Delapan Matahari

https://cdn.pixabay.com

Markum membuka matanya dengan paksa.  Alarm di mejanya berbunyi senyaring anak angsa.  Huh! Mengganggu saja.  Bangkit tertatih dan mematikan alarm.  Siap tidur lagi.  Namun satu kelebat urusan menyadarkan Markum.  Aku kan ada janji dengan seseorang.  Seseorang yang sangat penting.  Untuk sebuah urusan yang sangat penting.

Mau tak mau Markum membuka kesadarannya lebar-lebar.  Menyingkap tirai jendela.  Markum sedikit terperanjat.  Hari masih sangat gelap.  Bukankah ini sudah pagi?  Markum melirik jam weker.  Pukul 7.00.  Sebegitu pekatnya kah mendung?  Pikiran Markum meraba-raba.

Rupanya tidak hanya Markum yang diliputi keheranan dan pertanyaan.  Seisi kota mengalami hal yang sama.  Bahkan berduyun-duyun orang pergi ke halaman dan jalanan.  Memastikan apakah ini sudah pagi atau masih malam.

Rata-rata mereka membawa jam tangan atau jam meja.  Mencocokkan satu sama lain.  Dan jamnya tidak ada yang salah.  Tepat waktu.  Namun hari memang gelap.  Seolah malam belum mau berlalu.

Lalu berita televisi dan radio menyiarkan pengumuman penting;  Matahari dinyatakan MENGHILANG.   Tanpa ada sebab musabab, matahari tidak lagi muncul di pagi hari.  Gerak cepat para ahli astronomi dalam mencari tahu menguatkan berita itu.  Tidak ada tanda-tanda matahari di ufuk timur!

Seisi kota gempar!  Seluruh negara gempar!  Dunia gempar!  Benda besar yang selalu menghangatkan pagi itu tidak ada lagi.  Entah punah, entah musnah, entah posisinya berubah.  Tidak ada yang tahu.  Yang jelas semuanya gelap.  Orang-orang harus selalu menyalakan lampu.  Mesin-mesin pembangkit listrik raksasa harus bekerja lebih keras mulai hari itu.

-----

Kehidupan berubah drastis.  Suhu mendingin secara ekstrim.  Dunia perlahan-lahan menuju titik beku.  Tanaman-tanaman yang tergantung cahaya matahari bermatian.  Hanya jenis-jenis tertentu yang bisa bertahan.

Para ilmuwan bergerak cepat.  Berkumpul untuk merumuskan solusi terbaik bagi situasi yang bisa memusnahkan kehidupan di bumi ini.  Ahli matematika, fisika dan astronomi sepakat untuk membuat matahari buatan.  Tentu tidak bisa sebesar aslinya.  Namun paling tidak bumi harus segera dipanasi.

Disepakati ada 8 titik orbit sesuai dengan penjuru mata angin yang harus dipasangi matahari buatan.  Panas yang dihasilkan memang tidak sekuat matahari.  Tapi paling tidak ini bisa menyelamatkan bumi.  Untuk sementara.

Semua negara bahu membahu bersicepat membangun matahari buatan.  Dalam tempo tidak terlalu lama, sebelum panas yang disimpan bumi melenyap sepenuhnya, matahari buatan itu berhasil dibangun dan diorbitkan.

Ada satu masalah yang harus dihadapi para ilmuwan.  Selama ini satelit dan benda angkasa yang diorbitkan selalu menggunakan battery yang memanfaatkan cahaya matahari sehingga energi yang dihasilkan bisa berkelanjutan.  Lalu bagaimana matahari buatan ini bisa terus beroperasi sedangkan energi penggeraknya tidak ada.  Semua memutar otak.  Diambillah keputusan berani.  Matahari buatan itu dioperasikan menggunakan energi konvensional.  Batubara dan minyak bumi.  Sumber energi itu disuplai dari bumi.  Sehingga tidak heran jika tiap hari terjadi lalu lalang transporter bahan bakar menuju orbit bumi.

Penambangan besar-besaran dilakukan.  Bumi digali habis-habisan.  Lautan dieksplor dalam pencarian sumber-sumber minyak mentah.  10 kali lipat dari aktifitas biasa ketika matahari masih ada.  Ibaratnya rahim bumi dipaksa melahirkan sebelum waktunya.

Batubara yang masih muda pun terpaksa akhirnya dipanen.  Lubang-lubang kawah bekas galian di muka bumi bertebaran di mana-mana.  Tumpahan minyak mentah di lautan berhamburan karena produksi digenjot habis-habisan. 

