Sebuah Dompet

Ilustrasi: ist

Hari masih sangat pagi dan matahari pun masih belum mau keluar dari tempat persembunyiannya. Namun Jaji sudah bersiap dengan mengenakan pakaian lengkapnya. Yaitu berkaus merah lengan panjang, celana trening warna biru dan sepatu sport putih yang berpolet merah.

Lantas ia pun keluar dari rumahnya, dengan tidak lupa menyelendang sebuah tas kecil yang berwarna hitam. Di tangan kirinya sebuah karung plastik putih dan kantung Kresek hitam yang berukuran besar pun, tidak lupa ditentengnya.

Ia berjalan, menapaki gang berlapis semen yang menghampar di sepanjang kampungnya itu. Sesampainya di mulut gang yang merupakan bentangan jalan raya beraspal hotmix ia pun berbelok ke kanan dan melanjutkan langkahnya.

Langkah demi langkah, ia telusuri tepian jalanan yang dibentengi oleh bangunan pertokoan yang berada di Pusat Kota Sukabumi itu. Dan, dengan kedua matanya yang terpasang tajam, ia pun pandangi semua sudut jalanan yang sudah bertrotoar beton itu. Sehingga nyaris tidak ada satu pun bagian yang terlewat.

Nyaris semua benda bekas yang terbuang, namun masih memiliki nilai jual di matanya, dengan gesitnya sempat ia punguti. Demi memenuhi karung dan kantong plastik besarnya itu.

Ya, berangkatnya Jaji, setiap hari seusainya ia menunaikan kewajiban shalat subuhnya itu, memang bukan sekedar untuk berolah raga. Meskipun jenis pakaian yang dikenakannya, memang adalah yang lazim digunakan untuk berlari atau sekedar berjalan-jalan di pagi hari itu. Melainkan, memiliki tujuannya pula yang lain. Yaitu, memunguti barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual. Lantas, kenapa ia harus mengenakan pakaian yang biasanya untuk berolahraga itu?

Memang, kehidupan dan kebiasaan Jaji berbeda dengan keadaan para pemulung pada umumnya. Karena, ia melakoni pekerjaan sebagai pemungut barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual di jalanan itu, bukan lantaran keterdesakan ekonomi atau tidak memiliki mata pencahariannya yang lain. Melainkan, hanyalah sekedar melihat peluang dan memanfaatkan sisa-sisa waktu dan tenaganya.

Usia Jaji sekarang memang sudah genap 60 tahun. Namun ia pun masih tampak sehat, karena selalu bisa menjaga stamina dan kesehatannya. Dan ia pun bukanlah pula seorang penganggur. Karena sebenarnya dirinya itu mantan seorang pegawai yang sempat bekerja pada sebuah perusahaan nasional milik pemerintah. Sehingga, meskipun tingkatannya rendah, ia masih mendapati haknya sebagai penerima uang pensiun.

Jadi, selain dengan maksud hitung-hitung berolahraga itu, dengan turunnya ke jalanan mencari sisa-sisa barang bekas di setiap pagi hari itu, juga memiliki maksud menambah-nambah uang saku atau penghasilannya. Sebab, selain hidup dengan istrinya, Jaji pun kini mesti pula membantu mengurusi tiga orang cucu dan dua anaknya.

Sebab, dari buah pernikahan dengan istrinya itu, Jaji yang sempat memiliki 3 orang anak itu, dua orang anaknya yang perempuan dan telah pada bersuami itu, ternyata harus mendapati nasib yang kurang baik.

Seorang anak perempuannya yang paling besar dan telah memiliki dua orang anak, harus kehilangan suaminya. Lantaran harus meninggal karena deraan sebuah penyakit. Sementara, anak bungsunya yang juga perempuan dan berputra satu itu, harus bercerai dengan suaminya, lantaran adanya ketidak sepemahaman dalam berumahtangganya itu.

Hingga, dari hasil-hasil memunguti barang-barang bekas inilah, Jaji pun bisa mendapati tambahan penghasilan untuk menutupi kekurangan-kekurangan dari uang pensiunnya itu.

