Tumbal Tanah Warisan

Pasien RSJ

Seorang perempuan tua berjilbab hitam yang sedang duduk di depan warung tiba-tiba memanggil saat aku kebetulan melintas. Aku nyaris tak mengenali karena wajahnya terlihat jauh lebih tua dari lebaran tahun lalu. Gurat kesedihan dan kelelahan seperti kutukan yang mencabik-cabik sisa hidupnya.

Aku menjabat tangan keriputnya dan ia menyuruhku untuk duduk di dingklik reot yang letih dimakan umur.

“Pakde akhir-akhir ini sering kumat,” sahutnya nyaris berbisik sambil menggenggam tanganku erat. Sepertinya ia butuh kekuatan lebih untuk sekedar menceritakan kabarnya kepadaku.

***

Sejak disuruh pensiun dini dari kantornya sepuluh tahun yang lalu, pakdemu sering mengamuk nggak jelas. Keadaan semakin parah setelah mas dan mbakmu satu persatu menikah dan tinggal di rumah masing-masing. Aku hanya bisa pasrah dan berusaha merawatnya dengan baik.

Pakdemu semakin sering berhalusinasi. Suara-suara aneh dan bisikan-bisikan semakin sering menghantuinya. Bude selalu terbangun beberapa kali di malam hari karena dia berteriak-teriak histeris karena mimpi buruk. Bahkan kadang terbangun lalu menjambak rambut dan membenturkan kepalanya ke dinding kamar.

Ia semakin sulit konsentrasi dan diajak bicara baik-baik. Ia sering meracau dan berteriak marah, kadang memohon, kadang ketakutan pada sosok tak kasat mata yang sering datang tiba-tiba. Kalau bukan suami yang telah menemaniku berpuluh tahun lamanya, tentu aku sudah menganggapnya gila. Dan memang begitu keadaannya.

Saat itu, hari Minggu. Masmu, Gandi, menginap di rumah. Kami bertiga sedang bersiap untuk sarapan.

“Bune! Kamu mau ngracunin aku ya?” Laki-laki itu berteriak marah dan melempar piring berisi nasi dan lauk-pauk ke lantai. Matanya mendelik dan tubuhnya mengejang. Secepat kilat, tangannya mencengkeram batang leherku.

Aku terperanjat, tak menyangka dia akan kalap dan menyerangku.Tubuhku bergetar hebat. Sendok yang terangkat untuk suapan pertamaku jatuh berdentang di meja makan kaca. Tubuhku berkelojot di kursi dan aku sudah tak berharap bisa menghirup udara lagi, sampai tangan kekar Gandi memembebaskanku dari amarah bapaknya.

Sejak saat itu, pakdemu semakin sering kumat. Dia selalu mencurigaiku akan membunuhnya atau meninggalkannya dengan pria lain. Sungguh sebuah tuduhan yang membuatku ingin tertawa sekaligus menangis.

Laki-laki mana yang mau berselingkuh denganku, nenek renta yang sudah bau tanah ini? Tapi dia selalu mencercaku dengan berbagai macam pertanyaan setiap aku keluar rumah terlalu lama. Bahkan setiap jualan di warung ini, aku harus bolak-balik ke rumah, setor muka hampir setiap sepuluh menit sekali agar dia tak curiga aku pergi dengan laki-laki lain.

Berbagai macam pengobatan sudah kami usahakan. Selain rawat jalan di RSJ, kami juga sering memanggil ustadz untuk melakukan rukyah. Pokoknya apa saja saran orang kami lakukan agar pakdemu itu sembuh.

Lima belas tahun sudah dia mengidap penyakit yang kata dokter namanya schizophrenia. Entah apa artinya aku sendiri juga kurang tahu. Orang-orang di puskesmas bilang dia ODGJ, orang dalam gangguan jiwa. Walaupun aku yakin kalau dia tidak benar-benar gila. Sepertinya ada makhluk asing yang tinggal di tubuhnya.

Suatu hari, Lik Atmo, adik semata wayangnya menelepon menanyakan kabar. Tumben sekali. Sejak pembagian warisan, hubungan kami memburuk. Dia ingin membeli tanah warisan milik pakdemu, tapi pakdemu keras kepala tak mengizinkan.

