Menerka Rencana Tuhan

Ilustrasi. Sumber: bbc.co.uk

Nita mengecek isi ketiga koper untuk kesekian kali. Dicocokan dengan catatan keperluan yang harus dibawa. Setelah yakin semua lengkap, koper-koper diletakan berderet di ruang tengah. “Tak sabar menunggu hari esok,” ucapnya perlahan sambil menatap tiga nama tertera di atasnya.

Teringat masih ada beberapa tambahan barang yang harus dikemas, Nita masuk ke kamar. Buku tabungan tergeletak di atas meja. Dibukanya lembar demi lembar, jelas tertera angka di barisan terakhir.

Perlahan Nita menarik napas dalam, peristiwa tiga tahun lalu itu kembali seolah baru saja terjadi.

***

Menjadi karyawan swasta di Jakarta adalah pilihan dan Nita menjalani dengan senang hati. Meski penghasilan tak terlalu fantastis, tapi baginya bekerja bukan sekedar rupiah.

Banyak hal yang patut disyukuri. Suasana kantor dengan teman-teman kerja yang menyenangkan dan saling bantu membuat pekerjaan seberat apapun terasa lebih ringan.

Akan tetapi ada saat kemauan ‘lebih’ itu menghampiri, di usia muda banyak hal yang ingin diraih dengan cepat. Enak kali kalau punya kendaraan sendiri, bisa lebih irit ongkos. Ibu juga tak harus naik ojek lagi buat ke pasar, pikir Nita saat melihat teman-teman di kantor membeli motor.

Minta bantuan kakak yang tinggal di Kalimantan pun tak mungkin, mereka juga punya keperluan untuk keluarga kecilnya. Sehingga, begitu pihak manajemen kantor menawarkan karyawan untuk mengajukan pinjaman ke salah satu bank BUMN secara kolektif, dengan penuh semangat Nita langsung mengumpulkan semua berkas persyaratan.

“Ibu sih doain yang terbaik aja,” ucap ibu ketika anak bungsunya itu mengutarakan niat untuk meminjam uang di bank.

Pinjaman yang diajukan di pertengahan tahun 2015 itu akhirnya dua minggu kemudian cair. Karyawan yang mengajukan pinjaman semua disetujui, kecuali Nita. Teman-temannya pun heran.

Padahal aku doang yang ngga ada pinjaman kredit lain. Sedangkan teman-teman malah ada cicilan mobil atau rumah, bathin Nita sambil memejamkan mata. Mengingat-ingat apa ada persyaratan yang tertinggal.

Sesampainya di rumah Nita langsung curhat. “Bu, temen-temanku yang udah menikah itu persyaratannya lebih ribet, lho. Aku kan masih single dan ngga ada kredit lain juga. Mestinya lebih mudah dapet pinjaman.”

“Bagus dong, akhirnya kamu ngga punya hutang,” sahut Ibu dari arah dapur sambil menyiapkan beberapa masakan untuk jualan besok.

“Semua kejadian ada hikmahnya. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut pandangan Allah. Begitu juga sebaliknya. Kalau emang rejeki ya ngga bakal kemana, Ta. Sabar saja,” Bapak ikut kasih wejangan sambil mengurut kaki yang belakangan ini sering terasa sakit.

Esok harinya, teman-teman menyarankan pengajuan ulang. “Dicoba lagi Nit, siapa tahu kali ini beruntung,” sahut Ratna. Bercampur rasa penasaran, Nita pun mengisi data dan menyusun berkas yang diperlukan untuk kedua kalinya.

Menunggu dua minggu rasanya lebih lama dari penantian yang pertama. Teringat pesan orang tua, Nita berdoa, berharap semua urusan dimudahkan dan mendapatkan hasil terbaik.

Hari yang ditunggu pun tiba. Kali ini Ratna dan Ayu penuh antusias menghampiri Nita. “Gimana...gimana, acc?” Ayu yang penasaran duduk di samping Nita.

Air muka Ratna dan Ayu langsung berubah ketika sahabat mereka hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Nita menghempaskan tubuh ke sandaran kursi. “Emang belum rejeki, Yu.”

“Lain kali ada kesempatan dicoba lagi, Nit. Semangat, ya!” Ratna menepuk pelan bahu Nita.

Waktu terus berjalan, sampai tiba di penghujung tahun 2015.

Akibat pergantian manageman, sistem perjanjian kerja lebih banyak menggunakan kontrak dan akhirnya pada Desember terjadi PHK masal. Nita dan teman satu divisi termasuk di dalamnya.

Begitu banyak kenangan, suasana kerja yang nyaman dengan rekan kerja harus segera ditinggalkan.

Ketika membereskan meja kerja, dilihatnya sisa berkas pengajuan pinjaman kala itu, terselip di antara kumpulan dokumen.

Kemudian NIta membaca kembali surat pemberitahuan PHK. Pesangon yang seharusnya menjadi hak penuh, nyatanya hanya diterima sebagian saja, bahkan angka itu masih jauh dari 50 persen.

***

Lamunan Nita buyar begitu nada dering di handphone bunyi. “Bapak?”

“Ta, udah diisi belum?” Suara Bapak terdengar di dua tempat. Ternyata Bapak dari kamar sebelah telephone hanya untuk menanyakan isi pulsa.

“Bapak mau telepon teman waktu di Purwakarta, Pak Mamat, katanya dia juga umroh. Nanti kita bisa ketemu di sana.”

#kisahreligi

Based on true story seorang sahabat