksanakan permintaannya. Sambil menunggu, aku didoakan oleh pria tersebut. Singkat cerita, setelah suami tiba di rumah, untung barang-barang yang dikemas belum dibuang. Masih teronggok di depan rumah. Dengan segera, semua tali pengikat dibuka. Nafasku tiba-tiba kembali lega. 

Pendeta Konghucu itupun berpesan, kalau ingin membersihkan atau melakukan sesuatu di rumah yang ada wanita hamil, harus minta izin terlebih dahulu. Tak kira apa pun, dengan cara apa pun. Beliau berkata, sesuatu yang tidak terlihat merupakan ciptaan Tuhan juga. Jadi tidak boleh sembarangan bertindak. Menurutnya, secara tidak sengaja, suamiku telah membelenggu salah satu roh yang hendak naik ke langit. Karena tertahan, aku pun menjadi sasaran. Sebab kondisi tubuhku yang paling lemah diantara semua penghuni rumah kami. Kejadian itu sangat membekas dalam hati. 

#Imlek

#Misteriangpau