Karena, selain harus membantu mengurusi cucu dan kedua anaknya yang tidak berpenghasilan itu, juga karena pada saat bekerja, ia pun hanya sekedar bekas penjaga dan pemelihara kebersihan kantornya saja.

***

Karena keasyikannya dalam menyusuri jalanan sembari mencari satu demi satu botol dan kemasan-kemasan bekas pembungkus makanan dan minuman yang bisa kembali dijual itu, hingga tanpa terasa ia pun telah sampai ke pertigaan jalanan.

Hingga, karena sempat merasakan sedikit pegal, ia pun sempat mendekati sebuah pohon yang berakar besar, guna sekedar berteduh dan beristirahat. Lantas, dikeluarkannya minuman air putih yang tersimpan dalam botol dan tas hitamnya itu, guna mengenyahkan rasa haus dan capenya.

Sebatang rokok kretek pun, tidak lupa sempat pula ia sulut, guna melengkapi kenikmatan di saat beristirahatnya itu.

Hampir dua puluh menit, Ade menikmati waktu rehatnya di sana. Dan ia pun bermaksud untuk melanjutkan aktivitasnya kembali. Karena biasanya, sebelum waktu mendekati saat Shalat Dzuhur, ia pun sudah harus bisa pulang ke rumah.

Namun ketika ia hendak berdiri, tatkala sorotan matanya mengarah ke pertigaan jalanan yang merupakan jalanan menuju ke arah gerbang sebuah komplek perumahan itu, di tepian jalanannya sempat tampak seperti adanya sebuah benda aneh. Dimana, yang setelahnya ia hampiri, ternyata adalah sebuah dompet. Hingga dengan hati yang sedikit berdebar, ia pun sempat mengambilnya.

Dengan rasa yang penuh heran dan penasaran, Jaji pun lantas membukanya. Dari semua celah dan saku-saku kecilnya yang ada pada dompet model laki-laki itu, ternyata isinya sejumlah uang dan selembar KTP.

Tapi, ketika alamat dari KTP itu ia baca, dirinya pun malah sempat merasa sedikit terkejut. Karena, selain bukan beralamat dari kawasan kota tempat tinggal sekaligus ditemukannya, juga karena alamat yang tercantumnya, adalah dari Kota Bandung, yang merupakan kota asal dari kelahiran dan keluarganya berada. Bahkan dari detail alamatnya itu pun, ternyata asalnya pun persis di kawasan dekat kampung asal kelahirannya itu. Sehingga ia pun merasa sangat tahu persis dari posisi lokasi alamat si pemiliknya itu.

***

Keesokan harinya, di saat matahari masih belum mau keluar dari tempat persembunyiannya, Jaji pun sudah kembali bersiap seusainya ia melakoni kewajiban Shalat Shubuhnya itu. Namun, bukan untuk menjalani aktivitas yang rutinnya itu. Kali ini ia telah mengeluarkan sepeda motornya, dan sempat pula memanaskannya.

“Awas Pak, hati-hati di jalannya. Jangan terburu-buru, atau ngebut-ngebut!” sodor istrinya, tatkala melihat suaminya itu tengah mempersiapkan perlengkapannya.

“Iya..., pasti. Tapi, kalau di sananya kesorean, mungkin bapak nginap satu malam ya, Ma” balasnya seraya memeriksa kembali keadaan motor dan segala perlengkapannya itu.

Ya, Jaji hari itu akan berangkat ke Bandung guna mengunjungi orang tua, saudara dan sekaligus akan mencari alamat si pemilik dompet yang sempat ditemukannya itu.

Dan memang, selain adanya banyak saudara, di Kota Bandung itu Jaji pun masih pula memiliki seorang ibu. Yang usianya pun sudah sangat sepuh. Dimana beliau sempat tinggal dan dirawat oleh sejumlah saudaranya itu.

Karena berangkatnya pagi hari sekali, maka sekitar jam sebelas siang pun ia telah bisa sampai. Dan, yang setelahnya melepaskan rasa kangennya itu, maka ia pun sempat melakukan tujuan yang keduanya. Yakni, mencari alamat yang ada di KTP itu.

