Ad Duha di Serambi Mekah

ilustrasi: Garuda Militer (foto Ryan Boedi)

Tidak sekali pun terbersit dalam benak Letnan Yudi untuk selekas itu meninggalkan Aceh. Perang selalu menyisakan kenang. Memakan korban, juga sebuah keniscayaan. Tapi, lelaki berperawakan tegap itu bersyukur, tangannya tidak sampai bersimbah darah karena  memuntahkan peluru tajam  untuk membunuh lawan. Bukan karena tidak tangkas, namun lebih memilih mengikuti kata hati.

***

Januari tahun 2004, sebuah KRI bersandar di pelabuhan Banda Aceh. Berlayar selama kurang lebih satu minggu dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Letnan Yudi ada bersama ratusan tentara gabungan dari beberapa batalyon di seluruh nusantara. Ia menjadi salah satu Danton Waltis dalam Satgas Rencong Aceh.

Hari itu adalah perjalanan pada minggu yang entah sudah berapa purnama ia lewati bersama pasukannya. Keluar masuk gampong. Naik turun bukit. Bahkan menyeberangi rawa-rawa.  Karena satu perwira senior sakit, sehingga  lelaki berkulit sawo matang itu harus menggantikannya menjadi Danki sementara. Ia membawa tiga tim- berjumlah kurang lebih empat puluh lima personil-  sekaligus.

 “Kita istirahat dulu,” kata lelaki berhidung mancung itu mengkomando pasukannya.   

Ia masih berdiri. Matanya yang sipit, nyalang seperti rajawali, menyapu seluruh daerah tempatnya berhenti.

Sebelumnya, setelah mendapat info dari satuan gabungan intel, Letnan Yudi melakukan penyisiran di daerah Bukit Tengkorak, Aceh Besar. Butuh waktu satu setengah hari untuk mencapai tujuan dengan jalur melambung, mengitari bukit. Tapi sayang, mereka kalah cepat. Sarang yang dituju sudah kosong. Pasukan Letnan Yudi hanya menemukan hampir lima puluh bivak di sana. Bivak-bivak yang mirip bangunan dangau di sawah. Bedanya, bivak yang ditemukan beratap daun dan ranting kering saja. Letnan Yudi memperkirakan, jumlah lawan sekitar lima ratus orang, dilihat dari variasi ukuran serta banyak bivak yang ditemukan. Sungguh tidak imbang dengan jumlah pasukan yang dipimpinnya. 

Siang masih terik ketika udara  parau menyapu wajah-wajah siaga. Tentara-tentara berbaju loreng, melemaskan otot di bivak-bivak yang telah kosong. Dua anak buahnya masih bertanya-tanya, mengapa Letnan Yudi tidak memerintah mereka membidik orang mencurigakan saat di perjalanan kemarin siang. Padahal, senjata FN SS-1 yang mereka sandang selalu terkunci dan siap tembak jika mara bahaya datang.

“Pemburu yang baik, tidak tergesa membunuh mangsanya. Kita tidak boleh gegabah. Siapa tahu mereka hanya memancing agar kita masuk perangkapnya. Bisa konyol, bukan? Sedang kita belum tahu berapa besar kekuatan mereka. Apalagi dua orang kemarin tidak bersenjata. Hanya buntalan logistik dan obat-obatan yang mereka bawa. Di daerah konflik seperti ini, salah sasaran tembak, bisa jadi pelanggaran HAM. ”

 “Bagaimana Komandan bisa setenang ini di daerah operasi?”

Letnan Yudi tersenyum, meyakinkan anak buahnya, bahwa pekerjaan mereka penuh risiko. Mereka menyadari itu semua, sejak awal bergabung. Hidup mati di tangan Tuhan. Tidak harus bertempur di medan perang. Ajal bisa menjemput di mana saja. Bahkan saat bercengkerama dengan keluarga di rumah.

“Jika membaca surat cintaNya -Ad-Dhuha-, yakinlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita, Sangat dekat di urat nadi. Jadi mengapa harus takut. Lakukan semua dengan senang. Maka hati kalian akan tenang.”

