Ketika Takdir Berbicara

Foto: Pixabay.com

Secarik kertas beserta amplop cokelat masih berada dalam genggaman Kiara. Perempuan bertubuh kurus dan berhidung mancung itu mendengkus, lalu mengerucutkan bibirnya hingga nyaris sepadan dengan hidungnya. Dia meremas kertas dalam genggaman dengan kuat. Andai saja huruf-huruf dalam kertas itu dapat berbicara, mungkin mereka akan memaki Kiara dengan membabi buta. Sayangnya semua itu tidak mungkin. Sebaliknya, Kiara semakin marah hingga kertas bermaterai itu berubah menjadi kepingan-kepingan kecil yang berserak di lantai.

“Aku dipecat  tanpa alasan yang jelas, Bu,” keluhnya.

“Sabar, Ki, itu sudah takdirmu.” Ibu Kiara, Susanti, menepuk bahu putrinya berulang kali. “Duduk dulu, jangan berdiri di depan pintu begitu.”

Kiara menuruti perintah ibunya walaupun hatinya masih dongkol. “Kurangnya apa coba, Bu? Kiara lulusan S1, seharusnya bos bisa berpikir yang realistis dong.” Kiara melepaskan sobekan terakhir dari genggamannya. “Apa Allah nggak sayang Kiara? Kita sudah beribadah setiap waktu, salat tahajud hingga puasa sunah, tapi masih saja diberi ujian begini.”

Susanti hanya diam mendengar omelan putrinya. Perempuan berdaster bunga-bunga itu menyodorkan segelas air putih untuk Kiara. “Minum dulu supaya bisa lebih tenang.” Kemudian, dia meninggalkan Kiara termenung sendirian.

Sore itu senja yang terang mendadak menjadi gelap dalam pandangan Kiara. Tatapan matanya berkunang-kunang sebelum akhirnya dia tersungkur.

“Kiara!” jerit Susanti dengan wajah panik. “Pak, Kiara pingsan,” teriaknya lagi.

Kemudian dari ruang tengah muncullah lelaki bertubuh gempal dengan langkah yang tergopoh-gopoh. Kemudian dia menempelkan punggung tangannya pada dahi Kiara. “Dingin sekali, Bu,” ucap Karman, ayah Kiara.  

“Kita panggilkan bidan saja,” pinta Susanti.

Setengah jam kemudian Bidan Meita tiba setelah Karman menelepon. Dia langsung memeriksa Kiara setelah Karman memberikan izin. Hanya dalam hitungan menit saja Bidan Meita telah selesai mendiagnosa. Menurutnya, Kiara hanya kelelahan.

“Setelah minum obat ini, insyaallah besok sudah baikan, Pak,” ucapnya pada Karman.

“Terima kasih, Bu,” jawabnya. “Mari saya antarkan pulang,” tawarnya sembari berjalan mengekori Bidan Meita keluar rumah.

“Saya pulang dulu, Pak!” pamitnya, lalu bertolak meninggalkan rumah Karman.

Kemudian, Karman segera menutup pintu setelah bidan desa tersebut tak kelihatan lagi. Dia menyambangi kamar putrinya. Susanti masih terlihat cemas sambil menggenggam tangan Kiara. Seumur-umur baru inilah Kiara sampai tak sadarkan diri.

“Sudah, Bu, lebih baik ditunggu saja.” Karman mengelus bahu istrinya.

Malam itu mereka sepakat untuk menjaga Kiara. Mereka hanya keluar ketika menjalankan salat saja.  

*******

Sudah dua pekan sejak pemecatan itu, Kiara tak kunjung sembuh walaupun telah berobat ke klinik hingga spesialis penyakit dalam. Kiara selalu sambat bahwa dadanya nyeri dan sekujur tubuhnya terasa lemas, tetapi saat dibawa berobat, hasilnya selalu sama; tidak ada penyakit apa pun yang menyerang Kiara. Anehnya, sekadar berjalan pun Kiara tidak mampu.

Pada malam yang kesekian, akhirnya Karman memutuskan untuk mendatangi rumah Ustaz Akbar. Dia menemui lelaki berperawakan tinggi tegap itu sambil membawa bingkisan berisi gula putih, sekaleng susu dan satu kotak teh.

“Ada perlu apa, Pak?” tanya Ustaz Akbar setelah menyuguhkan segelas teh kepada Karman.

