K a l a p

Ilustrasi(Pixabay.com)

Kalap menggambarkan kondisi orang yang sedang bingung dalam posisi di mana, tak bisa fokus dan tak tahu arah pulang. Biasanya insiden itu terjadi pada tempat atau situs angker dan berhubungan dengan hal mistik.

Awalnya akal sehatku tak sampai nyambung bagaimana kok bisa terjadi seperti itu. Lebih tepatnya, aku tak percaya, kalau ada orang yang kemudian lupa pada dunianya lalu masuk pada alam lain. Apalagi kini era telah maju, zamannya serba diigital. Kalau ada  dunia lain, adanya dunia maya alias alam virtual.

Tak percaya akan mitos kalap, namun apa yang menimpaku sore itu sungguh tak kuduga. Allah seakan menunjukkan bahwa dunia lain itu memang ada. Dan, aku sendiri yang terlibat dalam kasus kalap itu.

Hal yang kualami sore itu, sungguh suasana hati berada dalam  kegalauan. Sebuah kondisi eksternal yang ingin aku menklukkannya. Lewat dialog batin, yang akhirnya membuatku harus berada di tempat yang sama sekali tak  kuduga, di waktu sebelumnya.

Bermula dari beban pikiran yang terbawa usai konsultasi tesis, di siang itu.  Meski di awal-awal kuliah di pascasarjana ini, urusanku berjalan lancar-lancar saja, namun langkahku tersandung masalah di tugas akhir, yaitu saat menyusun tesis. 

Sebenarnya, pengalaman lapang mengajar selama dua puluh tahun, membuat tugas-tugas kuliah di jurusan Manajemen Pendidikan ini seakan mengalir saja. Relatif tanpa hambatan. Apalagi kala momen diskusi atau presentasi, bagiku selalu ada tantangan tersendiri untuk memadukan argumentasi ilmiah. Semua berkait dengan tema pendidikan dan manajemen pendidikan.
Setahun kuliah berjalan mulus, tibalah saat menyusun tesis.

Dengan judul penelitian yang telah direstui oleh pembimbing pertama, aku optimis tugas akhir yang mengantarkan pada gelar magister ini bakal kulalui dengan lancar. Didukung dengan sumber referensi yang memadai, baik berupa buku. Pula,  jurnal ilmiah nasional dan internasional.

Siapnya sumber dengan beberapa hasil penelitian terdahulu pada tema penelitian yang senada, kebayang dalam waktu satu bulan, data sudah bisa kukantongi. Menganalisisnya dan mendaftarkan diri untuk ujian tesis. Pokoknya kebayang semua bakal lancar. Demikian, aku membangun optimisme dan husnuzon pada kemudahan yang Allah berikan. Hingga sore itu saat konsultasi dengan pak Bahar, pembimbing kedua.

"Ini judulnya kurang tepat,  Bu. Saya sarankan diubah ke tema gaya kepemimpinan kepala sekolah," ujar Pak Bahar.

"Maksudnya gimana, Pak? Maaf, judul ini telah disetujui oleh pak Bima, pembimbing pertama," sahutku.

"Tapi ini kurang pas, Bu," tegas dosen itu.

Sejenak aku terperanjat dengan saran itu. Aneh, menurutku. Bagaimana mungkin pembimbing kedua tak sependapat dengan pembimbing pertama, di saat separuh perjalan penelitian ini telah kujalani.

Pula, kalau tidak cocok di judul, harusnya sejak awal keberatan ini sudah dimunculkan, hingga aku dapat mengadaptasi arahannya.

Persoalannya adalah, setiap mau bimbingan, beliau sering tak ada di tempat.  Pesan agar naskah tesis itu ditaruh di meja dan janji akan diperiksa, selulu berujung dengan kekecewaan. Pasalnya, saat konsultasi di hari berikutnya, naskah itu belum dibuka. Hadeh!

"Maaf, boleh saya tahu tentang alasan keharusan mengganti judul ini, Pak? Mengingat judul telah disetujui oleh pak Bima, pembimbing satu," sungutku di siang itu.

Penelitian dengan judul 'Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru di Madrasah Aliah Negeri se-Kabupaten Padangbulan itu memang telah mendapat restu dari pak Bima. Bab dua dan tiga sudah kuselesaikan, bahkan angket telah kusebar di tiga madrasah aliyah negeri di kotaku.

"Kita tidak bisa menjustis tipe kepemimpinan di lembaga X itu transaksional ataukah transformasional. Kalau mau judul itu, harus sudah ada riset sebelumnya yang hasilnya menunjukkan, tipe kepemimpinan di tiga sekolah itu memang  transformasional,"  jelas pak Burhan dengan sedikit emosi.

