Lima Hari di Rumah Sakit

Foto : pinterest

Ini hari kedua Nisrina berada di rumah sakit, ia duduk menekuk kaki, sesenggukan di atas ranjang. Meratapi nasibnya. Sejam yang lalu, setelah menuntunnya berwudu untuk shalat, Ibunya berpamit pulang mengambil kebutuhan. Dipeluknya kedua kaki, lantas membenamkan wajah diantara rongga kaki dan dada.

Tepatnya hampir dua bulan yang lalu, sebuah kejadian naas menimpanya saat pulang dari kampus. Nisrina diperkosa oleh sekawanan preman di sebuah gang terpencil, dengan cepat pelaku kejahatan itu tertangkap dan mendekam di penjara. 

Namun, sebulan setelahnya Nisrina tak mendapati tamu bulanan. Ia panik, diam-diam membeli sebuah test pack untuk mengetahui keadaannya. Teriakan kencang seketika mengagetkan kedua orang tuanya. Alangkah terkejutnya sang ibu, ketika mendapati alat tes di tangan Nisrina yang menunjukkan dua garis. 

Frustasi, putus asa, serta kesedihan menjadikan Nisrina selalu murung dan tak pernah keluar rumah. Hingga suatu sore, ibunya histeris ketika menemukan Nisrina sedang menenggak cairan pembersih toilet. 

Nisrina muntah tak terkendali, wajahnya memerah, seluruh tubuhnya lemas. Tanpa pikir panjang, ia segera dibopong sang ayah ke rumah sakit agar segera mendapat pertolongan. 

Penanganan tim medis yang cepat, membuatnya selamat dari maut, tetapi Nisrina malah semakin marah dan memukul-mukul sang ayah. Ia tak ingin hidup menanggung malu, tak mau jadi aib keluarga. Kedua orang tuanya berjanji akan menemukan cara untuk membuatnya tak dikucilkan. Entah, harus bagaimana. 

Suara seorang nenek di balik kelambu ranjang sebelah mengagetkannya. 

"Kamu seharusnya bersyukur, Nduk. Tuhan masih memberi kesempatan buatmu melanjutkan hidup." 

Nisrina terkaget, menengadahkan wajah dan mengusap air mata cepat lalu menoleh pada sumber suara, tepat di ranjang sebelah kanannya. Ia menggeser tubuh dan meraih kelambu, lantas menyeretnya untuk membuka. 

Tampak seorang nenek, berbaring di atas ranjang dengan selang infus melingkar di hidung. Nisrina melengkungkan senyum untuk menyapa. 

"Kamu tahu, usia saya sudah hampir 90 tahun. Bahkan, saya selalu berdoa agar terus dipanjangkan umur," tutur nenek itu kembali. 

Nisrina menunduk, seakan malu sudah mencoba bunuh diri. Menyalahi takdir hidupnya. 

"Segala sesuatu yang terjadi pada kita, tak pernah lepas dari ketentuan-Nya. Bagimu, itu aib. Namun, pernahkah kamu memikirkan bagaimana pedihnya Maryam, ketika harus menerima takdirnya untuk mengandung Nabi Isa tanpa seorang ayah?"

Nisrina kembali terisak, ia ingat betul kisah itu. Bahkan, berkali-kali ia mengulang cerita itu untuk dibawakan saat mengajar KKN di sekolah. 

Nenek itu tersenyum menatapnya, Nisrina semakin terenyuh, mengucap terima kasih. Lantas, menutup wajahnya dengan telapak tangan, seakan menyesali segala perbuatannya. 

"Mbak, kenapa nangis?" Suara perawat  mengejutkannya. Sontak ia membuka tangan.

"Tadi sepertinya saya lihat Mbak Nisrina sedang ngobrol, sama siapa?" tanyanya kembali. 

"Sama nenek di sebelah." Nisrina menoleh ke kanan, ia tercengang. Kelambu yang tadi terbuka lebar, kini sudah menutup sempurna. Entah, sejak kapan. 

"Di kamar ini, hanya ada Mbak Nisrina yang mengisi ranjang. Dua ranjang lainnya kosong. Jangan terlalu banyak melamun, Mbak." 

Penjelasan perawat itu membuat Nisrina terdiam, keningnya mengkerut seolah tak percaya. Ia melirik kelambu itu lagi. Nisrina bukan wanita penakut, hal seperti itu takkan mengoyahkan imannya. 

Setelah mengecek tubuh Nisrina, perawat itu pun pergi. 

Nisrina terdiam sedikit lama, lalu bergumam sendiri, 'Terima kasih, berkatmu aku akan lebih tegar menghadapi semua ini.' Ia mengambil ponsel di atas meja besi pasien, tak lupa mengambil dan mengalungkan jilbab pada leher yang tersampir di besi ranjang. Membuka aplikasi Alquran dan mencari Surat Maryam. Lantas, melantunkan dengan suara merdunya. 

***

Hari berikutnya, keadaan Nisrina mulai membaik. Ia terlihat lebih sehat dan ceria, selalu tak lupa untuk tadarus sehabis shalat. Ayah dan ibunya pun terlihat bahagia melihat perubahan putrinya secepat ini. 

Hingga hari kelima, dokter sudah mengijinkannya untuk pulang. 

Ibunya segera bersiap menata segala barang bawaan dalam tas. Seorang perawat berada dalam ruangannya, melepas selang infus dan mengurus surat-surat administrasi pada keluarga Nisrina. 

"Nduk, Ayah dan Ibu sudah sepakat, akan membawamu ke sebuah pesantren di desa. Biar kamu bisa lebih tenang, tanpa memikirkan gunjingan orang-orang di sini. Kami sudah menghubungi pihak mereka."

Nisrina menganga, terkejut. Ia menggeleng. Tenggorokannya mulai bergetar, menahan isakan. 

"Aku nggak mau, Yah. Aku nggak bisa hidup jauh dari kalian. Apa Ayah dan Ibu malu dengan keadaanku?"

Kedua orang tuanya saling berpandang, bingung. Harus menjelaskan seperti apa agar putrinya tak tersinggung. 

"Pak, Buk, tak usah jauh-jauh membawa Nisrina ke pelosok desa. Bawa saja Nisrina ke rumah saya," ucap perawat lelaki dengan name tag Fahri, yang masih sibuk mencoret-coret tumpukan kertas di tangannya. 

"Apa maksudmu, Nak?" tanya Ibu Nisrina. 

"Saya telah jatuh cinta pada Nisrina, saat dia melantunkan ayat suci. Saya bersedia menjadi ayah untuk anaknya."

#kisahreligi

Sidoarjo, 23 Januari 2021