Dan, Jahi telah berbulat hati untuk bisa mengembalikan dompet temuannya itu, karena merasa bahwa itu bukanlah miliknya. Apalagi dengan adanya alamat dan tanda identitasnya itu. Sebab menurutnya, hal itu merupakan perilaku dan prinsip-prinsip kebenaran yang sesuai dengan pengajaran yang ada pada agamanya.

Karena alamat yang tertera itu begitu jelas, maka dengan sangat mudahnya ia pun bisa menemukannya.

“Aduh maaf Pak, kayanya KTP ini milik dari bekas penghuni rumah yang dulu pernah menempati rumah ini. Sebab, saya di sini cuma ngekos, dan baru empat bulanan saja di sininya juga. Coba Bapak tanyanya deh ke Pak RT-nya saja. Sebab pemilik rumah ini jauh rumahnya, tidak sini!” papar si penghuni rumah yang alamatnya persis seperti yang tertera di KTP itu, tatkala Jaji berhasil menemukannya.

“Iya memang, dulu pemilik rumah ini namanya Pak Anwar. Namun rumahnya itu telah dijual kepada Pak Kosasih orang kampung sebelah. Tapi, rumah ini tidak ia tempati, melainkan disewakan kepada Pak Yayat itu!” terang Pak RT pula akhirnya, setelah berhasil ditemui.

Lantas, Pak Anwar-nya itu sekarang pindahnya ke mana?” tanyanya yang sempat sedikit bingung ketika mendapati penjelasannya itu.

“Kalau tidak salah sih dulunya ke Sukabumi. Tapi entahlah, kalau dimana-mananya. Sebab, hingga kini pun dia pun rasanya belum pernah kembali ke sini guna mengurus surat kepindahannya itu. Kalau tidak salah, sudah hampir dua tahunan dia itu pindah dan menjual rumahnya!”

Karena tidak bisa bertemu dengan si pemilik dompet dan KTP yang ditemukannya itu, maka setelah menginap semalam, keesokan harinya Jaji pun kembali pulang.

Dan sebagaimana yang sempat dipesankan oleh istri dan juga ibu serta saudara-saudaranya yang di Bandung itu, maka ia pun sempat mengendarai sepeda motornya dengan sangat hati-hati. Sebab, selain karena usianya yang sudah tidak muda, juga sepeda motor yang dimilikinya pun bukanlah sepeda motor keluaran tahun-tahun terbaru. Melainkan, yang sempat ia miliki pada beberapa tahunan sebelum dirinya memasuki masa pensiun itu. Sehingga keadaannya pun sudah lumayan tua. Bahkan karena jarangnya dirawat dan dipakai maka beberapa bagiannya pun ada yang sudah mulai rusak.

Benar saja. Tatkala sepeda motornya itu tengah dipacu di perjalanan yang turun naik dan cukup lumayan jauhnya, tiba-tiba terasa seperti yang hendak melambat dan melaju tersendat-sendat. Bahkan akhirnya pun, sempat mati dan berhenti. Sehingga Jaji pun sempat merasakan kaget. Bahkan, karena yang setelah tutup tangki bensinnya diperiksa ternyata masih cukup banyak, namun yang setelah beberapa kali coba diselah dan distarter pun, ternyata tetap tidak bisa menyala, akhirnya ia pun sempat merasakan cemas dan kebingungan sendiri.

Padahal perjalanannya itu, masih cukup jauh. Meski kawasan itu sebenarnya pun sudah mulai masuk ke wilayah Sukabumi.

Setelah beberapa kali diperiksa dan dicoba, ternyata tidak pula bisa menyala, akhirnya dengan perasaan yang sedikit waswas, lantaran tidak dimilikinya bekal uang yang cukup, ia pun mendorongnya, guna mencari bengkel.