Lantas Karman pun segera mengutarakan maksudnya. “Saya mau minta bantuan kepada Ustaz untuk mengobati putri saya,” pintanya dengan nada setengah putus asa. Setelah itu Karman langsung menceritakan kejadian demi kejadian yang mereka alami selama dua minggu terakhir ini.

Ustaz Akbar tampak antusias mendengarkan penjelasan Karman tanpa melewatkan detail kecil yang tamunya sampaikan. Karman juga menceritakan saat Kiara tiba-tiba memuntahkan lendir selama berjam-jam. Dia juga mengatakan bahwa Kiara sudah terbaring selama dua pekan hingga membuat tubuhnya tampak layu dan menjadi kurus.

Ustaz Akbar manggut-manggut, lalu menjawab, “Semoga besok bisa segera diobati. Hari ini saya bawakan air dulu.” Kemudian lelaki berjubah putih itu menuju kamarnya, lalu keluar lagi setelah selang beberapa menit kemudian dengan menenteng plastik bening berisi sebotol air putih. “Ini diminum satu kali saja dalam sehari, setiap azan magrib,” terang Ustaz kepada Karman.

“Terima kasih, Pak Ustaz, saya pamit dulu.” Kemudian, Karman segera meninggalkan kediaman Ustaz Akbar.

Dua puluhan menit kemudian Karman sudah sampai di rumah berpoles cat oranye. Dia segera masuk dan mendatangi kamar Kiara.

“Bagaimana, Pak?” tanya Kiara dengan suara parau.

“Ini dikasih obat, nanti diminum kalau azan magrib,” jelas Karman pada putrinya.

“Mungkin kita harus lebih dekat pada Allah, Pak, supaya segera diberikan jalan untuk kesembuhan Kiara,” tutur Susanti.

“Buat apa beribadah kalau masih saja diberi ujian seperti ini, Pak? Kiara dipecat lalu jatuh sakit,” gerutunya.

“Ki, Allah sudah menyesuaikan dengan kemampuan yang kamu miliki. Nggak ada yang sia-sia, Ki,” jawab Susanti dengan lembut. Perempuan bersanggul itu mengerti jika hati Kiara pasti masih digelung kegelisahan. “Hakmu jika mau berpikir Allah nggak adil, tapi ibadah tetap wajib hukumnya. Dan Ibu nggak mau keluarga kita jauh dari rahmat-Nya gara-gara kamu diuji sakit seperti ini.”

Kiara menunduk mendengar penuturan ibunya. Entah mengapa rasanya kalimat itu menusuk hingga relung hatinya yang terdalam.

Menyadari gelagat tersebut, Susanti langsung mendekap tubuh Kiara dan menenggelamkan wajah putrinya di depan dada. “Yang sabar, Bapak sedang usaha mencarikan obat. Kita sudah menempuh jalur medis, tapi nggak salah juga kalau ikhtiar pakai pengobatan lain.”

Perasaan Kiara semakin terasa ngilu. Dia memang hampir menjauhkan diri dari perintah Islam yang telah ayah ibunya ajarkan sejak kecil. Namun sungguh hati kecilnya terus menolak untuk melakukan keinginan itu.

Lagi-lagi malam yang mereka lalui tak ubahnya kelam yang berkepanjangan. Kiara, putri semata wayang mereka sakit dengan tiba-tiba tepat setelah diberhentikan dari toko serbaguna di desa sebelah. Kejadiannya memang sangat cepat. Begitu kertas pemberhentian itu Kiara robek hingga tak bersisa dalam genggamannya, saat itu pula perempuan berhidung mancung itu jatuh pingsan. Begitu kelam hari-hari yang mereka habiskan selama dua pekan ini—merenung, sedih, tapi tetap berserah diri.

Dua hari kemudian Ustaz Akbar datang membawa kabar baru. Dengan wibawanya yang meneduhkan, Ustaz Akbar menjelaskan, “Begini, Pak, menurut saya putri Bapak ini sakit karena diguna-guna. Namun saya tidak mau berburuk sangka siapa pelakunya. Lebih baik kita fokus pada penyembuhan Kiara.”

“Diguna-guna bagaimana, Ustaz?” tanya Susanti.

Mereka berbincang di ruang tengah agar tidak terdengar oleh Kiara.

