Doa Ibu dan Shalawat Nariyah Mengantarnya Menuju Negeri Sakura

Sumber: Pinterest

Subuh baru saja berlalu. Masih mengenakan mukena gadis itu menatap diam-diam ibunya yang sibuk menyiapkan sarapan pagi di atas meja. Ah, Ibu. Sepagi ini semuanya sudah terhidang lengkap. Sepiring nasi goreng, segelas teh panas, dan sebutir vitamin C.

Sedari dulu ibunya memang selalu begitu. Selalu bangun lebih pagi dari seluruh penghuni rumah. Tidurnya hanya sebentar. Terutama sejak wanita setengah baya itu mengeluh dadanya sering terasa sakit.

Perlahan gadis itu melepas mukena lalu melipatnya ke dalam gulungan sajadah.

"Sudah membaca shalawat nariyah?" ibunya menegur seraya membuka jendela ruang tamu. Membiarkan udara pagi yang sejuk menguar memenuhi ruangan.

"Sudah," gadis itu menjawab dengan anggukan kepala.

Ya. Seperti yang diajarkan ibunya. Sejak kecil, gadis bernama Risma itu selalu menyelipkan shalawat nariyah di antara doa-doa yang ia unggah ke hadapan Allah.

Risma masih belum lupa kapan pertama kali ibunya memperkenalkan bacaan shalawat ini. Kala itu ia baru duduk di bangku kelas 1 SD. Sepanjang jalan saat mengantarnya menuju sekolah, sembari menuntun lengannya yang kurus sang ibu melantunkan shalawat nariyah berulang kali. Risma sangat senang mendengarnya. Suara ibunya yang lembut dan merdu terasa benar menyejukkan hati.

Sampai lambat laun Risma kecil hafal di luar kepala larik-larik bacaan shalawat itu. Ibunya lantas menyarankan agar ia membacanya setiap kali usai menjalankan sholat wajib.

"Ibu, mengapa kita mesti membaca shalawat nariyah setiap hari?" Risma kecil pernah bertanya demikian.

"Karena shalawat ini banyak keutamaannya, Nduk. Di antaranya sebagai pembuka pintu rezeki, mempermudah urusan, mengijabahkan keinginan, dan melindungi keselamatan kita." Ibunya menjelaskan. Risma kecil mengangguk paham.

Bukan cerita dusta jika pada kenyataannya Risma kecil menjadi saksi dahsyatnya keutamaan shalawat nariyah ini. Dari istiqomah membaca shalawat ini ibunya yang harus menghidupi sendiri empat orang anak dan hanya bekerja sebagai guru bimbel rumahan rezekinya mengalir deras. Murid-muridnya terus bertambah. Hingga --- pernah murid-murid itu harus rela duduk menggelar tikar di lantai dapur karena daya tampung rumah yang tidak mencukupi.

Risma juga menjadi saksi, ibunya selalu mengajak anak didiknya untuk khusuk melantunkan shalawat nariyah bersama-sama setiap jelang menghadapi Ujian Nasional. Dan, alhamdulillah, siswa-siswi bimbingan ibunya itu selalu lulus dengan nilai memuaskan.

Terhadap kakak-kakak Risma sang ibu juga mewajibkan hal yang sama. Rutin mengamalkan bacaan shalawat nariyah agar senantiasa dipermudah segala urusan.

***
Kini gadis bungsu itu telah berusia 20 tahun. Ia juga merasakan sendiri betapa dahsyatnya kekuatan shalawat nariyah terhadap kelangsungan hidupnya.

Kisahnya begini. 

Beberapa bulan terakhir ini Risma menghadapi masalah pelik. Keberangkatannya menuju Kanazawa untuk meraih S2, nyaris tertunda lagi. Apalagi kalau bukan karena virus Corona yang membuat Jepang memberlakukan aturan ketat bagi warga asing yang hendak masuk ke negerinya. Termasuk para mahasiswa peraih beasiswa.

Aturan ketat tersebut adalah setiap mahasiswa asing wajib menjalani karantina selama 2 minggu plus tes swab sebanyak 2 kali. Dan, untuk biayanya ditanggung sendiri oleh pihak mahasiswa.

Berapa total biaya itu? Risma telah dikirimi rancangannya melalui email. Sekitar 20 juta!

Duh, alangkah mahal nian. Dari mana ia mesti mendapat uang sebesar itu dalam waktu dekat? Ya. Keberangkatannya tinggal 2 bulan lagi. 

Mengadu kepada ibunya jelas tidak mungkin. Apalagi ibunya kini sudah tidak mengajar bimbel lagi. Ibunya kini telah mengisi hari tuanya dengan kesibukan menulis dan membantu dokter dengan gaji yang tidak seberapa.

Dalam kegundahan hati yang amat sangat gadis itu tiada putus membaca shalawat nariyah di setiap akhir doanya. Ya, Allah, Rabbul izzati. Kepadamu hamba berserah diri. Berikan yang terbaik menurut panjenengan .... Amin.

Namun, selain berdoa manusia diwajibkan pula berusaha. Gadis itu tak hendak menyerah begitu saja. Ia pun mencoba menyurati pihak Universitas tempat di mana dirinya meraih gelar S1 dan dinyatakan sebagai lulusan terbaik. Ia mohon diberi petunjuk dan solusi terbaik harus bagaimana. 

Nihil. Usahanya sia-sia. Tidak ada tanggapan maupun respon menggembirakan.

Sejenak mendung menggelayuti wajah mungilnya yang manis.

Teruslah berjuang anakku. Allah pasti menolongmu. Doa ibu menyertaimu. 

Demikian ibunya tak lelah memberi semangat dan kekuatan.

Lalu gadis itu mencoba peruntungan lagi. Kali ini ia menghubungi pihak Universitas Kanazawa tempat menggantungkan impiannya. Alhamdulillah, usahanya mendapat tanggapan positif. Seorang supervisor Universitas menaruh peduli pada kesulitannya. Beliau --- supervisor baik yang asli orang Jepang itu bersedia memberi pinjaman untuk biaya karantina dan tes swab yang bisa diangsur selama 2 tahun. Bahkan sang supervisor menyampaikan jika ada kesulitan apapun sehubungan dengan masalah perkuliahan, pihaknya siap membantu.

"Allahumma sholi sholaatan kaamilatan wasallim salaaman, taamman 'alaa sayyidina muhammadinil ladzii ...."

Sontak gadis bungsu itu melakukan sujud syukur.  Allahu Akbar. Subuh ini ia ingin melantunkan shalawat nariyah lebih khusuk dari biasanya. Ia juga ingin mencium tangan keriput ibunya lebih lama lagi.



***

Malang, 23 Januari 2021

Based on true story