Lima belas tahun lalu, Lik Atmo ingin membeli tanah itu karena berbatasan dengan kebun miliknya yang ditanami cabe. Ia ingin menebangi pohon rambutan yang ada di tanah warisan milik kami dan mengubahnya menjadi lahan cabe yang harganya sedang melambung tinggi.

Padahal tanpa dibeli pun Lik Atmo boleh menanami lahan kami asal tidak menebang pohon buah-buahan yang ada di sana. Sekeras apapun dia memaksa, sekeras itu pula pakdemu menolak untuk menjual tanah warisannya.

Lik Atmo menelepon untuk mengundang kami sekeluarga datang dalam acara selamatan naik haji. Pakdemu menolak untuk datang, jadi hanya Gandi, Mira dan keluarganya yang datang. Saat sedang pengajian, tiba-tiba Lik Atmo jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.

Akhirnya dia gagal naik haji. Sebelum sakaratul maut, dia menyebut-nyebut nama pakdemu, Mas Marto. Dia meminta maaf karena telah menanam santet di tanah warisan Mas Marto, lima belas tahun lalu. Dia melakukan itu karena sakit hati tidak diperbolehkan memiliki seluruh tanah warisan.

Ia pun meninggal dalam penyesalan karena belum sempat meminta maaf secara langsung pada kakak satu-satunya. Semua Allah mengampuni jiwanya yang serakah.

Keluarga gempar dan berusaha mencari kain mori dan ubo rampe yang ditanam di bawah pohon rambutan tua. Tapi nahas, benda-benda itu sudah lenyap menyatu dengan tanah dan juru kunci yang mengirimkan santet pun telah lama meninggal.

***

“Jadi, Pakde Marto bukannya gila, eh, gangguan jiwa tapi disantet?” Aku memekik tertahan. Setengah tak percaya dengan cerita yang dituturkan perempuan yang sedang menyusut butiran bening yang meluncur di tulang pipinya yang menonjol.

“Benar, Ratih. Kami pun beberapa kali memanggil ustadz dan orang pintar untuk membantu mengusir makhluk halus yang bersarang di tubuh pakdemu. Tapi semua menyerah. Kata orang terakhir yang kami panggil, tubuh pakdemu terlalu lemah dan karena sejak mudanya jarang sholat, ia tak memiliki pertahanan diri yang kuat hingga santet itu semakin mudah merasuk ke seluruh urat nadinya dan sulit disembuhkan.

“Bude sudah pasrah. Kalau memang mau dipundhut, ya biar dipundhut saja, daripada seperti mayat hidup. Bude sudah nggak tahan lagi melihat penderitaan pakdemu, Nduk.”

Aku menghela nafas berat. Penderitaan perempuan yang nyaris menjadi mertuaku itu demikian pedih. Menyesal rasanya kenapa aku jarang mengunjunginya lagi sejak putus dengas Mas Gandi. Hanya momen lebaran saja kami biasa bertemu di masjid.

“Begini, Bude. Saya pernah membaca di buku, pengalaman seseorang yang pernah mengalami kejadian seperti Pakde Marto dan berhasil sembuh. Dia bersedekah ke anak yatim. Konon, sedekah itu bisa jadi tolak bala. Kalau ditakdirkan sembuh ya bisa sembuh, dan jika ditakdirkan meninggal insyaallah akan dipermudah prosesnya.”

“Sedekahnya berapa?”

“Berapa aja, Bude. Yang penting ikhlas. Bude bisa sedekahkan uang tabungan Pakde Marto ke panti asuhan. Di RW sebelah kebetulan ada panti kan? Nanti sebutkan saja hajatnya pada para ustadz di panti.”

“Yowis kalau gitu nanti aku ajak Gandi ke panti. Makasih ya, Nduk.”

Aku pun memeluk tubuh ringkihnya, berusaha menguatkan, berjanji untuk berkunjung secepatnya dan pamit pulang.

***

Dua minggu kemudian, sebuah pesan whatsaapp masuk di ponselku.

Innalillahi wainnailaihirojiuun

Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Marto bin Harjowinoto tadi pagi pukul 02.00

 

***

 

Jakarta, 31/01/2021

#uss

#kisahreligi

Note: 
Dipundhut = dipanggil ke Rahmatullah, meninggal

(Berdasarkan kisah nyata seorang teman)