Matahari mulai condong ke barat. Bersembunyi di balik bukit kemudian gelap. Malam itu Letnan Yudi memutuskan untuk istirahat di sana. Pada bivak-bivak yang ditinggalkan musuh. Saat pembersihan, sebuah senjata laras pendek   ditemukan. Di tempat yang lain, juga ditemukan ponsel tertinggal.  Letnan Yudi tersenyum puas. Selama penyisiran, ia bersama pasukannya menemukan banyak barang berharga, tanpa memakan korban jiwa.

Tubuhnya yang tegap nampak mulai payah. Perjalanan berminggu-minggu yang dilakoninya, sangat memeras tenaga. Jiwa dan raganya.  Ia rebah di kolong  sebuah bivak berlantai kayu.   Pikirannya menerawang jauh. Memperhitungkan logistik yang kian menipis sedang penyisiran masih harus ditunaikan dalam beberapa hari ke depan. Dalam sekejap, ia lelap ditelan penat.

Saat terlelap, tetesan air jatuh pada wajah tenangnya. Letnan Yudi terkesiap. Bukankah tadi langit begitu cerah. Mengapa hujan datang tiba-tiba. Tapi aneh, air yang menimpa mukanya berbau pesing. Letnan Yudi menggeser tubuhnya, kemudian berdiri. Ada seorang anggota pasukan yang tidur di atas lantai kayu. Tubuhnya menggigil tapi suhunya tinggi.

“Kenapa kamu?”

“Maaf, Ndan. Saya kencing di celana.”

Menyadari salah satu anak buahnya sudah di luar kontrol, Letnan Yudi memanggil tim kesehatan untuk memeriksa. Ternyata malaria tengah menyambanginya. Beruntung dari tiga tim pasukan yang dibawa, ada persediaan enam kantong infus untuk menyelamatkan anggotanya.

            Esok paginya, Letnan Yudi mendapat perintah untuk turun kembali ke Pos. Ada hikmah di balik malaria saat logistik sudah tak mungkin menunggu jeda.

            Cuaca begitu panas saat pasukan tiba di Pos. Letnan Yudi memutuskan untuk menyeduh minuman yang membuat tenaganya kembali jos. Namun malang tak dapat ditolak. Tubuhnya limbung. Kakinya hampir tak mampu menopang tubuhnya yang ramping. Badannya menggigil. Setelah dilarikan ke rumah sakit, Letnan Yudi didiagnosis hepatitis.  Tetapi lelaki yang agak keras kepala ini memaksa, bahwa ia masih mampu untuk terus bergerilya.

            17 Desember 2004, Letnan Yudi diperintahkan kembali ke kesatuan di mana ia berdinas. Meski hatinya berat untuk meninggalkan tanah Serambi Mekah, ia tak bisa memaksa untuk tetap tinggal di kota yang penuh kenangan dan kemenangan baginya serta seluruh pasukannya.  Kemenangan tidak melulu berhasil membunuh lawan. Namun kemenangan untuk tetap menjadi manusia yang selalu memanusiakan manusia, karena ada Maha Segala yang senantiasa memberinya surat cinta. Seminggu berlayar pulang dari Tanah Rencong. Lantunan Fatihah serta Ad-Dhuha dirapalnya.   

            Pagi, 26 Desember 2004. Selepas salam dari dua rokaat dhuha, Letnan Yudi menghenyakkan tubuh di atas sebuah bangku. Tangannya tak sengaja menyentuh tombol on pada remote televisi,  saat tersiar kabar gelombang tsunami berskala 9,3 R mengguncang Aceh. Mata lelaki gagah itu berembun. Sungguh besar cinta Allah padanya. Tidak ada yang kebetulan di dunia. Allah masih menjaganya, memberi kesempatan untuk terus mencari cahaya. Meski hatinya masih tertambat di tanah Serambi Mekah.

*** selesai***

#KisahReligi

 

Berdasar penuturan Letnan Yudi

SW2K, 31 Januari 2021 Alaskembang