Doa Terakhir yang Terkabul

Ilustrasi-google image

Pria tua itu berteduh di bawah rindangnya pohon Mahoni. Meskipun ia tahu tetes-tetes air yang mulai berjatuhan dari langit tetap dapat menembus dedaunan dan membasahi pakaian lusuhnya yang penuh tambalan. Topi jerami anyam yang di beberapa tempat sudah terlepas dia gunakan untuk mengipasi wajah  yang bercucuran keringat. 

 

Desah napas panjang menjadi pertanda bahwa hasil berburu rongsokan hari ini tak sesuai harapan. Di dalam gerobak kayu yang hampir lapuk  hanya ada tas berwarna hitam pudar berisi beberapa potong pakaian butut juga sebuah kain sarung yang multi fungsi. Untuk menyelimuti tubuh ringkihnya kala malam, sekaligus digunakan sebagai alat sholat.

 

Gerimis di saat mentari bersinar cerah, kesempatan ini ia gunakan untuk berdoa sepenuh hati. Memohon kepada Sang Maha Pengasih agar dikabulkan, walaupun itu berarti adalah permohonan terakhirnya. Ia rela, sebab raganya sudah mulai letih dan renta untuk diajak berjuang.

 

Di saat seperti ini angan kerap melayang pada masa lalu. Teramat pilu dan terasa pedih, tetapi tak jua lekang dalam ingatan. Serangkaian pertengkaran hebat yang menjadi  pangkal perpisahan dirinya dengan istri tercinta. Berakar dari masalah klise yang sudah dapat tertebak, ekonomi, kemiskinan membuat istrinya tak mau bertahan.

 

Haruskah Sobarna, menyalahkan orang tua yang hanya mampu menyekolahkan hingga tingkat dasar, tak kuat membiayai pendidikan hingga jenjang yang tinggi. Ataukah menuding nenek kakeknya sebagai penyebab kesengsaraan, karena sudah menurunkan kemiskinan? 

 

Konon banyak orang bilang bahwa  kehidupan ini berputar seperti roda, di mana pada saatnya nanti seseorang akan berada di atas, setelah terpuruk di posisi paling bawah sekalipun. Namun, mengapa hal itu tak berlaku padanya?

 

Ia ingat benar, semasa kecil kerap mengeluh pada ibu dan bapak. Iri pada orang-orang yang tinggal di rumah gedong. Seperti biasa orang tuanya hanya menjawab dengan nasehat agar ia tetap sabar dan banyak berdoa. Suatu saat Allah pasti mengabulkan doa anak yang sholeh.

 

Lalu kapan ia dapat merasakan hidup yang berangsur membaik? Sedangkan saat ini usianya sudah mencapai setengah abad. Padahal, seperti arti dari namanya Sobarna senantiasa bersabar, tawakal dan ikhtiar. 

 

Di tengah keasyikan lamunan, semilir angin membelai kedua kelopak mata yang akhirnya dibiarkan menutup untuk sesaat, siapa tahu dalam mimpi ia dapat mencicipi kehidupan berkecukupan atau bahkan menjadi raja.

 

Iya, Raja, seperti nama yang Sobarna dan istrinya Lasmi berikan untuk anak pertama mereka. Disertai harapan agar kelak Raja akan memiliki harta berlimpah, kebahagiaan dan kekuasaan tak berbatas. Bukankah, nama adalah doa?

 

Suara rengekan yang kelamaan berubah tangisan kencang, membuyarkan tidurnya. Ah, bahkan dalam mimpipun Sobarna tak diizinkan menjadi orang kaya. Tangannya mengucek-ucek mata agar pandangannya lebih tajam.

 

Anak siapa ini? tanyanya  dalam hati. Padahal di taman ini hanya ada dirinya seorang. Sementara tangis anak itu kian melengking, menyebut-nyebut bunda. Sobarna berusaha mendiamkan bocah yang berusia sekitar tiga tahunan itu. 

 

Tak ada apapun yang dapat dia berikan kecuali air mineral yang botolnya telah penyok. Berharap tangis anak kecil itu segera reda, jangan sampai petugas taman lewat dan menuduhnya telah melakukan aksi penculikan.

 

"Jeup, kasep, ntar sama Aki dibeliin balon, ya."

 

Terpaksa ia memanggil tukang balon yang kebetulan melewati taman. Lalu mengeluarkan lembaran dua ribuan kumal sebanyak lima buah yang semula diniatkan untuk membeli makan malam. Penjual balon itu tahu benar kapan harus mematok harga mahal.

