Hujan Luka

https://cdn.pixabay.com

Orang-orang berlarian. Lintang pukang menghindar. Masuk ke dalam rumah, di bawah pohon rindang, atau tempat terdekat yang beratap. Ini menakutkan!

Setelah sekian lama kemarau mencengkeram seluruh kota, hujan memang benar datang. Diawali suara gemuruh bersahutan dari kejauhan, akhirnya hujan tiba.

Namun ternyata hujan yang datang begitu janggal. Bukan air. Tapi bilah-bilah bambu dan duri. Seolah hujan ini khusus datang untuk melukai. Terang saja orang-orang begitu ketakutan. Siapa yang bisa bertahan di luaran saat bilah bambu yang menyayatkan sembilu, duri-duri tajam yang sanggup mengoyak kepala, dan hunjaman keduanya dari angkasa, berhamburan sebagai hujan.

Suara-suara hujan yang menghantam atap rumah terdengar berkerontangan. Jauh lebih ribut dibandingkan terjangan angin ribut. Beberapa orang yang tidak cepat berlindung kontan saja terluka. Ada yang terluka di bagian kening terkena sayatan sembilu. Ada yang pundaknya berdarah terserempet duri. Ada juga yang menjerit-jerit ngeri saat sembilu dan duri-duri menancap kuat di leher dan punggung.

Ini hujan luka! teriak beberapa orang hampir bersamaan di sebuah halte bus kota.

Telpon rumah sakit dan pemadam kebakaran! Hujan luka ini sangat berbahaya! Suara lain menimpali dari balik jendela rumah dan gedung apartemen.

Suasana mendadak gaduh tak karuan. Mobil ambulan meraung-raung meminta jalan di antara derasnya hujan luka. Banyak laporan orang terluka yang harus ditangani secepatnya. Mobil pemadam lebih kencang lagi sirinenya. Membelah kepekatan jalan yang samar. Hujan luka juga menimbulkan kabut. Barangkali semacam kabut duka.

Kegaduhan menjalar di mana-mana. Selain ambulan dan mobil pemadam, tidak ada satupun kendaraan yang berani bergerak di jalanan. Permukaan aspal dipenuhi oleh duri dan sembilu yang setiap waktu bisa merobek ban. Mobil ambulan dan pemadam tadi bisa selamat hanya karena sembilu dan duri belum banyak berjatuhan di jalanan.

Selokan dan parit jelas tak bisa mengalirkan hujan luka. Benda-benda luka itu tak bisa mengalir seperti air. Alhasil selokan dan parit tentu saja langsung buntu. Daun-daun pada semua pohon berlubang-lubang diterjang duri. Sementara batangnya nyaris hancur disayat-sayat sembilu.

Hujan luka ini benar-benar dahsyat. Pihak berwenang terpaksa mengumumkan situasi darurat. Dilarang keluar rumah apabila tidak dilengkapi perlengkapan khusus anti hujan luka. Entah ini maksudnya apa tapi semua orang mematuhinya. Siapa sih yang mau terluka?

Lagipula payung biasa sama sekali tak berguna. Mudah tersayat sembilu dan gampang ditembusi duri. Orang-orang enggan keluar rumah. Mereka tidak tahu kapan hujan luka itu datang lagi. Lagipula ini memang musim hujan. Bisa jadi hujan luka itu akan terjadi setiap hari.

Kalaupun terpaksa harus keluar, orang-orang membawa payung “tak biasa”. Sebuah payung hasil modifikasi dari kain kemudian dilapisi lagi dengan lembaran karet. Kebanyakan karet ban bekas yang mudah didapat. Payung yang aneh tapi bermanfaat. Sembilu dan duri sulit menembus karet. Orang-orang menamai payung aneh ini payung “bela sungkawa”.

----

Hujan luka terus terjadi. Setiap kali hujan turun, selalu saja sembilu dan duri yang berjatuhan dari langit. Orang-orang mulai putus asa. Mereka mungkin bisa menghindari luka tapi bagaimana cara membersihkan tumpukan sembilu dan duri yang makin lama makin menumpuk di mana-mana.

Akhirnya ada kabar baik dan kabar buruk untuk memecahkan masalah hujan luka. Kabar baiknya, hujan luka itu bisa dihentikan asal langit berhenti berduka. Kabar buruknya, bagaimana cara menghentikan duka langit?

Setelah melalui perundingan yang berliku-liku berdasarkan pada banyak teori tentang luka dan duka, diputuskan bahwa duka langit bisa dihentikan dengan banyak menampilkan tawa. Juga mengirim rasa bahagia ke atas sana.

