Tahun Baru Imlek Terakhir Buat Papa

tionghoa.info

Kian Liong, kamu harus pulang saat Tahun Baru Imlek nanti!”  Pesan whats up dari papa kembali aku terima untuk yang kelima kalinya. Papa belum mau berhenti mengirim pesan serupa sebelum aku menjawab ‘Ya’.

Aku sebenarnya bukan tidak mau pulang ke Yogya. Tetapi mengingat situasi pandemi yang sedang mengganas membuat aku sebenarnya lebih suka melakukan video call dengan papa dan adik-adikku untuk perayaan imlek tahun ini.

Papa tahun ini sudah memasuki usia 60 tahun lebih dan baru saja pensiun dari kantor setelah dua tahun diperpanjang. Papa juga mempunyai penyakit diabetes dan jantung sementara aku karena pekerjaan harus tetap “mobile” sehingga berisiko cukup tinggi terpapar virus korona. Walaupun tubuhku sehat-sehat bisa saja aku termasuk OTG atau orang tanpa gejala.

Namun papa terus memaksa aku pulang.  Bahkan yang membuat aku tidak bisa menolak adalah kata-katanya:

Ini adalah tahun baru imlek terakhir untuk Papa.

Akhirnya aku terpaksa mengalah, apalagi Imlek tahun lalu aku juga tidak bisa pulang ke Yogya karena kebetulan sedang ditugaskan belajar oleh kantor di Luar negeri.  Singkatnya tahun ini aku pun pulang, dan lagi pula sebelum naik pesawat nanti aku harus melakukan tes PCR sehingga yakin bahwa aku tidak membawa virus korona.

Sehari sebelum tahun baru Imlek, pesawat Garuda Indonesia yang aku tumpangi mendarat di New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo. Aku kemudian naik taksi menuju ke rumah papa di kawasan Kolombo, sebelah timur laut kota Yogya.  Rumah ini adalah rumah masa kecilku dulu. Rumah yang banyak kenangan bersama papa, mama dan kedua adik perempuanku,

Sepanjang jalan aku masih penuh penasaran dengan apa maksud papa bahwa ini adalah “Tahun Baru Imlek Terakhir untuk Papa.”  Apa papa merasa sebentar lagi akan meninggal dunia?

Malam Tahun Baru tiba. Kami sekeluarga yaitu papa, dua orang adikku yaitu Mei Lan dan Siu Lan, serta aku makan malam bersama.  Mama sendiri sudah meninggal 5 tahun yang lalu.

Biasanya, di tengah malam menjelang Tahun Baru, kami sekeluarga pergi ke kelenteng di Poncowinatan untuk beribadah. Namun kali ini, ibadah Sembahyang Tahun Baru dilaksanakan di rumah saja mengingat situasi yang belum  memungkinkan. Kami berempat hanya bercakap-cakap dan bercerita mengenai pengalaman dan harapan masing-masing selesai makan malam menanti waktu tengah malam.

Aku menggunakan kesempatan ini untuk bertanya kepada papa apa maksudnya dengan pernyataan bahwa ini adalah “Tahun Baru Imlek Terakhir untuk Papa.

Cerita papa membuat kami bertiga sangat sedih walau setengah percaya.

Begini kisahnya:

Kejadiannya pada Tahun Baru Imlek 2530, yang jatuh pada 19 Januari 1979, sekitar 43 tahun yang lalu. Pada saat itu papa baru berusia 18 tahun dan masih kelas tiga SMA. Papa kebetulan bersekolah di salah satu SMA di Yogyakarta walau papa berasal dari Wonosobo.  

Pada saat itu, di masa Orde Baru. Tahun Baru Imlek bukan merupakan hari libur sehingga papa tetap harus masuk sekolah dan tidak bisa merayakannya di Wonosobo. Papa hanya merayakannya bersama mama dan keluarganya di Kolombo ini. Papa pada saat itu baru saja mulai melakukan pendekatan ke mama yang kebetulan adik kelas satu SMA.

Ceritanya papa baru pulang sekolah dan kemudian pergi ke sebuah toko di Jalan Solo untuk membeli kado Imlek buat mama. Dalam perjalanan pulang dari toko itu papa mengalami kecelakaan. Sepeda motor yang papa kendarai ditabrak mobil.  Papa terluka parah dan dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih.

Papa sempat koma dan orang tua papa di Wonosobo sendiri tidak bisa langsung dikabari tentang kecelakaan ini. Pada waktu itu komunikasi masih sulit dan telepon juga belum ada di rumah orang tua papa. Untungnya ada mama dan orang tua mama yang sementara bisa mengurus papa selama di rumah sakit.

Menurut papa, selama koma itu papa merasa sudah dijemput oleh sepasang dewa penjemput arwah yang dalam kepercayaan Tionghoa disebut Hei Bai Wu Chang.

Oleh sepasang dewa ini ruh papa dibawa ke dunia bawah atau dunia arwah dan bertemu dengan sepasang dewa yang berkepala banteng dan kuda yaitu Niu Tou Ma Mian.  Mereka inilah yang bertugas  membawa ruh Papa menghadap raja akhirat atau Giam Lo Ong.

Oleh Giam Lo Ong ini arwah papa akan diadili sesuai amalan papa di dunia. Konon tugas Giam Lo Ong ini adalah menentukan nasib arwah manusia setelah mati. Apakah harus mengalami siksaan di berbagai jenis neraka, atau harus menjalani reinkarnasi sebagai manusia atau makhluk lain sebelum menuju keabadian.

Namun  ternyata dalam catatan buku besar tentang kematian terjadi kesalahan. Papa seharusnya belum meninggal karena terjadi kesalahan nama.  Marga atau she Papa yang asli adalah Khouw sedangkan yang papa pakai adalah Lauw yang merupakan marga ayah angkat Papa.  

Akhirnya ruh papa diantar kembali ke alam dunia dengan catatan nanti akan diberi tahu beberapa hari sebelum hari kematian Papa yang sebenarnya yang diperkirakan sekitar 40 tahun lagi. Papa sadar dan kemudian setelah dirawat sekitar satu minggu diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Papa melupakan kejadian ini dan baru sekitar dua minggu sebelum Tahun Baru Imlek ini papa bermimpi bertemu dengan Hei Bai Wu Chang.   Walau tidak berkata apa-apa, mimpi itu menghantui papa setiap malam dan kian sering menjelang Imlek. Papa sudah mendapat firasat bahwa Imlek ini merupakan Tahun Baru terakhir Papa.  Karena itu Papa memaksa saya untuk pulang.

Saya tetap merasa penasaran dan berharap bahwa ini hanya mimpi dan tidak mungkin papa tahu bahwa waktunya sudah dekat. Apalagi papa kelihatan sehat-sehat saja.

Hari pertama Imlek Papa baik-baik saja. Walau secara terbatas, ada beberapa keluarga dekat yang datang berkunjung ke rumah di Kolombo. Hari kedua Imlek pun berlalu. Aku bahkan sudah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta pada hari ketiga Imlek.

Namun pada hari ketiga dini hari, beberapa jam sebelum saya kembali ke Jakarta, Papa meninggal dunia. Papa meninggal dengan tenang dan mulutnya pun tersenyum. Dia sudah bertemu dengan putra kesayangan satu-satunya sebelum meninggal.

Imlek ini benar Tahun Baru Terakhir buat Papa.

5 Februari 2021

#imlek

#misteriangpau