Episode Lukisan

https://cdn.pixabay.com

Shinta, perempuan pemilik pub itu menujukan padangan ke sudut ruangan.

Lelaki itu menenggak slokinya yang ketiga. Matanya mengitari ruangan yang mulai digaduhi suara-suara dengungan dan bisikan.

Pub ekslusif di pusat kota itu mulai ramai oleh pengunjung. Sabtu malam, selalu begitu. Pasangan demi pasangan bergantian datang. Duduk di meja dan kursi yang memang didesain untuk berduaan.

Lelaki itu memandang kursi kosong di hadapannya. Matanya sedikit mengembun namun dengan cepat diluruhkannya dengan sekali tenggak satu sloki minuman. Satu lagi, lalu tambah lagi. Sampai akhirnya mata lelaki itu berhasil menciptakan bayangan seorang perempuan yang kini duduk di hadapannya. Serupa hologram. Tapi lelaki itu menyukainya.

“Akhirnya kau datang...” lelaki itu mendesis lirih.

Perempuan itu hanya memandang dengan tatapan rumit dan sulit diartikan.

“Bicaralah! Bukankah tempat ini selalu menyukaimu? Sama seperti kau sangat menyukai tempat ini. Sama seperti aku yang menyukaimu ada di tempat ini,” ucapan lelaki itu sedikit serak. Membawa serta pedih yang entah ada pada level berapa.

Lelaki itu menambah tegukan slokinya. Bayangan perempuan itu semakin memadat. Tidak lagi menyerupai hologram. Tapi perempuan itu tetap diam.

“Kalau kau terus diam, aku akan memaksamu bicara dengan terus menambah minuman ini. Kau akan semakin nyata bagiku. Walau kau terus saja berusaha gagu,” kali ini lelaki itu bicara dengan nada sedikit kasar.

Para pelayan dan pengunjung cafe tidak ada yang terganggu dengan ulah lelaki berambut panjang dengan dandanan lusuh itu. Sudah biasa. setiap malam minggu, lelaki itu selalu datang minum-minum di pub sembari tak habis-habis menggerutu.

Dan memang lelaki itu tidak mengganggu siapapun. Dia hanya minum sambil melakukan aktifitas rutinnya. Para pelayan membiarkannya karena lelaki itu selalu membayar minumannya. Bahkan selalu ditambah dengan uang tip yang terkadang membuat para pelayan geleng kepala. Lelaki itu mungkin gila namun dia kaya raya.

Di kursi kosong di hadapannya, diletakkan sebuah kanvas lukisan kosong. Meskipun sembari menggerutu dan bicara tak karuan, namun setiap kali pub itu mau tutup, lukisan itu selalu berhasil diselesaikannya.

Lukisan seorang perempuan cantik yang sama dengan berbagai ekspresi di raut mukanya. Minggu ini nampak bersedih. Minggu lalu begitu ceria. Sedangkan bulan lalu terlihat sangat lembut menawan hati. Bagi orang yang paham ekspresi wajah, lukisan-lukisan itu seperti sebuah episode bersambung yang menceritakan sesuatu.

Setiap kali pulang dalam keadaan mabuk, lelaki itu tidak pernah membawa lukisannya pulang. Meskipun dengan tubuh terhuyung-huyung, lelaki itu selalu berhasil selamat tiba di rumahnya yang tidak jauh dari pub itu. Jarak tak lebih dari 100 meter ditempuhnya nyaris satu jam. Diselingi jatuh terduduk, atau muntah-muntah di trotoar.

Shinta menyimpan semua hasil lukisan di ruang kasir. Pernah ada pengunjung yang menawar lukisan indah itu untuk dibeli. Tapi Shinta tidak berani menjualnya. Dia sangat menghargai lelaki pengunjung tetap pubnya itu.

Entah kenapa, di balik sikapnya yang nampak kurang waras, lelaki itu sepertinya menyimpan sebuah rahasia besar. Apapun itu, lukisan luar biasa si lelaki memang tidak berhak dijualnya kecuali lelaki itu memberikan persetujuan atau atas kehendaknya sendiri.

-----

Sudah 3 bulan berlalu semenjak lelaki itu menjadi langganan di pubnya. Sudah pula 12 lukisan tersimpan rapi di ruang kasir. Lukisan realis yang begitu cantik dan indah. Shinta sebenarnya ingin memajang lukisan itu di dinding pub. Tapi dia tahu harus meminta ijin dulu dari lelaki itu.

Malam minggu. Shinta sengaja menunggu di meja kasir. Tak lama lagi lelaki itu pasti datang.

Benar saja. Pintu pub terbuka. Tanpa mempedulikan sekitar, lelaki itu ngeloyor langsung ke tempat duduk di sudut yang di atas mejanya telah bertanda reserve.

Shinta memang selalu memasang tanda itu setiap malam minggu agar tidak ada yang menempati. Meja di sudut itu khusus untuk lelaki pelukis yang misterius itu.

Lelaki itu meletakkan kanvas lukisan di kursi di hadapannya seperti biasa. Memanggil pelayan untuk memesan minuman. Sekaligus beberapa sloki. Pelayan agak heran. Biasanya lelaki itu memesan satu per satu.

Shinta beranjak menghampiri setelah dilihatnya lelaki itu duduk tenang menikmati minuman pertamanya. Shinta sempat memperhatikan isi meja. Beberapa sloki minuman, sebungkus rokok dan plastik kecil berisi beberapa pil. Mungkin obat, pikir Shinta.

