Bukan Jodoh

Fotodarisindonews

Kereta yang tak terlalu sesak melaju teramat cepat. Melindas rel dan apa pun di depannya tanpa ampun. Seperti halnya  manusia yang menelan takdir tanpa bisa mengelak. Mungkin, seperti hari-hari pahit yang harus kukecap.

Mata mengerjap demi melihat pasangan suami istri muda di depanku terlelap nyenyak dengan posisi saling menyandarkan kepala. Kuterka, mereka belum terlalu lama merajut rumah tangga. Wajah keduanya nampak masih remaja. Ditambah, belum nampak balita dalam pelukan. Aku tersenyum kecut.

Aku ingin ikut mengantuk sambil membenarkan posisi duduk agar lebih nyaman. Namun, ekor mata mengintip jam mungil silver di pergelangan kiriku.  Rupanya, Dzuhur telah masuk. Aku berjingkat ke toilet dan mengambil air wudhu. Suasana yang tak ramai, plus tak ada penumpang yang sudi duduk di sebelahku, membuatku shalat di bangku kereta dengan lega. 

Terlintas masa ketika ia mengajari dan memberitahu mengenai solat dalam kendaraan. Tanpa berkaca, aku paham tonjolan tulang pipiku sedang memerah muda ketika ia menyindirku yang di usia hampir kepala tiga masih buta soal macam-macam shalat. Terekam kembali pula saat-saat ia mengatakan jika semestinya aku lebih memanjangkan jilbab dan mengganti kebiasaan  ber-jeans-ku dengan rok lebar. Dan kenangan-kenangan lain dalam kurun waktu lima tahun. Hingga aku mencetuskan bahwa ia calon imam idaman. 

Hampir jam 3. Sekitar sejam lagi kereta sampai ke kotanya. Ingin sekali rasanya aku mengulur waktu kalau saja mampu. Atau, aku memimpikan agar kereta ini tak pernah sampai. Mungkin akan lebih baik. 

Hari itu, di penghujung lima tahun perkenalan, aku bersiap menjadi salah satu wanita paling bahagia, saat ia seperti biasa menelpon lama dan menyelipkan ajakan ke kotanya untuk makan malam ketiga kalinya dengan calon mertua. Aku tiba-tiba yakin, cincin permata bermata ungu impian yang suatu kali pernah kuceritakan padanya sebentar lagi akan bertengger di jari manis kiriku. 

Kalau saja, di kereta menuju kotanya kala itu, foto status whatsapp-nya yang tengah berdua dengan seorang perempuan lain, tak pernah tertangkap mataku. Dan kalau saja, Sheila, adiknya tidak pernah jujur jika wanita itu adalah calon pendamping hidup yang paling sesuai menurut adatnya; jodoh paling cocok menurut sang mama.

Sore itu, aku menyelami pendapat yang pernah kurangkai sendiri, bahwa perjalanan dengan kereta beserta semua prosesnya selalu melahirkan kesan melankolis. Entahlah, suara maha keras badan kereta yang perlahan menumbuk lintasannya sebelum berlalu pergi dari stasiun persinggahan selalu menciptakan rasa pilu. Pun, menatap pemandangan yang tengah berlarian lewat kaca kereta yang diguyur matahari senja. 

Sore itu, kereta dengan setia mengantarku ke kotanya hanya untuk mempersilakanku menangis di stasiun dan menunggu jadwal kereta selanjutnya untuk kembali pulang. Tanpa berniat memberi kesempatan pada telinga untuk mendengar sebuah pengakuan. 

Di hari yang lainnya lagi, aku lagi-lagi mesti datang ke kotanya demi menghadiri undangan pernikahannya dan demi meyakinkan dunia jika aku wanita paling tegar. Sayangnya, ibunya merangkulku terlalu erat sambil membisikkan maaf yang padahal tak pernah kuharap. Toh, aku tak pernah mengizinkan amarah meradangi jiwa. Lalu, apa aku harus menyalahkan dada yang tiba-tiba sesak dan air bah yang mengucur dari lubang mata? 

Dan, kini, aku harus ke kotanya lagi. Entah yang ke berapa kalinya dalam lima tahun sejak sebuah lomba keolahragaan se-Indonesia mengenalkanku padanya pertama kali. Mungkin, enam atau malah sepuluh. Tentu saja lupa, karena aku bukan pencatat diary yang merasa harus mengabadikan semua dalam tulisan, secinta apa pun aku pada seseorang, cerita-cerita, atau sesuatu. Aku terbiasa mencatat kenangan hanya dalam hati dan pikiran. 

Seperempat jam lagi. Telapak tangan kanan dan kiriku mulai meneteskan keringat dingin, kebiasaan jika sedang gugup. Segala rasa tumpang tindih. Aku benar-benar tak ingin kereta ini sampai. Atau, aku seharusnya mengulang kejadian beberapa bulan lalu saja? Turun untuk tercenung di stasiun tanpa mampir ke mana-mana walau sekedar mencari pengganjal perut? Tidak, kali ini aku harus menjumpainya! Tekadku. 

Gundukan tanah yang kini menyembunyikan tubuhnya masih merah. Aku tak punya kata. Pun, saat kupeluk istrinya yang memang memiliki kecantikan tak terkira khas sukunya. Saat ini, aku benar-benar paham, aku kalah tegar darinya. 

Apa kamu bisa janji, nanti jika Allah menyatukan kita, kamu tak pernah meninggalkanku? Karena, sekuat apa pun aku yang pernah kau kenal, aku tipe perempuan yang tak pernah mau ditinggalkan jika telah menjadi seorang istri. 

Isi pesan yang tak pernah terbalas itu belum juga terhapus dari handphone ber-casing hitamku. 

Hijab hitam selututku berkibar ditiup angin sore. Aku meraih ujungnya agar tak tersingkap walau sedikit. Saatnya menanti kereta malam tujuan kotaku. Mas Raffi, pemilik pondok pesantren kota sebelah, tengah menunggu untuk mengkhitbah.

#kisahreligi