Dihantui Dosa Terlaknat

balai pustaka Indonesia.blokspot

Suara burung keroak membuat aku bergidik, seolah-olah memerintahkan langkah untuk berhenti. 'Kembali!' mungkin itu maksudnya. Agar niat surut dari perbuatan dosa, saat aku dan Dio melintasi sebuah jalan setapak, yang kanan-kirinya masih hutan menuju rumah seorang dukun. 

Entah apa yang aku pikirkan, atau memang sudah tidak lagi ber-Tuhan. Satu dosa tak cukup, kali ini aku dan Dio mengulang perbuatan  laknat lainnya. Aku hamil 8 bulan, dan saat ini berniat membunuh jabang bayi dalam kandunganku atas permintaan Dio. 

Aku ketakutan, bodoh dan sangat naif. Terbuai dengan cinta seorang Dio yang sudah beristri. Sementara aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas, dan sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir. Aku sudah bolos sekolah beberapa bulan dengan alasan sakit, tapi itu tidak akan bertahan lama, jika pas ujian aku hadir dengan membawa perut buncit. Apalagi absensi juga penentu kelulusan, meski aku yakin Dio bisa menyogok pihak sekolah dengan banyak uang. Tetap saja ini beban berat bagiku dan dirinya, andai ada yang tahu aku hamil di luar nikah.

Dio memang laki-laki yang tampan, gagah, pengusaha kaya, dan bermulut manis. Aku mudah terbujuk dan hanyut dalam cinta terlarang. Setelah tahu hamil, aku tidak berterus-terang kepadanya karena takut ditinggalkan. Tetapi waktu selalu tidak dapat berbohong, saat perut semakin membesar, Dio marah dan menyuruhku menggugurkan kandungan.

Dio juga takut, jikalau hubungan kami diketahui istrinya. Semua yang dimilikinya selama ini adalah harta sang istri. Dio tak mau menjadi miskin lagi, maka dari itu Dio mati-matian memintaku membunuh janin dalam perut sebelum aib ini sampai ke telinga keluarga istrinya. Apa dayaku? Mau tak mau aku harus mengikuti kemauannya. 

Aku juga takut kalau kedua orang tua di kampung mengetahui aib ini. Dan …, di sinilah kami. Setelah mendapat rekomendasi dari seseorang teman Dio, kami pun mencari keberadaan dukun yang mampu menggugurkan bayi meski sudah hamil besar. Uang yang dikeluarkan juga tak main-main, sekitar 10 juta. Tapi itu bukan masalah bagi Dio, asal status dan pernikahannya selamat. 

Saat tiba di sebuah gubuk tengah hutan, bau kemenyan menguar. Aku sempat terbatuk, tetapi tetap saja melangkah masuk ke tangga rumah papan beratap jerami. Saat tiba di depan pintu, sebelum mengetuk, terdengar denyit engsel pintu yang berkarat. Suaranya membuatku mundur dan bersembunyi di belakang tubuh Dio. 

Seorang wanita tua keluar menyambut kami, sambil terkekeh kecil dia mempersilahkan kami masuk. Seolah sudah mengetahui maksud dan tujuan kami.

"Masuk, ayo masuklah!" mintanya dengan suara parau.

"Iya, Nek. Terima kasih," jawab Dio sambil menuntun tanganku mengikutinya.

Wanita tua itu berjalan terbungkuk memegang tongkat, rambutnya memerak menjuntai panjang, kusut! Memakai baju kurung berwarna hitam lusuh dan bawahan kain jarik yang memudar corak dan warnanya. Antara ragu dan takut, aku mengikuti langkah Dio. Sambi menahan badan yang gemetar, rasa takutku kian besar. Tetapi tidak berani mundur karena sudah terlanjur tiba di sini.

"Tiduran di sana!" perintah si nenek sambil menunjuk sebuah tikar di lantai kamar berukuran 3 x 4 meter persegi. 

Kamar itupun tidak memiliki pintu, tidak ada perabot apapun di dalam. Hanya beberapa piring dan cawan seng, serta sebilah pisau kecil yang diletakan di atas bokor tanah. Dari bokor itulah bau kemenyan berasal, karena asap mengepul dan menyala.

"Ayo!" pintanya lagi, ketika melihat aku berdiri mematung.

Dio menarik tanganku, lalu menganggukan kepala sebagai tanda agar mengikuti perintah si nenek. Bagai kerbau dicucuk hidung, akhirnya aku pun baring di tikar lusuh itu. Nenek duduk di lantai menghadap ke arahku berbaring terlentang. Sementara Dio juga duduk namun agak jauh dari tempat kami berada. 

Tangan keriput nenek mengelus-elus perut buncitku. Mata tuanya berbinar, seakan mendapatkan sesuatu yang berharga. Aku tidak merasakan apa-apa, hanya saja janin dalam perut bergerak sesekali. Sejurus kemudian, nenek mengambil pisau kecil di atas bokor. Seketika darahku terkesiap, tubuh semakin gemetaran. Apa yang hendak dia lakukan? Apakah perutku akan dibelah dengan pisau itu? Pikiran berkecamuk. 

Tapi tidak, pisau kecil itu cuma diacungkan atas perut dengan tangan kanan. Lalu nenek itu komat-kamit sambil sesekali melakukan gerakan memotong. Sementara tangan kirinya mengibas-ngibaskan air yang dia ambil dari cawan seng. Juga ke arah perut. Setelah selesai, nenek berkata.