“Ada lelaki yang sakit hati terhadap penolakan Kiara. Sehingga dia mencari orang pintar untuk membuat Kiara sakit seperti ini.”

“Lalu kami harus bagaimana, Ustaz?” Karman mulai cemas.

“Meminta kepada Allah, Pak, Bu, hanya Dia yang dapat menyembuhkan sakitnya Kiara. Saya hanya menjadi perantara. Semoga pengobatan Kiara melalui air putih itu bisa membantunya, beruntungnya guna-guna yang dikirimkan belum terlalu parah.”

Karman bergeming di tempatnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih atas bantuannya, Ustaz,” ucapnya singkat.

Setelah itu Ustaz Akbar segera berpamitan karena menurutnya pembicaraan mereka sudah cukup.

Sepeninggalan Ustaz Akbar, Karman mengajak Susanti kembali menemui Kiara. Sesampainya di sana, Susanti mengelap peluh yang membasahi pelipis Kiara dengan kehati-hatian. “Semoga ujian ini segera kita lalui. Allah nggak tidur, Ki. Kamu tidak boleh berburuk sangka. Selama kita meminta kepada-Nya, pasti Allah akan memberikan jalan keluar.”

Waktu demi waktu yang Kiara lalui setelah jatuh sakit memang dipenuhi nasihat hingga ceramah ringan dari orang tuanya. Semuanya mengingatkan Kiara untuk tidak memutuskan doa dan meninggalkan ibadah.

“Bu, Allah nggak akan salah menentukan takdir, kan?” tanya Kiara setelah bungkam selama berjam-jam.

“Itu sudah pasti, Nak!” jawab Susanti.

Kemudian, mereka kembali terdiam dan membiarkan lantunan doa serta bacaan zikir memenuhi ruang dalam hati. Begitupun juga dengan Kiara yang tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Keesokan harinya, Karman menelepon Ustaz Akbar untuk memberi kabar bahwa saat ini kondisi Kiara sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dia juga mengatakan bahwa tidak peduli lagi pada pelaku yang telah membuat putrinya sengsara.

Kini perempuan berhidung mancung itu mulai mampu berjalan tanpa bantuan siapa pun. Dia juga sudah bisa duduk di ruang tamu walaupun intensitasnya masih sedikit. Setidaknya semua usaha mereka mulai membuahkan hasil.

Hingga tepat pada minggu keempat setelah insiden pemecatan, Kiara sudah tidak merasakan sakit lagi pada tubuhnya. Dia juga masih rutin mengonsumsi air putih yang Ustaz Akbar berikan.

“Bu, alhamdulillah Kiara sudah sembuh. Dada Kiara nggak nyeri kayak kemarin-kemarin dan sekarang juga Kia udah bisa jalan,” ucap Kiara sembari memeluk ibunya yang masih menyiram bunga di samping rumah.

“Ibu juga bersyukur kalau kamu—”

Perkataan Susanti terpotong oleh dering ponsel dalam saku Kiara.

“Halo, benar ini dengan Ibu Kiara?” ucap seorang perempuan dari corong telepon.

“Halo, benar dengan saya sendiri. Mohon maaf sebelumnya, tapi ini siapa?” tanya Kiara lirih sambil menatap mata ibunya. Kemudian dia menyalakan fitur speaker agar ibunya dapat mendengar pembicaraan mereka.

“Perkenalkan saya Agustina, wakil kepala sekolah SDN 3 Melati Jaya. Jika Ibu Kiara memiliki waktu luang, saya ingin berbicara secara tatap muka besok pukul sepuluh pagi. Saya mendapatkan nomor Ibu atas rekomendasi teman saya yang kebetulan mengenal Ibu Kiara,” jelasnya panjang lebar. “Saya sedang membutuhkan bendahara baru untuk sekolah yang sedang kami rintis ini. Jadi silakan membawa persyaratan lengkap seperti pada umumnya.”

“Terima kasih banyak, Bu Agustina. Besok saya akan datang,” jawab Kiara dengan mantap. Kemudian sambungan telepon pun terputus.

Mata Kiara berkaca-kaca, dia tersenyum dan membiarkan bulir bening merembes dari sudut-sudut matanya. Dia kembali memeluk ibunya lalu berbisik, “Benar apa yang selama ini telah Ibu katakan.”

 

#KisahReligi