Perempuan Kesembilan

bulan purnama

“Ampun Bang, jangan bunuh saya,” jerit Sisti lirih. Namun Aku terus mencekiknya sambil menindih  tubuhnya yang lumayan sintal.  Sisti terus meronta-ronta dan aku terus memperkuat cekikan di lehernya yang jenjang. 

Tidak perlu waktu lama, perempuan itu pun akhirnya menemui ajalnya. Di kamar ini, di sebuah apartemen di lantai paling atas dan terletak di sudut sehingga jarang dilewati penghuni lain.

Sisti adalah perempuan kedelapan  yang telah menjadi korban kebengisanku dalam rangka memenuhi tumbal ilmu hitam agar aku bisa mendapat ilmu kebal senjata api dan tajam.  Kini tinggal satu lagi tugas ku yaitu mencari korban terakhir. Dan sebagaimana korban terdahulu, perempuan kesembilan ini juga harus  memiliki nama yang berakhiran Ti.  

Aku bahkan masih ingat 7 korban terdahulu sebelum Sisti, Ada Tuti, Warti, Tati, Siti, Titi, Yanti dan Tanti. Ketujuh perempuan itu, aku kencani, dan kemudian kuajak bertandang ke apartemen dan di sana lah aku menghabisi perempuan-perempuan itu setelah aku berhasil mereguk kewanitaannya.  Sesuai syarat, deretan delapan perempuan dengan nama berakhiran Ti ini dieksekusi setiap malam bulan purnama.

Kali ini aku mulai kesulitan mencari perempuan yang memiliki nama dengan akhiran Ti. Biasanya aku mulai berkenalan dan melakukan PDKT sejak satu dua minggu sebelum hari H.  Agar punya waktu yang cukup untuk merayu sehingga bersedia diajak bertandang ke apartemen.  Bahkan hingga H minus tiga, aku belum juga menemukan calonnya.

Malam itu, bulan purnama menyinari langit kota Jakarta. Dengan tekad bulat aku keluar rumah untuk mencari perempuan dengan nama berakhiran ‘Ti’. Seandainya gagal, aku harus menunggu hingga purnama berikutnya. 

Sekitar pukul 10 malam, aku masuk ke sebuah tempat hiburan malam.  Lampu remang-remang dan musik yang hangat bergema di tempat itu. Aku duduk dan memesan bir sambil mata memandang ke sekeliling. Kusulut rokok Ji Sam Soe dan mulai menghisapnya dalam-dalam sambil sesekali menghembuskan asapnya yang bulat bergulung-gulung.  Suasana belum terlalu ramai. Biasanya tempat ini mulai padat menjelang tengah malam. Sudah dua botol bir tuntas kutenggak dan tiga batang rokok habis kuhisap, belum juga ada perempuan dengan nama berakhiran Ti yang mendekat.

Namun nasib baik masih menjadi milikku. Menjelang pukul 12 malam, tiba-tiba seorang perempuan yang lumayan cantik mendekat.

“Sendirian saja Bang?” katanya dengan suara agak manja. Dia mengenalkan dirinya bernama Santi. Dandanannya lumayan menor, namun aku sudah tidak peduli lagi. Apalagi, dalam pengaruh dua botol bir, semua perempuan akan terlihat cantik

“Santo,” kata saya memperkenalkan diri dan dia langsung tertawa manja. Dia mungkin tahu bahwa nama saya itu palsu. Tetapi di dunia malam yang penuh kepalsuan ini, siapa yang akan peduli.

Sontak aku langsung bersemangat dan mempersilahkan Santi duduk. Aku memesan jus jeruk untuk Santi dan satu botol bir lagi untukku. Dengan iringan musik disko yang membahana kami mulai bercakap-cakap dan dalam waktu kurang setengah jam sudah kian akrab.  Aku mulai merayu Santi agar mau diajak pulang menginap ke apartemen. Tanpa ragu dia langsung setuju.

Dalam waktu dua puluh menit kami sudah sampai di apartemen. Waktu sudah sekitar pukul 1 malam. Setelah sekedar basa-basi, transaksi segera dimulai dan seperti biasa diakhiri dengan eksekusi dimana aku mencoba mencekik korban.  Namun kali ini perlawanan yang diberikan Santi sedikit luar biasa. Tenaganya jauh lebih kuat dari delapan perempuan sebelumnya yang berhasil saya habisi.

Walau dalam keadaan setengah mabuk, sebenarnya Aku  sudah mulai menyadari keanehan dengan Santi. Tetapi tidak ada jalan lain, Aku tetap harus dapat menghabisinya karena kalau tidak saya yang dalam posisi berbahaya,  Akhirnya sebuah pukulan telak dapat membuat Santi pingsan dan dengan leluasa Aku dapat menghabisinya.

Seperti biasa untuk meyakini bahwa Santi memang nama asli perempuan itu, aku membuka dompet dan mencari KTP atau SIM korban.

Perempuan kesembilan ini memiliki KTP dengan nama Susanto.

30 Januari 2021