Upayaku untuk  bertahan pada judul lama di hadapan pak Burhan telah  gagal. Dosen itu tetap keukeuh agar aku mengganti judul.

Esoknya, aku kembali menemui Pak  Bima.  Berharap menemukan titik terang untuk nasib penelitianku. Harapanku, beliau akan memperjuangkan judul awalku. Namun, hal itu tak mudah. Sebuah jawaban dari lisan pak Bima, nyata membuatku harus menelan ludah.

"Gimana ya Bu, saya pakewuh kalau tidak ngikut pak Burhan. Beliau itu senior saya," sahut pak Bima, kala itu

Biyuh!

Alasan apa ini? Perasaan pakewuh yang  menjadi alasan dalam pembimbingan, inikah yang dimaksud profesional?

Ironis. Hubungan senioritas yang membuat seorang dosen pembimbing tidak berdaya hingga memakan korban. Ya, aku merasa menjadi korban. Konyol bukan?

Selepas konsultasi siang itu, akupun pulang dengan seabrek beban. Ibaratnya memikul gunung, sungguh ungkapan ini tidaklah berlebihan. Sepanjang jalan, aneka pertanyaan bermunculan dalam benak. Menyajikan dialog seru dalam suasana bingung bercampur tertekan. 

Dilema. Di satu sisi ada target waktu untuk segera menarik semua angket yang sudah kusebar di tiga sekolah, di kotaku. Lalu menganalisis data dan menuangkannya dalam laporan penelitian. Semuanya tentu tidak mudah. Ataukah aku harus memilih mengganti judul. Bila langkah ini yang kupilih,  sama artinya sama mengulang dari Nol. Sungguh berat yang kurasakan!

*****

Motor yang kukendarai saat pulang dari konsultasi dengan  Pak Bima terus melaju. Entah berapa jarak yang telah kutempuh , jalanan di sore itu kurasakan sepi. Hingga  laju motorku sampai di suatu tempat.

Dalam laju itu, aku seperti terhipnotis. Tak terasa monolog di dalam benakku  sudah berganti  topik. Dari tema judul tesis, kini  topiknya adalah “Paving jalan”. Jalan berpaving itu amatlah menarik bagiku!

Sungguh, aku terpukau dengan rapinya pavingan di jalan itu. Secara otomatis aku menunduk mengamati pavingan itu, tanpa sempat melihat kiri kanan. Merasa aneh saja di benakku, hingga muncul monolog.

Jalanan  selebar ini kenapa hanya dipaving, ya? Kenapa kok tidak diaspal sebagaimana jalan besar pada umumnya?" tanyaku dalam benak.

Pula, jenis paving ini nampak rapi bersih dan indah, pikirku. Demikian pikirku masih dalam lamunan.

Motor terus melaju. Stang kubelokkan ke arah kiri dengan sangat mudah, ketika melewati perempatan. Seperti ada yang membantu membelokkan stang motorku. Semua berlangsung secara otomatis. Motor melaju lurus lemudian belok. Lurus lagi dan belok lagi. Entah sudah belok berapa kali, aku tak menghitung.

Tiba tiba terdengar lantunan suara azan. Sumber suara itu tak pasti asalnya, namun terdengar cukup dekat. Terbukti suara panggilan sholat itu cukup keras. Sesaat aku terhenyak. Bingung berpadu sadar dengan aneka pertanyaan. Pukul berapa sekarang? Azan waktu apakah itu? Dhuhurkah? Asarkah? Aneka pertanyaan muncul bersusulan.

Spontan kutengok arloji di tanganku. Jarum menunjuk ke angka empat. Berarti waktu asar. Aku berusaha menginga-ingat tentang aktivitas di waktu sebelumnya. Muncul pertanyaan lagi. Kalau sekarang waktu Asar, tadi aku sudah sholat dhuhur atau belum tadi? Kalau sudah, dimana sujud itu kulalukan? 

Sejenak memori dalam benak mulai terkuak. Saat teringat, salat dhuhur tadi kulakukan di kampus. Oh, lega. Sedikit tenang membisik dalam hati bahwa aku tidak lalai dalam urusan sholat. Tapi kini aku di mana? Di kampung apa? Lalu,  suara azan tadi keluarnya dari masjid mana?

Ya Allah inikah yang namanya kalap? Dalam bahasa Jawa, kalap  artinya tersesat, bingung tak tahu arah. Aku baru percaya bahwa kasus orang  kalap , seperti yang diceritakan dalam dongeng itu memang ada. Dan kini aku sendiri yang mengalaminya. Astaghfirullah hal adziim...