-----

Seluruh matahari buatan beroperasi sepenuhnya.  Panas yang dipancarkan menggeliatkan kembali kehidupan di bumi.  Sawah-sawah menghasilkan padi lagi.  Gandum dan kedelai sudah pula bisa dinikmati oleh penduduk bumi.  Suhu meningkat perlahan.  Sepertinya kehidupan akan berjalan normal.

Semua negara berkonsentrasi penuh memproduksi bahan bakar untuk 8 matahari buatan.  Diterapkan kebijakan semua sumber energi fosil khusus untuk menjalankan matahari buatan.  Hanya sedikit sekali yang diperuntukkan untuk kendaraan dan peralatan lainnya.  Orang-orang seolah kembali ke zaman pertengahan.  Kuda dan pedati menjadi transportasi utama.

Setiap peperangan yang berkecamuk di seluruh penjuru dunia berhenti.  Tidak ada lagi pabrik senjata.  Kalau pun masih ada sengketa dan perselisihan, pihak-pihak yang bertikai hanya bisa menggunakan senjata seadanya.  Pedang, kelewang, tombak, bahkan pentungan dan batu.

Tidak ada lagi tank tempur, kapal selam, pesawat tempur dan mesin-mesin perang lainnya.  Semua peralatan itu menjadi barang rongsokan.  Tidak ada bahan bakar.

-----

Semua orang bersyukur.  Meski hidup menjadi lebih sulit karena terbiasa dimanjakan oleh peralatan modern dan canggih, setidaknya bumi tidak jadi beku.  Setidaknya hari-hari tidak menggelap terus-terusan.  Sudah ada matahari.  Apalagi situasi kritis ini ternyata sanggup menghentikan peperangan.

Roda dunia berputar secara sederhana.  Cari, gali, tambang berproduksi, habis, cari lagi, gali lagi, tambang lagi, begitu seterusnya rutinitas yang dilakukan.  Semua demi tetap beroperasinya 8 matahari buatan.

Orang-orang lupa.  Para ahli dan ilmuwan juga lupa.  Seperti buah jeruk yang diperas air dan sarinya, maka bumi secara perlahan mengkerut.  Menimbulkan guncangan kecil pada awalnya.  Guncangan besar berikutnya.  Jika dulu dikenal gempa akibat aktifitas tektonis dan vulkanis, gempa yang terjadi sekarang adalah gempa akibat kerutan bumi.

Meskipun para ilmuwan berhasil menemukan teknologi untuk meningkatkan intensitas penyinaran cahaya oleh matahari buatan, namun efeknya ternyata begitu terasa di bumi.  Jeruk yang sudah mengkerut dan mengeriput tadi dipanasi secara terus menerus sehingga terjadilah penguapan sisa-sisa air secara tak terkendali. 

Akibatnya bisa ditebak, kerutan bumi semakin dalam.  Gempa semakin sering terjadi.  Ancaman baru kembali menampakkan taringnya.  Bumi tidak stabil.  Semua isi perutnya dikuras tanpa ukuran. 

Orang-orang masuk lagi pada mode panik.  Bagaimana caranya mengisi kembali cairan dan isi bumi yang sudah terlanjur disedot habis-habisan?  Apakah bumi harus diinjeksi?  Tapi dengan apa dan bagaimana caranya?

Para ilmuwan kembali memutar otak.  Intensitas penyinaran matahari buatan dikurangi.  Tambang galian direm.  Mereka mencari cairan alternatif yang bisa digunakan untuk menginjeksi kembali perut bumi yang sudah koyak-koyak.

Kesimpulannya, bumi harus diinjeksi cairan dengan kekentalan tertentu yang mirip dengan minyak mentah agar stabil kembali.  Sekaligus menyumbat kembali kepadatan tanah yang sangat berongga setelah batubara dieksploitasi secara luar biasa. 

Tidak ada lagi pilihan yang tersisa.  Kekentalan minyak mentah mirip dengan darah.  Benda ringan yang sesuai dengan kepadatan batu bara adalah tulang-tulang.

Setelah dilakukan perhitungan dan kalkulasi volume untuk injeksi.  Keluarlah sebuah keputusan yang mengerikan!  Dibutuhkan korban manusia lebih dari tiga perempat yang ada di dunia.  Itu artinya 6 milyar manusia harus dikorbankan! Volume darahnya cukup.  Jumlah tulang-tulangnya juga cukup.  Bumi akan kembali stabil.

Sekarang tinggal merumuskan bagaimana cara melakukannya.

-------------