Para sukarelawan mengumumkan ke seantero kota. Meminta semua penduduk kota agar tertawa sebanyak-banyaknya. Termasuk menghimbau kepada siapapun yang bahagia agar mengirimkannya ke langit dengan cara apa saja. Pesta, berdoa atau entah ritual apa.

Di sela-sela hujan luka yang terus membabi buta, ramailah kota dengan tawa. Siapapun berusaha tertawa sekeras-kerasnya. Tak peduli tua, muda, perawan, perjaka, semuanya tertawa. Tak peduli ada yang ibunya baru saja dimakamkan, rumahnya roboh setelah terkena gusuran, anaknya tak bisa melanjutkan sekolah, semua orang memaksakan diri untuk tertawa.

Beberapa orang yang merasa hidupnya berbahagia, mengirimkan bahagianya ke langit. dengan cara apa saja yang menurut mereka bisa. Berharap sangat langit tertulari bahagia dan segera menghentikan dukanya.

Sepertinya cara-cara itu menampakkan hasil. Hujan luka berhenti. Mendung hitam pergi dan langit berwarna cerah kembali. Orang-orang bersuka. Merayakannya dengan tertawa bahagia.

Setelah memastikan memang hujan luka tak datang lagi, buktinya hujan yang datang hari ini adalah benar-benar hujan air, mereka segera membersihkan semua tumpukan sembilu dan duri di setiap sudut kota.

Pemandangan yang menakjubkan sekaligus mengerikan. Begitu banyaknya sembilu dan duri yang jatuh dari langit yang berduka. Luar biasa!

Langit sudah terlalu lama sakit hati. Begitu seseorang berkata.

Benar. Juga terlalu banyak dilukai. Sambung yang lain tak mau kalah berteori.

Yang benar adalah karena langit terlalu banyak dijejali polusi. Kali ini yang bicara adalah ilmuwan. Ada benarnya. Tapi kenapa yang jatuh bukan hujan asam?

Orang-orang sudah menghentikan tawa dan juga stop mengirim bahagia. Menurut mereka semua sudah cukup.  Langit terlihat begitu penurut. Lagipula sudah 3 hari tak ada turun hujan. Proses pembersihan sembilu dan duri telah selesai. Sepertinya hari dan cuaca normal kembali. sudah saatnya kembali menjadi tidak peduli.

----

Beberapa hari kemudian. Saat semua situasi sudah kembali tenang. Hujan yang telah berjeda beberapa lama menghilang, kembali datang. Didahului suara gemuruh seolah langit hendak runtuh, hujan turun dengan deras. Orang-orang yang masih trauma sempat merasa cemas kalau akan terjadi hujan luka lagi. Tapi ternyata kecemasan mereka tak beralasan. Tak ada lagi hujan sembilu atau duri.

Orang-orang tak ada yang berlarian. Tak ada pula yang lintang pukang menghindar. Tak ada yang masuk berlindung ke dalam rumah, di bawah pohon rindang, atau tempat terdekat yang beratap. Meskipun pada akhirnya beberapa orang menyadari ada yang aneh pada hujan kali ini.

Tidak ada air yang diturunkan langit. Tapi daun, kertas, bunga, dan uang! Tak terhitung banyaknya benda-benda tersebut berjatuhan dari langit. Penduduk kota yang semula terpana dan takut-takut, tiba-tiba menjadi begitu bergembira. Hujan aneh itu membuat mereka tertawa bahagia. Tergelak-gelak. Tanpa henti. Mungkin langit balas budi. Pikir mereka sambil terus berebut mengumpulkan uang dalam pundi-pundi.

Aktifitas kota terhenti. Semua orang sibuk mengumpulkan hujan uang di halaman, di atap, di lorong-lorong, di semua tempat terbuka.

Semua orang menjadi begitu berbahagia. Tak henti-hentinya mereka tersenyum lebar dan tertawa-tawa. Ini luar biasa.

Dan itu terjadi berhari-hari. Keinginan untuk selalu tertawa tak bisa dihentikan! Mulut terbuka lebar tapi sorot mata dipenuhi kengerian. Tawa sudah tak bisa lagi dikendalikan!

Terjadilah wabah tawa yang menggila.

Mereka sama sekali tak menyadari bahwa setelah lepas dari dukanya, langit mengganjar penduduk kota dengan hujan gila. Sebagai balas budi atas tawa mereka yang sebelumnya berpura-pura. Demi menghilangkan hujan luka.

------