Perempuan Kaldera

Sumber:pinterest.com

Berjalan di atas pasir hitam kaldera sejauh hampir 3 kilometer bolak-balik setiap hari, bagi Ibu adalah hal yang biasa. Wajahnya sama sekali tidak menampakkan lelah. Meski keringat mengucur deras di keningnya yang tak lagi licin.

Ibuku memang perempuan kaldera sejati. Setidaknya begitu yang aku ketahui di sepanjang hidupku ini.

"Ibu sudah waktunya istirahat," aku menggapai. Berusaha meraih tangan Ibu yang sibuk mempersiapkan bakul besar terbuat dari anyaman bambu di atas meja.

"Ibu masih kuat, Nur. Kau tidak perlu cemas," Ibu beralih pandang ke arahku. Seperti biasa. Senyumnya yang manis meluluhkan hatiku.

"Tapi, Bu," mataku mendadak berkaca-kaca. Aku terharu menyaksikan bagaimana perjuangan Ibu. Dua belas tahun lebih menggendong bakul berisi jagung rebus menyusuri pasir kaldera yang panasnya minta ampun di kala musim kemarau dan dinginnya membekukan di saat musim hujan tiba.

"Tidak ada yang berat jika itu dilakukan untuk cinta, Nur," Ibu mengelus kepalaku. Seolah paham apa yang tengah kupikirkan.

Untuk cinta? Ibu mengatakannya sedemikian ringan. Tanpa beban.

Ya. Sekali lagi kukatakan. Ibuku adalah sosok perempuan tangguh. Ibu tidak saja gigih dalam mencari nafkah untuk menyambung hidup kami, tapi juga sosok paling sabar yang pernah kutemui. Itu dibuktikan dengan kerelaannya menggendongku bolak-balik ke kamar kecil jika aku ingin mandi atau buang air.

Ibu sama sekali tidak pernah berkeluh kesah tentang hidup yang kami jalani.

Sampai suatu pagi aku mendengar seseorang berkata lantang dari luar rumah kepada Ibu.

"Kelahiran Nur itu serupa kutukan bagimu, Sri!"

"Jaga mulut lancang rika, Yu Nah!" Ibu menyahut tak kalah sengit. Ia terlihat amat tersinggung. Lalu, blam! Dengan kasar Ibu menutup pintu rumah rapat-rapat.

"Tetangga gendheng! Jangan diambil hati ucapannya ya, Nur," Ibu buru-buru membopongku pindah ke kamar belakang.

"Nanti kalau Ibu berangkat ke kaldera, aku kunci pintunya dari luar, ya. Ada si Telon yang akan menemanimu," Ibu mendudukkanku di atas amben beralas tikar daun mendong. Lalu mengecup ubun-ubun kepalaku dengan lembut.

Aku mengangguk.

"Nasi dan lauk pauk sudah aku siapkan di atas meja. Berbagilah makanan dengan Telon," Ibu menunjuk tudung nasi di atas meja kecil yang terletak tidak jauh dari jangkauanku.

Sekali lagi aku mengangguk.

***
Ketika matahari mulai meninggi Ibu gegas mengunci pintu rumah, meninggalkanku menuju kaldera. Bakul berisi puluhan jagung rebus yang masih panas sudah siap dikepit dalam gendongannya.

Ya. Ibu menjajakan jagung rebus itu pada para pelancong yang datang berkunjung di sekitar area wisata Gunung Bromo. Hanya itu yang bisa Ibu lakukan. Dan, pekerjaannya yang tidak menentu ini menjadi satu-satunya penopang hidup kami.

Andai saja --- ya, andai saja aku tidak ditakdirkan lumpuh pada kedua kakiku.

Ah, sejak kapan aku pandai berkeluh kesah seperti ini? Tidak. Kalau sampai Ibu tahu pasti ia akan marah besar. Kata Ibu aku harus tetap bersyukur apa pun yang Tuhan berikan kepada kami.

Aku menatap Telon yang mendengkur di dekat kolong amben. Kucing jantan itu tampak tertidur sangat pulas. Suasana sepi membuat mataku riyip-riyip. Aku nyaris terlelap kalau saja tidak dikagetkan oleh munculnya seseorang di ambang pintu.

Yu Nah!

Perempuan itu menyeringai begitu melihatku.

"Ba-gaimana Yu Nah bisa masuk kemari?" gagap aku bertanya.

"Ah, itu soal mudah!" Yu Nah terbatuk sebentar. Lalu melanjutkan kalimatnya, "Dengar, Nur! Kau itu bukan hanya kutukan bagi Sri, tapi juga kesialan bagi kampung di kaki Gunung Bromo ini!"

Aku menelan ludah. Lontaran kalimat menyakitkan itu sampai kapan harus kudengar lagi? Aku menggeser tubuh. Telon yang tengah terlelap terbangun. Ia mengibaskan ekornya beberapa kali. Lalu menggeram.

"Apa sebenarnya yang Yu Nah inginkan dari aku?" aku mulai berani menatap mata Yu Nah yang berkilat jahat.

"Tidak ada! Kecuali sekadar memberitahu bahwa ibumu -- Sri Astuti bukanlah perempuan baik-baik!" Suara Yu Nah melengking tinggi, penuh tekanan. Membuat Telon terkejut dan menghambur membabi buta.

Kejadiannya begitu cepat. Telon tahu-tahu sudah menyerang Yu Nah. Mencakar wajah perempuan itu berkali-kali hingga pemilik tubuh tambun itu berlari tunggang langgang meninggalkan kamarku.

Telon masih belum puas. Ia terus mengejar mengikuti langkah Yu Nah.

Beberapa menit kemudian kucing itu masuk kembali ke dalam kamar, melompat lincah dan terpekur tenang di sampingku.

"Kau telah berhasil mengusir perempuan nyinyir itu, Telon. Tapi setelah ini kau harus lebih berhati-hati. Bisa saja ia membalasmu dengan ..."

Belum selesai aku bicara, terdengar suara langkah mendekat lagi.

Ibu.

Tangan lembutnya menyisihkan tubuh Telon, hati-hati. Lalu mengambil tempat duduk di sampingku.

"Aku baru saja melihat Telon mencakar habis-habisan wajah Yu Nah," Ibu tersenyum seraya menyentuh pundakku. Aku mengangguk.

Ibu beringsut sedikit.

"Apakah Ibu harus menceritakan semuanya padamu, Nur? Mengapa Yu Nah begitu membencimu?" Ibu berkata pelan. Kali ini aku menggeleng.

"Tidak, Bu. Tidak perlu. Yang penting Ibu sangat menyayangiku. Itu saja sudah cukup," aku mendekatkan wajahku. Mencium harum pipi Ibu.

Wangi kaldera.

Ya. Aku sama sekali tidak peduli masa lalu Ibu. Bagiku Ibu tetaplah perempuan hebat. Perempuan tangguh yang tidak malu memiliki anak seperti aku.

Sekalipun tadi aku sempat mendengar Yu Nah mengatakan sesuatu yang buruk mengenai dirinya.

"Sri itu perempuan gila! Ia menikahi seekor kucing! Telon itulah bapakmu!"

Sejenak aku menatap Telon. Dan, tanpa sepengetahuan Ibu perlahan tanganku bergerak, meraba sesuatu di bagian bawah bokongku.

Ada! Ekor itu ada. Berjuntai panjang. Lebih panjang dari milik Telon.

***