“Wah, ini kayanya lumayan parah rusaknya, Pak. Karena harus ada yang diganti di dalamnya. Sudah ada yang aus kayaknya. Namun tadi Bapak sempat memaksakannya. Tuh lihat, olinya juga sudah hampir habis. Kekeringan kayanya ini, Pak!” terang si pemilik bengkel, setelah memeriksa kondisi motornya itu.

“Lantas kira-kira, berapa ya untuk biayanya?” tanyanya dengan penuh cemas.

“Ya, lumayan juga, Pak. Kalau dihitung sama oli dan ongkos pasangnya, sekitaran dua ratus, tiga ratusan. Tapi, itu pun, masih belum tahu apa saja nanti yang harus digantinya. Namun mudah-mudahannya sih bisa kurang, kalau memang bisa dipakai!”

“Waduh, saya cuma pegang uangnya seratusan. Ini pun uang untuk bensin. Bagaimana ya? Memang, ada sih uang. Tapi itu punyanya orang lain!” tuturnya, karena saking merasakan bingungnya itu.

“Ya gampang, nanti tinggal Bapak bilang, atau ganti saja. Daripada motornya nanti enggak bisa jalan! Eh tapi, ngomong-ngomong Bapak ini dari mana dan mah ke mana, kok seperti yang sudah menempuh perjalanan yang jauh saja?” ucap dan tanya si pemilik bengkel itu, seraya tersenyum.

“Iya itu, pulang dari Bandung, habis nengok orang tua dan saudara. Sambil kemarin itu, sekalian mencari alamat dari pemilik KTP yang dompetnya sempat Bapak temukan di jalan. Kalau Bapak sih, pulangnya ke Sukabumi. Itu, sebelum masuk kota!” terang Jaji dengan sangat jelasnya.

“Apa? Dompet sama KTP?” tanya si pemilik bengkel dengan nada suaranya yang tiba-tiba sedikit mengeras dan seperti yang penuh penasaran.

“Iya! Kalau alamatnya sih di Bandung. Kebetulan dekat sekali dengan tempat tinggalnya rumah orang tua dan saudara-saudara Bapak itu. Makanya, Bapak kemarin itu sengaja ke sana guna bersilaturahmi sekaligus mencari alamatnya itu. Tapi sayangnya, ternyata orangnya sudah lama pindah. Dan katanya sih, ke sini, ke Sukabumi. Tapi kan, Sukabumi ini juga luas!”

“Sebentar! Maaf ya, Pak! Jadi, Bapak ini kemarin itu dari Buahbatu ya ke Bandungnya?!” sodor si pemilik bengkel, mencoba menebak.

“Iya, benar!”

“Terus, nama yang di KTP itu Anwar Sanusi, bukan?”

“Ii...iya, tapi...?” Jaji tercengang kaget.

“Alhamdulillah! Ii... itu KTP saya, Pak. Sudah tiga harian ini saya ke mana-mana mencari-carinya. Malahan, tadinya, mau saya laporkan ke alamat asal saya yang di Bandung itu. Sambil sekalian mau ngurus surat pindah. Karena, meski sudah dua tahunan ini saya pindah ke Sukabumi ini, namun belum sempat ngurus-ngurus surat pindahnya. Biasa, malas dan belum punya waktu!” ungkap si pemilik bengkel itu akhirnya, dengan tampak begitu senangnya.

Demi mendengar pengakuan yang seperti itu, tentu saja Jaji pun, sebelumnya sempat pula merasa terpana. Karena saking merasakan heran dan tidak percayanya. Namun, setelah semuanya jelas dan sesuai dengan barang-barang buktinya yang ada, maka dengan perasaan lega dan syukurnya, ia pun sempat menyerahkan dompet yang berisikan sejumlah uang dan selembar KTP-nya itu kepada sang pemiliknya.

“Sudah! Sekarang motor Bapak ini akan saya perbaiki sehingga bisa berjalan normal kembali. Dan, Bapak ini pun tenang saja. Tidak usah membayar!” akhirnya, sebuah ucapan yang mendorong Jaji untuk mengucapkan berkali-kali kalimat syukurnya pun, sempat pula terdengar nyaman di telinganya.

#kisahreligi