"Malam ini kamu harus tidur di sini, besok pagi kalian baru boleh pulang!" dia menatap ke arahku dan Dio secara bergantian.

"Iya, Nek!" Dio yang menjawab. 

Setelah berbicara demikian, nenek itu pergi dari kamar meninggalkan aku dan Dio. Sudah lewat tengah malam, tak mungkin juga kami pulang, apalagi harus melintasi jalan setapak tadi. Aku tidak keberatan tidur di gubuk. Nenek itu datang lagi sambil membawa selimut, bantal dan sebuah karpet bulu berukuran sedang. Entah darimana dia mengambilnya, sebab tidak terlihat ada ruangan lain di sana. Sepertinya memang sudah disediakan untuk orang-orang yang datang menginap di gubuknya. 

"Tidurlah!" ucapannya diiringi terkekeh kecil.

Nenek pergi lagi. Kamar hanya satu dalam gubuk. Bisa jadi dia tidur di ruang depan, yang juga kosong tanpa perabotan. Karena lelah, aku tertidur cepat. Tapi cuma sebentar, tiba-tiba perutku sakit. Kian lama sakitnya menjadi-jadi, melilit!

"Aaaggkk!" jeritku sambil memegang perut.

Dio kaget dan langsung duduk dari posisi awal yang tiduran di sebelahku.

"Ada apa?" tanya dia saat mendapati aku meringkuk dan meringis kesakitan.

"Perutku sakit! Aaaggkkkk …."

Dio kebingungan. Tiba-tiba terdengar suara menderu di luar gubuk. Angin kencang menerpa keras, bahkan aku dapat merasakan lantai gubuk bergetar. Atap gubuk pun memukul di atas sana. Api pelita sebagai penerangan meliuk-liuk hampir padam, karena di sini sama sekali tak ada listrik. 

Sementara itu, suara nenek tertangkap pendengaran seperti membaca mantra. Kian lama makin keras, sekencang hembusan angin. Ditambah guntur menggelegar di luar. Sakit perutku pun menjadi-jadi. Meski hawa begitu dingin, tapi rasa sakit yang begitu dahsyat membuat sekujur badanku berkeringat. Jeritanku semakin sering, seiring kontraksi hebat yang aku rasakan. Dio hanya duduk mematung menatap ke arahku tanpa berbuat apa-apa. Hingga ….

"Aaaagggkkkkhhhh …!" Aku menjerit panjang, tubuhku lemas.

Ajaib! Perut buncitku rata. Janin di dalam seperti raib begitu saja. Bahkan aku tidak mengalami menstruasi seperti orang yang habis melahirkan. Tubuhku lelah akibat sakit yang hebat tadi, hingga beberapa saat kemudian aku pun tertidur.

*

Tak terasa, kejadian menggugurkan kandungan itu sudah berlalu setengah tahun lamanya. Aku sudah lulus SMA, dan sekarang bekerja di perusahaan Dio. Seperti dulu, kami terus menjalin hubungan tanpa status. Hanya saja kami lebih berhati-hati, agar aku tidak hamil lagi. 

Namun, dosa tetaplah dosa. Suatu hari hubungan kami diketahui oleh istri Dio. Alhasil aku dipecat dari perusahaan. Sementara Dio dirumahkan. Kini yang menjalankan perusahaan adalah istrinya. 

Tidak hanya itu, perbuatan masa lalu kini menghantuiku. Setiap tengah malam, aku selalu mendengar suara tangis bayi. Aku yang tinggal di kos-kosan sempat kebingungan. Suara tangisan itu membuat aku tidak bisa tidur. Ketika dicari sumber suara, aku tidak menemukan ada bayi orang. Bahkan di kos, penghuninya tidak ada yang tinggal berpasangan. Semuanya karyawan kantoran. 

Aku memang sudah pindah kerja di perusahaan lain. Gara-gara tiap malam tidak bisa tidur nyenyak akibat diteror suara tangisan bayi misterius, pekerjaanku berantakan. Beberapa kali ditegur atasan, lalu berakhir dipecat lagi. Sempat mencari pekerjaan lain dan diterima. Tapi tak lama, aku juga dipecat. Hingga suatu ketika aku putus asa dan pulang kampung karena tidak bisa bertahan hidup di kota lagi. 

Tetapi tangis bayi itu terus mengikuti. Suatu malam aku menjerit seperti orang kesurupan, sampai-sampai kedua orang tuaku menghampiri kamar tidurku. Mereka bertanya dalam cemas, mengapa aku bertingkah seperti itu. Karena sudah tak tahan, aku menceritakan semuanya kepada kedua orang tuaku. 

Mereka sangat terpukul mendengar pengakuanku. Meski begitu ayah dan ibu mau memaafkan dan menerima aku kembali. Mereka membawaku ke tempat seorang kyai. Di sana aku diruqiah dan dimandikan, serta disuruh bertobat. Beliau juga berkata, bahwa aku telah melakukan perbuatan dosa besar dan tidak bisa diampuni. 

Aku benar-benar bertobat! Dan menjalankan kewajiban sebagai umat beragama, serta terus mendoakan anak yang telah aku gugurkan dahulu. Setiap kali aku mengingat kejadian itu, aku menangis dan menyesal telah membunuh bayiku sendiri. Hingga saat ini, aku terus mendoakan arwahnya agar tenang di alam sana dan tidak menghantui aku lagi.

"Maafkan aku anakku."

Berdasarkan kisah nyata dari seorang teman.