 

Bocah itu bersorak senang, perhatian nya sudah teralihkan pada balon plastik  bergambar Doraemon yang terbang meliuk-liuk tertiup angin. Sobarna merasa sedikit lega, pandangannya kembali diedarkan ke sekitar taman komplek tapi tak ada sesiapapun. 

 

Akhirnya lelaki tua itu menggendong si bocah dan menaikkan ke atas gerobak. Berniat mencari orang tua dari anak itu, pastinya saat ini sedang panik.

 

Sobarna mendorong gerobak sambil bersenandung,  membayangkan bahwa yang ada di depannya saat ini adalah putra semata wayang yang begitu dia rindukan. Hampir tiga dasawarsa, mereka tak pernah lagi saling bertemu.  Andaipun sekarang berpapasan, tentulah ia tak akan mengenali lagi wajah putranya.

 

Lasmi membawa anak mereka, Raja,  lari bersama seorang pria yang kaya raya. Dan Sobarna hanya dapat pasrah, mungkin apa yang dikatakan istrinya benar. Raja akan menjadi seorang raja bila orang tuanya berlimpah harta. Raja akan dapat bersekolah hingga ke luar negeri, meraih gelar berentet di belakang namanya. Mengecap kesuksesan dan kekayaan yang tak pernah bisa didapat bila hidup bersama Sobarna yang miskin.

 

-o0o-

 

Ruang keluarga yang terbiasa sepi itu kini penuh kegaduhan, teriakan dari tuan muda bercampur dengan ratapan Bik Asih pengasuh baru yang bertugas menjaga Sultan.

 

Kata-kata maaf tak henti diucapkan berbalas caci maki dan lemparan barang pecah belah. Sementara sang nyonya besar berusaha menenangkan anak lelakinya yang tengah kalap.

 

"Sudah susah-susah Raja membawa Sultan ke rumah ini, Bu. Sekarang malah raib gara-gara kecerobohan orang ini!"

 

Semua kekacauan yang terjadi berawal dari perceraian pasangan muda ini, harta berlimpah dan kebebasan yang diberikan ternyata berujung perselingkuhan istrinya. Perebutan hak wali anak hanya menjadi formalitas, padahal masing-masing sibuk dengan ego dan kepentingan pribadi.

 

"Pokoknya, cari sampai ketemu!" Suaranya menggelegar, membuat para pegawai yang berkumpul seketika bubar untuk melaksanakan perintah.

 

Dua orang satpam, supir dan tukang kebun bersama mengitari komplek real estate menggunakan motor. Tak lama salah seorang dari mereka menunjuk pada sosok lelaki tua yang tengah mendorong gerobak. Seorang anak kecil yang sangat mereka kenal tampak riang memainkan balon sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

 

Satpam bertubuh gempal itu berseru, menyuruh berhenti seraya mengajak teman-temannya  yang lain mengejar Sobarna yang saat ini menjadi tertuduh penculikan.

 

Tanpa sadar orang tua itu malah mempercepat langkah, entah takut dituduh sebagai penculik anak atau karena impian yang baru saja ia bangun akan runtuh sebelum dibentuk. 

 

Malang, ia kalah cekatan, pukulan demi pukulan kini diterima wajah dan bagian badan lain diiringi caci maki dan tudingan keji. Ribuan kunang-kunang mulai menghalangi pandangan. Tak lama, tubuh Sobarna ambruk terkapar, cairan merah mengalir dari pelipis.

 

"Aki … aki …."

 

Sultan menjerit ketakutan, balon di tangan mungilnya terlepas, membubung di angkasa. Tak lama Bik Asih datang, menggendong dan mengajaknya masuk ke mobil yang baru saja tiba setelah dihubungi satpam.

 

Samar-samar mata Sobarna yang nyaris redup, menangkap siluet seorang perempuan yang berjalan ke arahnya. Raut wajahnya tak dapat ia lupakan selama tiga dasawarsa ini. Dia Lasmi, yang masih saja cantik dalam usia senja. Di sampingnya berdiri pria muda yang memanggil mantan istrinya ini dengan sebutan Ibu. Paras gagah dengan rahang tegas berhias alis mata tebal dan mata sayu, begitu serupa dengan Sobarna saat masih muda.

 

Sebelum pukulan pamungkas membuat matanya tertutup rapat, ia sempat mengucap syukur ternyata Tuhan telah sudi mengabulkan doa-doa yang selama tiga puluh tahun ini ia panjatkan.

 

Sisa-sisa tenaga digunakan Sobarna untuk mengukir senyum bahagia yang terakhir kalinya.

 

_****_

#kisahreligi

#aniwijaya0711