“Mas, Bang,...eh Kang, saya Shinta pemilik pub ini. Boleh berbincang sebentar?” Shinta agak gugup. Lelaki ini ternyata sangat menarik!

Lelaki itu menatap Shinta agak lama. Wajahnya dingin saat menjawab datar,”iya, ada apa mbak?”

“Begini, lukisan Mas itu bagus-bagus banget. Banyak yang menyukainya. Malah ada juga yang menawar ingin membelinya. Saya simpan di ruang kasir selama ini. Bagaimana kalau lukisan itu saya pajang di dinding pub? Saya rasa para pelanggan akan menyukainya.”

Lelaki itu menghela nafas agak panjang. Suaranya tetap dingin.

“Boleh mbak. Sesuka mbak saja. Lukisan ini memang saya peruntukkan bagi pub ini. Simpan atau pajang, itu sudah menjadi hak mbak sebagai pemilik tempat ini.”

Shinta tidak mengerti. Tapi paling tidak lelaki itu telah mengijinkan memajang semua lukisannya.

Shinta sudah hendak membalikkan tubuh ketika lelaki itu berkata.

Mbak kalau pasang di dinding tolong urutkan sesuai dengan waktunya ya. Malam ini episode terakhir dari 13 episode lukisan saya mbak,” setelah menyelesaikan ucapannya lelaki itu menenggak habis satu sloki minuman. Mulai melukis. Tak peduli lagi dengan Shinta.

Shinta hanya mengangguk. Tetap tidak mengerti. Membalikkan tubuh dan memberi perintah untuk memajang semua lukisan di dinding kepada anak buahnya.

----

Sementara lelaki itu terlihat begitu masyuk dengan minuman dan lukisan, Shinta sibuk memberi komando pemasangan lukisan sesuai dengan urutannya.

Setelah memperhatikan dengan seksama satu persatu lukisan yang dipajang, barulah Shinta paham apa yang dimaksud dengan episode oleh lelaki itu.

Lukisan pertama yang dibuat menggambarkan seraut wajah perempuan yang tertawa bahagia dengan mata berbinar-binar. Di sudut bawah lukisan terdapat kalimat; ini minggu pertama aku menemanimu menjalani episode singkat kebersamaan kita. Aku bahagia melihatmu begitu bahagia.

Di lukisan kedua, perempuan itu tersenyum. Masih dengan bahagia. Tapi tatapan matanya sedikit meredup meski dipenuhi aura cinta. tertulis kalimat di sudut bawah; aku lega kamu masih bsia tersenyum bahagia. Ini sangat berarti bagiku.

Di lukisan ketiga, senyum itu memudar. Digantikan sudut mulut yang nampak kesakitan dengan mata mulai kehilangan cahaya. Masih terdapat kalimat yang diukir indah oleh lelaki itu: aku tahu rasa sakit itu mulai menghilangkan senyummu. Tapi aku akan tetap menemanimu.

Lukisan demi lukisan berikutnya semakin jelas memperlihatkan perubahan mimik wajah perempuan yang jatuh dalam kesakitan dan kepedihan yang mendalam.

Shinta sedikit mengrenyitkan alisnya saat memperhatikan lukisan ke-12. Muka perempuan itu sepucat mayat. Matanya tertutup rapat dengan lintasan airmata membasahi pipinya yang cekung. Namun senyum kembali di mulut perempuan itu. Senyum tipis yang seolah berucap selamat tinggal.

Shinta sedikit memajukan tubuhnya agar bisa membaca kalimat panjang dan berukuran kecil pada lukisan; ini minggu ke-12. Kau memenuhi janjimu untuk menyelesaikan 12 episode lukisanku tentangmu. Terimakasih. Selamat tinggal kekasih. Meski Leukimia telah merenggutmu, tapi percayalah, aku tidak akan jatuh dalam pilu. Pada episode lukisan ke-13, aku akan segera menemanimu.

Shinta tercenung. Dia memahami semuanya sekarang. Ini adalah kisah kasih lelaki itu bersama kekasihnya yang sepertinya terserang penyakit langka dan mematikan bernama Leukimia.

Shinta menghela nafas panjang dan mengusap sedikit genangan yang melewati sudut matanya. Episode ke-13 adalah malam ini. Shinta terlonjak kaget!

Buru-buru pemilik pub ini berlari menuju ke sudut ruangan. Lelaki itu terkulai lunglai di kursinya dengan mulut berbusa. Sepasang tangannya yang mulai mendingin dengan kokoh memegang lukisan terakhirnya. Lukisan ke-13. Lukisan yang menggambarkan wajah perempuan yang tersenyum manis berdampingan dengan wajah lelaki yang berbinar-binar bahagia. Wajah lelaki misterius itu.

Sambil memeriksa denyut nadi si lelaki, Shinta membaca kalimat di sudut bawah lukisan; aku memenuhi janjiku untuk menemanimu di episode ke-13 lukisanku. Kita akan bersama lagi di sana. Dan di sini, episode lukisan kita dipajang di dinding pub tempat pertama kita berjumpa. Tempat ini sangat menyukaimu. Sama seperti kau sangat menyukai tempat ini. Sama seperti aku yang menyukaimu ada di tempat ini.

Kali ini, Shinta tak sanggup menahan sungai yang mengalir deras dari matanya.

-----------