Lantunan azan sayup kudengar. Panggilan untuk sholat itu telah menyadarkanku dari lamunan yang panjang. Mengingatkanku untuk segera bermunajat kepada Allah. Untuk tunduk bersujud seraya meninggalkan segala kesibukan dunia. Sesaat aku benar-benar sadar. Harus kutemukan, dimana posisiku kini. Berada di kampung apa, di desa apa dan di wilayah mana.

Melaju perlahan, akhirnya motorku sampai pada jalanan yang cukup ramai. Masih berpaving, namun agak sempit. Di sore itu riuh ramai anak-anak yang sedang berlarian main petak umpet. Juga  pemandangan tentang sibuknya ibu-ibu yang sedang menyapu jalan, atau membersihkan halaman rumah mereka. Sebagiannya lagi mengasuh anak mereka, ada yang menyusui ada pula yang menyuapi anaknya.

Sungguh ramai kampung ini, pikirku. Namun tak satu pun orang yang menoleh padaku, semua sibuk dengan urusannya sendiri sendiri, Ataukah mereka tidak melihatku? Entahlah!

Ada keanehan pada kampung yang riuh itu. Semua penghuninya adalah wanita. Tak ada kaum pria, meski seorang pun. Muncul keinginanku untuk bertanya soal nama kampung itu. Namun, perlahan bertiup angin yang membawa rasa malu dan menahanku untuk bertanya. Lagi-lagi, menyeruak monolog dalam benak.

"Jangan bertanya. Nanti kalau engkau ganti ditanya, identitasmu akan ketahuan sebagai orang yang kalap," bisik suara dalam hatiku.

"Benar, katamu, "bisik hatiku yang lain. 

Ya, Aku merasa tak perlu mandeg untuk bertanya. Lagian, wanita-wanita itu begitu sibuknya dengan aktifitas mereka.

"Sudahlah, engkau jalan terus. Fokus mencari info dengan membaca dan membaca. Jangan turun, jangan bertanya," bisik suara dari sudut lain dalam hatiku. 

Motor melaju pelan dengan kecepatan berkisar 20 hingga 25 km/jam. Akhirnya kutemukan sebuah Mushola. Tertulis nama dusun dan desanya. Di sinilah teka teki tentang posisiku terjawab. Meski daerah itu tak begitu kukenal, namun sebutan dusun itu sangat tak asing bagiku.

Ya Allah, kenapa aku sampai di dusun ini? Dusun yang jaraknya kurang lebih dua kilometer dari kampungku. Anehnya, desa itu bukanlah termasuk jalur yang menghubungkan kampus dengan rumahku.

Aneka tanya lantas muncul bersusulan. Tentang di titik mana, aku telah salah memilih jalan hingga tersesat di kampung ini? Lalu ke arah mana aku harus berjalan agar bisa keluar dari gang sempit ini?

Aku berusaha melupakan kebingungan. Motor terus melaju, belok kanan atau kiri tak masalah. Sekedar mengikuti kata hati. Bagiku yang paling penting saat itu adalah bisa keluar dari gang itu untuk bertemu jalan yang lebih besar.

Batinku berdzikir tak terhenti. Bibirku pun komat kamit, berbisik lirih melantunkan aneka kalimah thoyyibah. Berserah diri kepada Alah, berharap dipertemukan jalan keluar.

Tampak di depan dari jarak yang agak jauh lalu lalang kendaraan. Roda dua kadang roda empat pula, sebagai  penanda itu jalan lebar. Kutuju jalan itu dan aku  berhenti di ujung gang sembari baca informasi dan situasi.

Mataku tertuju pada bangunan sekolah dasar. Pada papan board tertulis nama SD tersebut. Identitas sekolah itu menguak  penunjuk arah kemana aku harus pulang.

Terpegang sudah, arah  jalan menuju ke rumah. Aku harus segera pulang, karena sholat Asar belum kutunaikan. Kutelusuri jalan itu, sambil berusaha menemukan, di titik mana tadi aku tersesat. 

Akhirnya, pandanganku tertuju pada pertigaan, sebuah jalan itu berpaving rapi. Cukup lebar memang. Dan... Ya Robbi, ternyata di sisi kanan ada kuburan. 
Sejenak aku berhenti untuk mengamati pertigaan itu.

Cukup ngeri membayangkan bagaimana  motorku bisa belok ke arah kanan tanpa kusadari. Tentunya tanpa berpikir untuk pasang lampu kuning petanda belok. Ya, di pavingan menuju kuburan itu, nyata aku telah disesatkan.

Di titik itulah,  tak kusadari aku telah memasuki perbatasan alam nyata dengan alam lain dan hampir-hampir menuju ke sana. Meski hanya sesaat kualami, insiden yang semula kuanggap hanya mitos, memang benar adanya. 

The true story