Kucing Hitam di Area Pemakaman Mbah Angleng

Sumber:mojok.co

Tidak ada yang tahu dari mana kucing hitam itu berasal. Ia muncul begitu saja. Setiap malam Jumat di area pekuburan Mbah Angleng.

Melalui sorot lampu jalan yang remang-remang beberapa kali Surti memergoki kucing hitam itu duduk tepat di tengah jalan dengan posisi bersila. Persis seperti orang sedang bermeditasi.

Surti yang setiap malam Jumat pulang mengaji dari rumah Umi Khatijah awalnya sangat terkejut, bercampur takut. Tapi lambat laun ia tahu harus bersikap bagaimana jika melintas di area pekuburan tua yang singup itu. Surti akan memperlambat laju sepeda pancalnya lalu turun dan memilih berjalan menepi.

"Assalamualaikum. Nyuwun sewu. Permisi Mbah ...." Surti selalu berkata demikian seraya menundukkan kepala. Surti melakukan hal itu --- uluk salam, sebab ia pernah diingatkan oleh Umi Khatijah bahwasanya bisa saja kucing hitam itu sengaja berada di area cungkup untuk menjaga makam Mbah Angleng, makam sesepuh yang dipercaya sebagai pembabat alas dan pendiri Dukuh Buring.

Tampaknya bukan hanya Surti, beberapa penduduk setempat yang kebetulan lewat di area pekuburan tua itu mengaku pernah berpapasan dengan hewan berbulu hitam itu. Seperti halnya Surti, mereka mengabaikan dan tidak ingin mengusik keberadaannya.

Terkecuali Tarjo. Lelaki usia tigapuluhan itu geram begitu mendengar desas-desus munculnya seekor kucing hitam. Masih terngiang kata-kata guru spiritualnya, bahwa jika ada seekor kucing hitam menampakkan diri di area pekuburan tua maka pertanda akan terjadi kesialan beruntun menimpa orang-orang yang bermukim di kampung sekitaran.

Tarjo lantas mengaitkan dengan kejadian yang telah dialaminya. Ia baru saja dipecat dari pabrik tempatnya bekerja gara-gara terpergok mencuri seperangkat properti kantor. Dan, menurut pemikirannya kesialan itu tentu ada hubungannya dengan kemunculan kucing hitam itu.

Petang itu Tarjo sengaja mencegat Surti yang bersiap berangkat belajar mengaji. Ia mencecar gadis itu dengan beragam pertanyaan.

"Benar kamu pernah melihat seekor kucing di area pemakaman Mbah Angleng, Sur?"

Surti yang hendak mencengklak sadel sepedanya, mengangguk.

"Bulunya hitam?"

Surti mengangguk lagi.

"Apakah matanya ...?"

"Matanya ada dua!" Agak jengkel Surti menjawab pertanyaan Tarjo yang bagaikan muntahan peluru itu.

"Maksudku, apakah matanya berwarna kuning?"

"Mana saya tahu? Kalau Kang Tarjo penasaran ingin melihat mata kucing itu, datang saja sendiri ke area pemakaman Mbah Angleng." Surti gegas menaiki sepedanya. Ia enggan melanjutkan percakapan dengan lelaki yang terkenal suka berjudi dan mabuk-mabukan itu.

***
Bakda Isya Surti pamit pulang. Umi Khatijah mengantarnya hingga pintu pagar. Perempuan paruh baya itu tak lupa mewanti-wanti agar murid perempuannya itu berhati-hati di jalan. Terutama saat melewati area pemakaman Mbah Angleng yang singup dan sepi itu.

Malam itu Surti mengayuh sepedanya lebih cepat dari biasanya. Di separuh perjalanan gerimis mendadak turun. Meski begitu saat melewati area pemakaman Mbah Angleng, Surti memilih turun menuntun sepedanya.

Tapi malam itu terasa ada yang janggal. Surti tidak melihat keberadaan kucing hitam yang biasa duduk bersila di tengah jalan. Kemana ia?

Baru saja akan menaiki kembali sepedanya, terdengar seseorang berseru memanggil namamya.

"Surti!"

Tarjo. Lelaki itu keluar dari rerimbunan semak dan mencegat langkah Surti.

"Mana kucing hitamnya?" Tarjo merampas stang sepeda Surti. Surti terdiam. Ia bingung mesti menjawab apa.

"Dengar, Sur. Kalau kau melihat kucing hitam itu lagi, beritahu aku. Biar aku bantai hewan keparat itu!" Tarjo melepas stang sepeda Surti dan beralih memainkan tongkat kayu di tangannya.

Belum sempat Surti menyahut, mendadak mata gadis itu melihat beberapa bayangan hitam berkelebat di belakang Tarjo.

"Kukira kucing yang kaucari itu sudah datang, Kang!" Berkata begitu Surti gegas menaiki sepedanya. Dikayuhnya pedal sekuat tenaga.

Ya. Surti ingin segera pergi dari area pekuburan tua itu. Ia tidak ingin menyaksikan Tarjo jatuh bergulingan di tanah dikeroyok sekawanan kucing hitam bermata kuning --- yang entah dari mana mereka datang.***